Wednesday, January 7, 2015

Janeta a Hero

Mentari mulai redup, dan menghilang di ufuk barat. Menambah indahnya negeri hijau, yang penuh kedamaian dan keindahan negeri ini. Negeri ini merupakan negeri ideal, karena selain indah negeri ini juga bebas dari polusi. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku, dan menghentikan lamunanku. Sebenarnya sedari tadi aku menunggunya, dan benar saja yang datang adalah ayahku. “ayah akhirnya kau pulang”, ucapku sambil berlari memeluk ayah. Sudah 2 bulan ayah tidak pulang, karena bertugas di ibukota. “ayah-ayah mana oleh-olehku”, rengek adikku yang berumur 4 tahun. “iya ini untukmu, dan ini untuk Janeta”, pinta ayah sambil membagikan oleh-olehnya. “ayah apa besok ayah akan pergi kembali”, tanya ibu kepada ayah “tentu tapi setelah itu ayah akan bertugas kembali di kota ini”,

Aku membuka oleh-olehku dan ternyata isinya adalah sebuah skateboard yang sangat aku inginkan dari dulu. Dan adikku mendapatkan sebuah tas sekolah, “ye… terima kasih ayah”, ucapku kegirangan. “yah kenapa aku medapatkan tas”, pintanya merengek-rengek. “Sebentar lagi kan kamu masuk sekolah jadi sebaiknya oleh-olehnya adalah tas”.
Setelah itu, aku menuju lantai 2 rumahku dan menuju kamarku. Kamarku menjadi satu dengan adikku, karena dia masih belum berani tidur sendirian.

Keesokan harinya, “Janeta bangun sayang kan hari ini kamu ada kemping”, pinta ibu sembari membangunkanku. Aku berjalan menuju kamar mandi, dan setelah itu sarapan bersama ayah, ibu dan juga Sam adikku. “kakak mau kemana”, tanya Sam kepadaku “kakak akan pergi, tidak lama kok hanya 3 hari”. Setelah itu aku pergi ke sekolah dan segera menuju tempat kemping.

“Janet, aku gak sabar nih”, gerutunya berulang kali, “iya-iya”, sesampainya disana, kami segera mendirikan tenda. Sampai malam tiba, dan… petualangan dimulai, ketika aku hendak mencari ranting untuk api unggun bersama Ririn teman dekatku. Tiba-tiba hujan turun, kamipun mencari tempat berteduh. “aduh hujan, gimana ini Janet”, tanya Ririn resah, “sudahlah… lihat itu ada gua mari kita berteduh”, pintaku sambil berlari menuju gua itu. Kami masuk gua itu, tak disangka didalam gua itu terdapat pintu yang bertuliskan. Pintu Negeri Bunga. Kami memutuskan untuk masuk kedalamnya, dan melihat bunga-bunga yang tersebar luas di semua tempat. ” \Janeta, kita ada dimana”, tanya Ririn ketakutan.
“selamat datang di negeri Bunga”,
“si… si..apa kau, dan dimana kami”, tanyaku kepada pria misterius itu,
“aku pangeran Peter dan kalian ada di negeri Bunga”,
“negeri bunga, tapi kami berasal dari negeri hijau”, kataku
“iya, aku tau kau dan temanmu adalah orang pilihan untuk mengeluarkan kami dari kesengsaraan”, gumam Peter panjang lebar.

Diapun mengajak kami kesebuah Castel besar dan megah tempat tinggalnya. “wah ini sangat megah”, kata Ririn, “Flori bawakan mereka makanan”, perintah Peter kepada pelayannya. Setelah itu dia menjelaskan bahwa kerajaannya dalam bahaya. Itu semua terjadi karena Penyihir jahat Hanna, dia menghancurkan kota dan mengurung keluarganya. Hanna melakukannya karena, ia ingin balas dendam dengan Raja yang telah merusak hidupnya. “jadi itu yang terjadi, apa yang bisa kami bantu”, pinta Janeta. “kalian melakukannya bersama Alfred panglima perang kami, dialah yang akan menuntun kalian”. Keesokan harinya kami segera memulai perjalanan panjang kami.
“kita akan kemana panglima”, tanyaku
“panggil aku Alfred”,
“baik Alfred”, kataku
“kita akan menuju Hutan Terlarang dan mendapatkan bunga ajaib”,
“bolehkan aku bertanya”, tanya Ririn
“tentu”, jawabnya
“kenapa kalian memilih kami”, tanyanya lagi
“karena menurut legenda hanya bangsa negeri hijaulah yang bisa menolong kesengsaraan kami”,

Setelah itu kami berhenti di sebuah kota bernama Blackcity. Kota ini penuh dengan penjahat dan perampok, kami berhenti sejenak dan menyewa penginapan. “Janeta, aku rindu ayah dan ibu”,
“aku juga Ririn. Tapi negeri ini bergantung di tangan kita”, jawabku penuh percaya diri
Disisi lain di Istana Flower yang dipimpin oleh Penyihir Hanna, sudah tau siapa yang akan menjadi penghalangnya. “yang benar saja, anak berusia 14 tahun menjadi pahlawan”, katanya sambil tertawa melihat bola Kristal ajaibnya. “benar baginda, apa yang harus kita lakukan”, tanya seorang laki-laki bertubuh kecil dan pendek. Hanna pun merencanakan sesuatu.

Keesokan harinya di kota Blackcity, Janeta, Ririn dan Alfred sedang menyiapkan perlengkapan untuk perjalanannya nanti.
“Janeta, setelah ini kita kemana”, tanya Ririn kepadaku
“kitakan akan pergi ke hutan terlarang”, jawabku
“aku jadi takut nih”, kamipun memutuskan untuk pergi lebih awal. Agar kami datang tepat waktu, jalan bekelok-kelok kami lewati. Tanpa terkecuali jalanan yang berbahaya, tiba-tiba kami dihadang pasukan berkuda tepat di tengah hutan terlarang. “kalian tidak boleh kemari”, kata seseorang yang membawa pedang besar. “kalian adalah utusan penyihir Hanna bukan”, tanya Alfred marah. Terjadi pertarungan sengit antara Alfred dan 7 pasukan berkuda. “aku takut Janeta”, aku bingung dan ketakutan. Aku melihat sebuah cahaya dari sepucuk bunga. Apakah itu bunga ajaib? pintaku dalam hati, aku mengambilnya dan seketika berubah menjadi sebuah pedang ajaib. Tanpa pikir pajang aku membantu Alfred mengalahkan musuh. Hingga pasukan itu tinggal satu orang, dan dia lari dan menghilang. “kau hebat Janeta”, katanya dengan nafas terengah-engah. “apakah ini bunga ajaib”, tanyaku.
“benar itu bunga ajaib, kau adalah prajurit sejati”,
Kamipun melanjutkan perjalanan ke Istana Flower untuk mengalahkan Hanna sang penyihir jahat.

“maaf baginda tapi pasukan kami kalah”, pintanya
“bodoh, cepat penggal dia”, diapun melihatku dari kristal ajaib, dan melakukan sesuatu. “kau tadi sangat hebat Janeta”, kata Ririn memujiku. “lebih baik kita dirikan tenda disini karna hari mulai malam”, kamipun mendirikan tenda di pinggir danau. Badan yang sangat lelah dan pegal membuat kami cepat tertidur. Keesokan harinya, sebelum berangkat kami membuat rencana untuk mengalahkan Hanna. “sebentar lagi kita akan sampai, tetaplah waspada”, pinta Alfred
“apakah kita akan berhasil Janeta”, kata Ririn. Tapi aku tidak menjawab, dan terlihat sebuah bangunan besar nan megah berhias berlian-berlian yang cantik. Dan terlihat pula diatas istana itu sesosok wanita yang memakai sebuah jubah berwana hitam dan sebuah Kristal ajaib. “apakah dia Hanna sang penyihir jahat”, tanyaku, dan Alfred hanya mengangguk.
“selamat datang di istana Flower, kalian akan bersenang-senang cepat bunuh mereka”,
Aku memohon kepada Bunga ajaib agar berubah menjadi pedang dan baju perang. Ternyata berhasil aku segera memakainya dan bertempur melawan mereka.

Ketika Alfred sedang bertarung, tiba-tiba sebuah bola merah menuju aku, dan…” tidak…”, Ririn mendorongku hingga jatuh dan bola itu mengenainya. “Ririn bangun, bangun Ririn”, kataku sambil menangis. “dia akan selamat jika kau bisa membunuh Hanna dan memakai mahkota dewa”, tanpa pikir panjang aku berlari menuju Hanna, dan bertarung denganya. Dia mengeluarkan sebuah tongkat dan menjadikannya sebuah Panah. “kau akan mati… ha…ha…ha…”, dia menggunakanya untuk mengincarku, tapi bukan aku yang terkena, tapi Afred. “jangan-jangan lagi, cukup aku akan membunuhmu”, aku berlari, mengincar hanna. Aku melihat sebuah Kristal tepat di tengah dadanya. Aku berpikir mungkin itulah kelemahannya, aku bergerak sangat lincah walaupun dia mengenai lenganku. Dan kuayunkan pedangku ke arahnya, dia menjadi seekor burung hantu dan hancur menjadi serpihan debu. Aku bergegas menuju Aula dan mencari dimana letak Mahkota dewa. “dimana, mahkota dewa”, aku melihat seseorang berteriak padaku “ada di dalam kota merah itu, cepat kau tidak punya banyak waktu”, teriak gadis yang seumuran denganku.

Aku membuka kota itu, dan melihat sebuah mahkota yang sangat berkilau, aku memakainya di atas kepalaku. Dan tiba-tiba sinar putih berputar di dekatku dan mengubah bajuku. Aku mengenakan sebuah gaun indah dan mahkota di atas kepala. “Janeta kau berhasil”, teriak Alfred. “Alfred”, aku memeluknya dengan bercucuran air mata. “Janeta”, pinta Ririn. “Ririn kau selamat”,
“selamat atas kemenanganmu”.

Setelah itu pesta besar terjadi di Istana, tapi kami harus pergi. Alfred mengantar kami ke pintu dimana kami datang. Kamipun memasukinya, dan kami kembali ke goa yang kami datangi. Dan kami segera kembali ke perkemahan. Setelah 3 hari kami pulang, ke rumah dan kami memutuskan untuk merahasiakan hal itu semua.

Pembuat: Dini Aprilia Purnamasari

Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 2)

Ketika aku terbangun di pagi hari, aku tidak melihat keberadaan Adit di sampingku. Sepertinya Adit sudah terbangun sedari tadi, aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari Adit untuk mengajaknya segera pergi dari desa ini.
“Adit Sedang membantu Ibu di pasar, Nak” kata Bapak sambil mengasah cangkulnya.
Aduh… Gawat, bagaimana ini tanyaku dalam hati. Yaa Tuhan aku bingung harus berbuat apa saat itu, hati dan pikiran ini di gelayuti perasaan yang tidak enak.

Aku berjalan mondar-mandir di depan halaman rumah. Sudah seharian aku menunggu Adit, akhirnya sebelum senja Adit kembali bersama dengan Ibu. Ada perasaan lega di hati ini melihat keadaan Adit baik-baik saja. Lalu segera aku menarik Adit ke dalam kamar.
“Loe kemana aja sih Dit, tadi pagi kan seharusnya kita sudah cabut dari tempat ini” bisikku pada Adit.
“Gue tadi diajakin jualan nasi sama Ibu di pasar, besok aja deh kita pergi dari sini atau lusa? Gue masih betah tinggal di sini Dave” kata Adit sambil memandangku.
“Loe dah gila yaa, kita tuh harus cepet-cepet keluar dari desa ini? Pasti anak-anak yang lain pada cemas mencari kita berdua, kita harus secepatnya menyusul mereka” jelasku.
“Kalau gitu besok kita enggak usah naik ke puncak, kita langsung turun saja dan buat laporan kalau kita selamat serta baik-baik saja” kata Adit.
Hmm… benar juga apa yang di katakan oleh Adit kataku dalam hati. Sepertinya Adit senang sekali berada di desa ini, apakah aku harus memberitahu dia tentang kejadian yang aku lihat semalam.

“Dave… Nanti malam loe mau ikut gue enggak, gue mau jalan-jalan sama Ibu” Tanya Adit yang membuyarkan lamunanku.
“Loe mau kemana…Dit?” Tanyaku kaget.
“Mau ke alun-alun desa, kata Ibu nanti malam akan ada kriayaan di sana. Tari jaipongan” jawab Adit.
Adit tertawa sambil memperagakan tari jaipongan di depanku, sementara itu aku masih berfikir bagaimana cara untuk secepatnya pergi dari desa ini.
“Jiaahhhh… loe kok malah bengong sih? halloooo… Mau ikutan nggak Dave” Tanya Adit lagi padaku.
“I..iyah…” jawabku sambil menganggukan kepala.

Malam harinya Ibu dan Bapak mengajak kami berdua pergi ke alun-alun yang berada di tengah-tengah desa. Aku lihat di sana sudah sangat ramai, para penari mulai bersiap-siap untuk memperagakan tariaannya yang sudah di nanti-nanti oleh para penonton. Aku memperhatikan keadaan di sekelilingku, aku merasakan keanehan di alun-alun itu. Ada dimana kah aku sekarang tanyaku lagi dalam hati, aku sepertinya terlempar ke jaman ratus tahun yang lalu. Orang-orang di desa itu berpakaian sangat kuno sekali, manusia-manusia yang masih sangat lugu dan sama sekali belum tersentuh oleh kehidupan dunia luar yang modern. Aku melirikan mata ini ke arah Adit, Adit tertawa-tawa menikmati keramaian di malam itu.

Tiba-tiba seorang penari jaipongan melemparkan selendangnya yang berwarna merah kearahku. Orang-orang yang berada di sekitarku pun pada bersorak dan bertepuk tangan. Penari itu mengajak ku menari bersama, dengan terpaksa aku pun memenuhi permintaannya. Aku berdiri di depan penari itu yang sedang melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti irama musik. Aku menatap tajam wajah penari itu, tatapan matanya sayu dan mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Ia begitu sangat cantik walaupun tidak di poles dengan sentuhan makeup. Sepertinya penari itu ingin mengutarakan sesuatu padaku. Aku terbawa suasana yang sangat nyaman di dekatnya. Tiba-tiba penari itu mencabut salah satu tusuk kondenya lalu ia memberikannya padaku. Aku menerima tusuk konde yang berbentuk bunga itu lalu aku masukan ke dalam saku jins ku. Aku menikmati keberadaan ku bersamanya di malam itu.

Sebelum tengah malam aku pulang berdua dengan Adit, sepertinya Ibu dan Bapak sudah pulang kerumah terlebih dahulu. Di tengah-tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan sekelompok anak laki-laki yang berikat kepala, mereka memandang aku dan Adit dari atas sampai ke bawah dengan penuh kecurigaan. Perasaanku pun semakin tidak enak ketika salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk aku dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku menundukan kepalaku lalu menarik tangan Adit untuk berjalan lebih cepat. Malam itu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata ini hingga pagi tiba.

Matahari pun akhirnya keluar dari peraduannya, setelah sarapan aku melangkahkan kaki ini keluar rumah. Aku berdiri di halaman depan dan masih bertanya-tanya sebenarnya dimana sekarang aku berada selama ini. Aku memandang beberapa orang wanita yang berjalan di depanku, mereka membawa bakul yang berisi pakaian basah lalu mereka tersenyum-senyum padaku. Hmmm… sepertinya mereka habis selesai menyuci pakaian di pinggir sungai. Tiba-tiba penglihatanku tertuju pada sosok wanita yang aku kenal. Dia adalah penari yang tadi malam mengajakku menari bersama.
“Hai…” Sapaku sambil melambaikan tangan ini kearahnya.
Wanita itu lalu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia memisahkan diri dari rombongannya dan menghampiriku.
“Cepat kamu pergi dari desa ini, jangan sampai kamu terlambat dan menyesal” katanya padaku.
“Memangnya kenapa, adakah yang salah dengan aku?” Tanyaku dengan sedikit panik.
“Pokoknya kamu harus pergi dari sini sebelum senja tiba? Janganlah kamu hiraukan orang-orang yang berada di sekitar kamu” jelas wanita itu sambil pergi begitu saja meninggalkan ku.
“Tungguuu…” teriakku.
Wanita itu tidak menghiraukan ku, sambil berjalan cepat ia menyusul teman-temannya.

Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan desa ini. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, kataku dalam hati sambil berlari ke kamar untuk membangunkan Adit yang masih tertidur.
“Kita harus pergi dari sini Dit? Cepat bangun” teriakku panik sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Adit terbangun, lalu aku menceritakan kejadian yang aku alami di sini padanya. Adit pun terkejut tidak percaya. Aku dan Adit pun cepat-cepat berkemas-kemas di kamar.
“Hmmm… sepertinya ada yang datang ke rumah ini Dave” bisik Adit sambil menatapku.
Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kuda yang sedang berjalan. Aku berjalan pelan keluar kamar untuk mengintip siapakah yang berada di depan rumah Ibu dan Bapak. Yaa… Tuhan aku melihat beberapa prajurit yang aku lihat di malam itu. Apakah mereka akan menangkapku dan Adit seperti orang-orang yang tangannya terikat itu pikir ku.

Aku langsung cepat-cepat kembali ke kamar lalu mengajak Adit untuk buru-buru keluar dari rumah ini melalui pintu belakang. Tanpa pamit dengan Ibu dan Bapak yang sedang pergi, Aku dan Adit berjalan cepat meninggalkan rumah itu tidak tentu arah, pikiranku hanya tertuju untuk cepat-cepat bisa keluar dari desa ini. Adit mulai di dera ketakutan, ia terus saja menggenggam tanganku dengan erat.

Di tengah perjalanan tiba-tiba beberapa orang prajurit mencegat kami berdua. Aku dan Adit pun berusaha untuk melarikan diri dan berlari ke arah semak-semak. Prajurit itu mengejar kami dengan kudanya, suara pekikan kuda yang terdengar sangat dekat membuat kami tambah ketakutan. Aku tidak mau mempunyai nasib yang sama dengan orang-orang yang menjadi tawanan mereka. Aku berlari kencang menerobos semak-semak belukar, aku tidak peduli dengan tangan dan tubuh ini yang tergores oleh batang-batang pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang berduri. Aku menahan rasa sakit sambil terus berlari bersama dengan Adit.
“Gue sudah nggak kuat lagi Dave” teriak Adit dengan napasnya yang terengah-engah.
“Kita harus lolos dari mereka Dit, tahan sebentar lagi” teriakku sambil menggenggam tangan Adit, kami pun terus berlari.

Aku dan Adit sudah sangat kelelahan. Aku merasa tidak kuat lagi untuk berlari. Kami berdua terus di kejar oleh mereka.
“Gue nyerah Dave, sumpah gue enggak kuat lagi” kata Adit sambil meneteskan airmatanya.
Aku memeluk Adit dengan erat.
“Kita harus keluar dari sini bersama-sama Dit, gue yakin pasti kita akan selamat dan bisa keluar dari hutan ini” bisik ku menyemangatinya.
Adit menatapku tajam, lalu ia mengangguk-anggukan kepalanya.

Aku dan Adit berlari lagi menerobos hutan yang gelap. Kami berdua berlari berjam-jam lamanya tanpa berhenti sampai kami tidak mendengar lagi suara pekikan kuda dan para prajurit itu.
“Sepertinya kita sudah keluar dari desa itu Dave” kata Adit sambil tersenyum lesu.
“Iyah… Sekarang kita harus berusaha untuk mencari jalan agar bisa turun ke bawah” jawabku dengan perasaan lega.

Kami berdua terus dan terus berjalan, tubuh ini sudah sangat lelah, kami lapar dan kehausan. Di tengah perjalanan pun turun hujan yang sangat deras, sepertinya akan terjadi lagi badai, petir-petir menggelegar. Aku dan Adit berlindung di bawah pepohonan yang sangat besar. Aku bersandar di akar pohon, Aku melihat tubuh Adit menggigil kedinginan.
“Gue… gue sudah tidak tahan lagi Dave, gue lelah dan ngantuk banget” bisik Adit terbata-bata.
“Dit… Jangan tidur dit, loe jangan tidur? Buka mata loe? Loe harus tetap terjaga” teriakku sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Yaa… Tuhan, aku juga merasakan kelelahan dan rasa kantuk ini juga mendera ku, aku berusaha untuk sadar dan tidak tertidur sambil berharap ada pertolongan segera datang. Aku memeluk tubuh Adit dengan erat untuk menghangatkan diri dari rasa dingin ini. Aku berserah diri ini padamu Tuhan, aku pasrah kataku dalam hati ini sambil berzikir sepanjang hari hingga aku tak tersadarkan diri. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara langkah orang-orang berjalan di kesunyian hutan.

Mata ini sangat sulit untuk terbuka. Orang-orang itu mengangkat tubuhku dan merebahkan diri ini di atas tandu. Aku bersyukur karena telah ada orang yang menyelamatkanku dan Adit. Aku pun akhirnya tertidur tidak sadarkan diri selama perjalanan pulang.

Mereka membawa aku dan Adit ke rumah sakit terdekat, lenganku di infus dan dua perawat tengah membersihkan luka-luka yang berada di sekujur tubuh ini. Mataku masih terus terpejam tetapi telingaku masih bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di dekatku.
“Kasihan yaa mereka, katanya sudah seminggu lho mereka hilang di hutan” kata salah satu perawat.
“Iyah… hutan itu memang terkenal angker, kenapa dua anak ini bisa tersesat kedalam hutan sana?” kata salah seorang lagi.
“Kasihan teman anak ini, dia sekarang koma karena kelelahan dan kelaparan. Bagaimana perasaan orang tuanya jika melihat anak-anak mereka sekarang seperti ini”.
Yaa… Tuhan, Adit…Adit… teriakku dalam hati ketika mendengar percakapan perawat-perawat itu. Aku ingin melihat Adit…, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan mencari Adit ketika perawat-perawat itu pergi meninggalkanku. Aku masuk ke dalam kamar Adit, aku melihat beberapa orang Dokter sedang berusaha memberikan pertolongan pada Adit yang sudah tidak sadarkan diri. Aku menangis… tersedu-sedu melihat pemandangan itu.
“Adit… loe harus kuat Dit, loe harus kuat… kita sudah berhasil meninggalkan desa itu, kita sudah selamat Dit” teriakku histeris sambil menangis.

Dua orang senior ku pun datang dan menenangkan diri ini, yang masih tidak rela jika sampai Adit meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang, aku pun terjatuh lagi karena tidak berdaya.
Akhirnya Adit meninggal dunia akibat keletihan, kelaparan dan dehidrasi.

Setelah pulih aku mengunjungi makam Adit, airmataku menetes kembali ketika aku melihat namanya di batu nisan. Aku sangat menyayangkan kepergian sahabatku, tetapi mungkin Tuhan lebih sayang kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku dan aku berharap ia bahagia di alam sana.

Hari ini aku mulai kembali untuk kuliah, setelah ke luar kelas aku melangkahkan kaki ini menuju markas pencinta alam yang berada di belakang kampus untuk mengambil ranselku yang telah di temukan di gunung itu. Bang Lingga tersenyum melihat kedatanganku lalu ia menepuk-nepuk pundakku dan berusaha untuk menghiburku.
“Loe jangan trauma ya dengan kejadian yang loe alami kemarin, kita semua juga menyayangi kejadian itu” kata Bang Lingga.
“Iyah Bang”, jawabku sambil menganggukan kepala.
“Alam itu tidak bisa di tebak Dave, kadang ia sangat bersahabat dan terkadang ia juga sangat kejam bagi para pendaki, kita semua sangat kehilangan Adit. Bagi kita Adit adalah pahlawan, sama seperti Evie” jelas Bang Lingga.
“Evie…?” tanyaku bingung.
“Iyah… senior kita, dia juga telah gugur di gunung yang sama duabelas tahun yang lalu” jelas Bang Lingga lagi.
Aku memandang tajam Bang Lingga.

Bang lingga lalu membuka sebuah amplop besar berwarna coklat dan memberikan aku selembar foto bergambar anak perempuan yang sedang tersenyum manis. Aku terkejut melihat wajah yang berada di foto itu. Hmmm… Itu… itu bukannya penari jaipong yang berada di desa itu kataku dalam hati. Tubuhku mendadak menjadi lemas ketika melihat fotonya. Aku tidak bisa berfikir dan berbicara lagi, ternyata penari yang secara tidak langsung telah menyelamatkan ku adalah seniorku sendiri.
“Akhirnya kita mendapatkan Foto Evie, rencananya foto ini akan gue pajang bersama foto Adit di markas untuk mengenang loyalitas dan cinta mereka kepada alam” jelas Bang Lingga.
Aku tersenyum dan masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Setelah mengambil ransel, aku pun pulang ke rumah dengan banyak sekali pertanyaan yang belum bisa di pecahkan di pikiran ini. Aku merebahkan tubuhku di ranjang ketika aku berada di kamar. Apakah benar penari itu adalah Evie tanyaku dalam hati, apakah desa itu benar-benar ada dan bukan imajinasi atau khayalanku semata? Tiba-tiba Mbok Inah mengetuk pintu dan masuk kekamarku.
“Mas Dave, kemarin Mbok Inah menemukan ini di kantong Jins punya Mas?” kata Mbok Inah sambil memberikan aku sebuah tusuk konde berbentuk bunga.
“Terima kasih Mbok” jawabku sambil tersenyum menerima barang itu.
“Wahh… Mas Dave sekarang sudah mempunyai pacar yaa”, goda Mbok Inah sambil meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.

Aku memandang tusuk konde itu… akhirnya terjawab sudah dan aku meyakinkannya jika desa misterius itu benar-benar ada keberadaannya di pegunungan sana. Hanya saja kita sudah berlainan dimensi dengan mereka, walau bagaimana pun aku sangat berterima kasih kepada Ibu dan Bapak yang telah menolongku dan Adit untuk bermalam di rumah mereka serta Evie, seniorku. (Tamat)

Pembuat: Ayu Soesman

Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 1)

Aku berdiri di depan sebuah ruangan dekat taman yang berada di belakang kampusku. Aku merasa bersemangat sekali pada hari itu, sakin semangatnya aku datang kepagian. Ruangan itu masih terkunci rapat, para senior dan teman-temanku belum ada yang datang. Hmmm… Mungkin mereka masih berada di dalam perjalanan menuju kesini. Aku meletakan ranselku yang tadinya bergelayut di pundak ini. Aku duduk di samping ransel yang lumayan besar, aku mengecek kembali semua alat-alat perlengkapan dan bahan makanan yang akan aku bawa nanti. Senang rasanya, setelah sekian lama menunggu akhirnya kedua orang tua ku mengijinkan aku masuk ke dalam kegiatan pencinta alam setelah aku tamat dari SMU. Saat-saat inilah yang aku nanti-nantikan seumur hidupku, aku dan teman-teman pencinta alam akan mendaki gunung yang tertinggi yang berada di daerah Jawa Barat.

Tidak lama kemudian teman-temanku satu persatu berdatangan ke dalam ruangan tempat aku menunggu alias markas anak-anak pencinta alam. Setelah semua lengkap kami pun mengadakan rapat sebentar, lalu berdoa bersama sebelum berangkat. Rombongan kami terdiri dari limabelas orang mahasiswa, lima diantaranya adalah para senior yang sudah berpengalaman naik turun gunung. Kami berangkat dengan menumpang kereta api menuju stasiun terakhir.

Hawa dingin dan sejuknya udara sudah terasa ketika aku turun dari kereta api. Lalu aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung tersebut. Salah satu seniorku yang bernama lingga melapor dan meminta surat izin untuk naik ke puncak gunung kepada penunggu pos yang berada tidak jauh dari trek perjalanan menuju ke atas. Tidak sampai limabelas menit kemudian kami semua sudah di perbolehkan oleh penjaga pos itu untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Cuaca sangat cerah, aku berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri melihat pemandangan yang sangat indah di sekitar gunung. Aku teringat pesan Mama agar tidak berbicara sembarangan, bertingkah laku sopan dan tidak merusak apa saja yang berada di sana. Aku berjalan dengan hati gembira dan penuh semangat mengikuti langkah teman-temanku yang berada di depan hingga menuju pos pertama.

Setelah kami berjalan berkilo-kilo lamanya, sebelum senja aku dan teman-teman memutuskan untuk membangun tenda yang tidak jauh dari mata air dan bermalam di sana. Suasana di malam itu sangat menyenangkan, kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Beberapa temanku di tugaskan memasak untuk makan malam, walaupun kami hanya memakan mie instant dan sedikit nasi yang harus dibagi sama rata, tetapi semua itu sudah mengenyangkan perut ini dan akhirnya aku pun tertidur di dalam tenda untuk mengumpulkan tenaga buat melanjutkan perjalanan esok hari.

Keesokan harinya aku terbangun, aku merasa puas bisa menghirup udara pegunungan yang masih perawan karena belum tersentuh oleh yang bernama polusi, setelah sarapan kami semua bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak gunung. Setelah beberapa jam kami berjalan mengikuti jalan setapak, tiba-tiba keadaan di sekitar daerah tempat kami berada turun kabut yang sangat tebal, jarak penglihatanku dan teman-teman pun sangat pendek karena terhalang oleh putihnya kabut yang seperti kapas. Kami membentuk tiga kelompok dan berpencar untuk mencari tempat perlindungan dari badai yang sepertinya akan segera turun. Setelah badai reda kami pun sepakat untuk bertemu dengan teman-teman yang lainnya di pos selanjutnya.

Aku berjalan dengan temanku yang bernama Adit paling belakang. Keadaan alam sudah kembali bersahabat seperti semula. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku melangkahkan kaki ini menuju pos selanjutnya untuk bertemu dengan teman-temanku yang lainnya.
“Tunggu dulu Dave, gue mau betulin tali sepatu gue dulu nih?” Adit berkata kepadaku.
“Cepat Dit, nanti kita tertinggal jauh dari Bang Lingga”, Ucok dan Pepi ujarku sambil memperhatikan Adit yang sedang mengikat tali sepatunya.
Dan benar saja tidak ada lima menit aku menunggu Adit, kami berdua kehilangan keberadaan senior dan dua orang temanku. Aku menatap Adit yang tampak panik karena kami berdua sama-sama pendaki pemula yang belum mempunyai pengalaman tentang pendakian.
“Sorry.. Dave, gara-gara gue kita ketinggalan Bang Lingga dan yang lain” kata Adit sambil termenung.
“Nggak apa-apa Dit, mudah-mudahan kita bisa menyusul mereka” jawabku sambil membesarkan hati Adit. “Yuk… kita jalan lagi” ajak ku sambil merangkul Adit.

Aku dan Adit melangkahkan kaki menyelusuri jalan setapak sesuai dengan trek yang berada di peta. Sepertinya sudah lama aku berjalan berdua dengan Adit, tetapi aku tidak menemukan Bang Lingga, Ucok dan Pepi. Sepertinya aku dan Adit berjalan hanya berputar-putar di daerah sekitar tempat kami berada yang terlihat sama dengan rimbunnya pepohonan. Aku menatap tajam wajah Adit dengan napas yang terengah-engah karena lelah berjalan.
“Bagaimana nih Dave, sepertinya kita telah tersesat” kata Adit sambil meneguk air minumannya.
“Kita istirahat dulu sebentar disini Dit” ujarku.
“Kita enggak bisa istirahat Dave, nanti kita bisa ketinggalan lebih jauh lagi dari Bang Lingga, sebentar lagi juga sudah mulai gelap?” jawab Adit.
Aku menganggukan kepala, lalu kami berdua berjalan kembali mengikuti jalan setapak. Tiba-tiba aku melihat sebuah keramaian yang letaknya di seberang tempat Aku dan Adit berjalan. Aku meruncingkan penglihatanku…? tempat keramaian itu sepertinya sebuah pasar yang berada di dalam perkampungan.
“Lihat Dit, ada pasar disana bisikku sambil menunjukan jari kananku”.
“Masa sih… kata Adit sambil menatap ke arah yang aku tunjuk”.
“Lebih baik kita bertanya saja dengan orang-orang yang berada disana, siapa tau saja mereka bisa memberitahu kita arah yang benar kataku sambil menatap Adit”.
Adit menganggukan kepalanya. Lalu kami berdua berjalan menuju pusat keramaian itu.

Aku dan Adit melangkahkan kaki ini di tengah-tengah pasar. Aku melihat pemandangan di sekitar pasar itu. Aku merasakan sebuah jaman yang sangat berbeda dengan kehidupanku yang sekarang. Sepertinya aku terlempar ke jaman ratusan tahun yang lalu. Orang-orang di pasar itu masih mengenakan kain dan kebaya untuk anak perempuan, celana hitam hitam sebetis dan berikat pinggang besar serta baju hitam untuk laki-laki hmm… seperti baju si pitung yang suka aku lihat di cerita Tv.

Ada segerombolan anak gadis sedang melihat kami berdua lalu mereka tersenyum sambil berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah mereka bergosip kerena pakaian aku dan Adit yang terlihat aneh seperti Alien bagi mereka. Para pedagang berjualan menggelar dagangannya di atas tanah, mereka masih menggunakan barter dengan cara menukar barang yang satu dengan yang lain sebagai alat transaksinya.
Aku menarik napas panjang sambil melirikan mataku kearah Adit yang masih terlihat bingung melihat keramaian pasar itu, sama sepertiku.
“Hmm… Kita berada dimana nih Dit, sekarang?” tanyaku bingung.
“Gue juga enggak tau Dave, kenapa mereka lain dengan keadaan kita saat ini” bisik Adit.
“Hmm… mungkinkah desa ini seperti desa Badui? Hmmm… mereka masih mempertahankan kebudayaannya dan menolak kebudayaan modern” jelasku.
“Mungkin saja…” bisik Adit kembali.

Aku dan Adit berjalan pelan-pelan sampai ke ujung pasar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu menawarkan kami makanan.
“Kalian mau makan…? Sepertinya kalian kelaparan karena habis berjalan jauh katanya sambil menyodorkan aku dan Adit makanan yang terbungkus rapi oleh daun jati”.
Aku dan Adit saling bertatapan.
“Ayo… silakan di ambil kata ibu-ibu itu sambil menyodorkan makanannya kembali”.
Adit menganggukan kepalanya lalu ia mengambil sebungkus makanan itu dari tangan ibu-ibu yang sedang tersenyum memandang kami berdua.

Dengan ragu aku pun mengambil makanan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ibu yang baik hati itu. Aku lalu membuka perlahan-lahan daun jati yang membungkus makanan itu. Wah… Sepertinya ini sangat enak kataku dalam hati ketika aku mengetahui yang berada di dalam bungkusan itu adalah nasi uduk, tempe orek dan ikan asin. Hmmm… tidak salah, makanan itu memang sangat lezat sekali. Sepertinya selama hidupku aku belum pernah merasakan nasi uduk yang seenak itu. Aku tersenyum melihat Adit yang tampak lahap memakan makannya. Sepertinya Adit sangat kelaparan kataku dalam hati.
“Kalian berdua hendak kemana” Tanya Ibu itu sambil menuangkan air ke dalam gelas kami yang masih terbuat dari batang bambu yang sudah tua.
“Kami sedang tersesat Bu, kami berdua adalah pendaki yang terpisah dari rombongan, saya lagi mencari pos pendakian yang terdekat dari sini”, jelasku sambil tersenyum.
“Itu sangat jauh sekali Nak, jauh… sekali? kata Ibu yang memakai kebaya kembang-kembang berwarna ungu itu”.
“Mau kah Ibu memberitahu kami arah jalannya menuju kesana” Tanya Adit.
Ibu itu menganggukan kepalanya.
“Sebaiknya kalian bermalam saja dulu di rumah saya, karena sebentar lagi matahari akan segera tenggelam. Sangat berbahaya jika kalian berjalan di malam hari” jelas Ibu itu sambil tersenyum.
“Ibu tidak keberatan kalau kami berdua menginap di rumah Ibu”, tanyaku.
“Tidak… bermalamlah di rumah saya. Kalian juga boleh tinggal di rumah saya selama kalian mau” kata Ibu itu lagi.
Aku dan Adit tersenyum sambil menganggukan kepala.

Akhirnya aku bisa tidur di rumah penduduk di sekitar sini tampak harus membangun tenda dan menahan tajamnya angin malam yang menusuk tubuh ini kataku dalam hati. Setelah Ibu itu selesai berjualan, ia mengajak Aku dan Adit berjalan menuju selatan. Di pertengahan jalan Ibu itu menghentikan langkahnya ketika kami bertiga sedang berjalan di antara pematang sawah. Ibu yang belum kami ketahui namanya itu tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah seorang pria tua yang sedang mencangkul di sawah. Pria tua itu tidak lama kemudian menghampiri kami bertiga.
“Bapak… ada anak kota yang sedang tersesat? saya menyuruh mereka untuk menginap di gubuk kita. Bapak tidak keberatan kan”, Tanya Ibu itu.
Pria tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Menginaplah di rumah kami, besok baru kalian bisa melanjutkan perjalan menuju puncak gunung. Nanti Bapak bisa mengantarkan kalian, kalau kalian mau” jelas Bapak itu.
Mendengar penjelasan Bapak, Untuk yang sekian kalinya aku dan Adit menganggukan kepalanya tanda setuju dengan perkataannya.

Hatiku mulai lega karena Bapak itu mau mengantarkan kami berdua menuju puncak gunung esok hari. Itu berarti aku dan Adit tidak perlu lagi repot-repot mencari jalan untuk menuju kesana. Aku dan Adit menempati sebuah kamar di dekat dapur. Rumah Ibu dan Bapak sangat sederhana, semua temboknya masih terbuat dari bilik bambu. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya pun lumayan jauh. Desa itu tampaknya sangat asri sekali. Mereka menjamu kami berdua sangat baik, selesai membersihkan diri aku duduk-duduk di bale depan rumah bersama Adit. Tidak lama kemudian Ibu datang membawakan kami sepiring singkong rebus dan teh hangat. Aroma singkong rebus itu sangat menggoda, tampak basa-basi aku pun langsung menyantapnya. Aku merasa sangat nyaman sekali berada di sana? Apalagi ketika mendengar alunan suara seruling yang Bapak mainkan, suasana damai di malam itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Kami mengobrol bersama hingga larut malam, Bapak banyak bercerita tentang filosofi kehidupan. Banyak nasehat yang aku dapat dari Bapak dan Ibu, tetapi anehnya, mengapa mereka selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan nama mereka?

Oaahhhmmm… Aku menguap, lama-lama mata ini tidak dapat menahan rasa kantuk lagi. Akhirnya aku dan Adit pun pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Aku pun mulai tertidur, baru beberapa saat mataku terpejam tiba-tiba aku terbangun kembali, sepertinya aku mendengar sesuatu yang suaranya berasal dari luar sana. Aku menatap Adit yang tertidur sangat nyenyak. Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur, lalu dengan hati-hati aku melangkahkan kaki ini menuju bilik bambu. Rasa penasaran ini semakin menjadi-jadi, aku mendengar suara pekikan kuda dan krincingan bunyi lonceng kecil, sepertinya ada sebuah rombongan orang yang sedang berjalan kaki di luar sana. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik bilik itu untuk melihat sesuatu yang sedang terjadi di luar.

Yaa…Tuhan, tiba-tiba saja nafasku langsung terengah-engah, jantung ini seperti mau copot? aku segera menutup mulutku kuat-kuat agar jeritanku tidak terdengar sampai keluar. Aku melihat empat orang prajurit berkuda berjalan pelan, di belakang prajurit itu ada segerombolan wanita yang sepertinya mereka menjadi abdi dalam kerajaan, wanita-wanita itu hanya mengenakan kemben dan memakai kain. Para wanita setengah tua itu berjalan tampak mengenakan alas kaki, salah satu dari mereka membunyikan lonceng kecil yang bunyinya membuat suasana di tengah malam itu semakin mencekam. Aku melihat ada kereta kuda tepat di belakang para abdi dalam, tampak seorang putri yang sangat cantik berada di dalam kereta itu. Ia memakai sebuah mahkota, rambutnya yang hitam legam di biarkan panjang terurai. Putri itu memegang sebuah tongkat di tangan kanannya dan menggendong seekor kucing di tangan kirinya. Di belakang kereta kuda itu terdapat orang-orang yang kedua tangannya terikat, mereka berjalan terseok-seok seperti sekumpulan tawanan yang sangat kelelahan, pakaian yang mereka kenakan itu sama dengan pakaian yang aku pakai, yaitu pakaian di jaman modern seperti sekarang ini. Tawanan itu tampaknya di jaga sangat ketat oleh beberapa orang prajurit yang berjalan paling belakang di rombongan. Si… siapakah mereka, tanyaku dalam hati.

Aku duduk lemas di atas lantai, jantung ini masih berdetak sangat cepat. Siapakah mereka? Berada di jaman apa aku ini sekarang? Tanyaku lagi. Lalu aku merebahkan tubuh ini di samping Adit yang masih tertidur sangat lelap. Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, cepat-cepat aku memejamkan mata ini. Ada perasaan lega di hatiku, karena esok hari aku akan meninggalkan desa ini, aku pun berharap agar matahari akan segera terbit, supaya aku bisa kabur dari desa ini.

Pembuat: Ayu Soesman

Petualangan Dua Saudara (Pencarian Jejak Trevor)

Setelah Agung dan Deden tak sengaja bertemu dengan hal baru pada hidupnya. Kedua saudara tersebut kini melakukan tugas nya masing-masing sebagai pekerja muda yang mapan. Namun, mereka berdua masih tetap penasaran akan hubungan Trevor si tikus penginapan dan Yopi orang misterius yang bertemu di kapal.

“Yah, Bu.. aku pulang..!” sahut Deden.
“Tumben cepet banget?” tanya Burhan, sang ayah.
“Iya nih, cuaca nya tiba-tiba berubah drastis gak kaya biasanya. Jadi, semua penerbangan di batalkan, cuma ada sedikit tugas aja tadi” Jelas Deden.
“Ohh, gitu.. eh, eh langsung mau kemana kamu?” Tanya Siti, sang Ibu.
“Ruang kerja Kak Agung…!” Teriak Agung dari kejauhan, karena langsung berlari menuju ruang kerja sang kakak.
“Kak, boleh masuk nggak?” Ucap Deden sambil mengetok pintu ruang kerja sang kakak.
“Iyaaa, masuk aja..!” Jawab Agung.
“Waaah, lagi banyak order nih, nah yang satu ini kok mirip banget dengan kita berdua? Tapi ngapa bikinnya cuma kepalanya aja? apa belum selesai?” Tanya Deden.
“Ah, karya jelek itumah bukan aku yang buat, tapi gak tau siapa. Orang tau-tau udah dapet kiriman kaya gitu tapi gak nyantumin nama gak ada surat posnya lagi! Tau-tau udah ada di kamarku, mungkin dari fans ku kali..? hehehe”
“Aneehhh, mengirim barang kok gak nyantumin nama?! Memangnya di situ gak ada alamat pengirimnya juga kak?” Tanya Deden.
“Ya gak tau..! aku belum cek! Udahlah gak usah ganggu!” bentak Agung.

Seketika itu Deden langsung mengecek bingkisan dari pengirim misterius itu, dia cek dengan jeli setiap sudut-sudut bingkisan. Ternyata benar saja, ada sebuah surat pendek seperti memo bertuliskan “JANGAN IKUTI JEJAK SAYA, JIKA TIDAK AKAN DIBAYAR DUA KEPALA!”

“Kak! Lihat..!” Kata Deden sambil menunjukan surat itu.
“Cuihh, sialan! Ayo kita ke NTT! Kita akan berlayar kesana!” Bentak Agung.
“Kenapa gak pake pesawat aja kak?”
“Sepertinya mereka ada di tempat sepi! Disana adalah daerah kepulauan, banyak pulau kecil tak berpenghuni disana, kurasa mereka ada di salah satu pulau” Jelas sang kakak.
“Tapi, firasat ku gak bilang begitu Kak!”
“Udah! Ikut aja! Bilang ke Pak Yadi suruh siapin kapal!”
“Iya, setelah aku mempersiapkan barang-barangku” kata Deden.
Setelah itu Deden langsung ke ruangan Pak Yadi, nahkoda Pribadi mereka.
“Pak, kita ke NTT sekarang!”
“Haaa! Itu kan gak jauh, ngapain juga kesana?” Kejut Pak Yadi.
“Udah, berangkat aja. Yang penting kan udah punya surat izin berlayar”
“Ya sudahlah, nanti aku panggil para awak kapalku”

Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya akhirnya berangkat menuju daerah kepulauan NTT.
“Huh, sial! Liat aja mereka! Pasti tak abisin!” Kesal Agung sambil menatap sinis lautan.
“Udah si, Kak! Jaga emosi mu! Berfikir itu lebih baik. Gak tau matahari lagi panas-panasnya ya? Mending simpan aja staminamu”
“Tapi…? ya… iya udah lah, bener juga kata-kata mu”

Matahari telah menutupkan wajahnya, hawa dingin udara laut mulai terasa. Tetapi ini tak berpengaruh pada sang kakak, ia tetap saja panas dan tak sabar sampai di tujuan.

“Pak! Pak Yadi?! Bisa cepet nggak sih?!” Tanya Agung kepada sang nahkoda.
“Ini juga sudah paling cepat, beruntung cuaca nya mendukung. Aku juga heran kenapa angin nya tenang, sangat tenang malah. Aku udah 16 tahun jadi pelaut baru kali ini aku nemu cuaca seperti ini, tenang! Kita pasti cepat sampai” Jelas Pak Yadi.
“Sekitar berapa jam lagi pak?”
“Pagi-pagi sekitar jam tujuh’an kapal ini sudah menepi. Sudah! Tidur dulu sana… kalian juga boleh tidur awak-awak ku!”

Waktu terus berjalan, seperti tak ada rintangan di laut, ombak pun hampir tak terasa. Namun pada saat fajar Deden yang bangun lebih awal, ia mendengar seseorang berteriak meminta tolong, kemudian ia berlari menuju ruang kendali kapal untuk menemui Pak Yadi.
“Pak! Medengar sesuatu tidak? Seperti ada yang minta tolong! Coba diam, sttt?” kata Deden.
Ketika mereka diam mereka benar-benar mendengar orang berteriak minta tolong. Pak Yadi pun memberhentikan kapalnya, dan mereka mulai mencari sumber suara.
“Coba, Deden kitari bagian kanan kapal, kalau bapak kiri kapal, ini pegang senter ini”

Di saat Deden mengarahkan lampu senternya ke arah laut ia melihat seseorang yang kelihatannya akan tenggelam, kemudian tak pikir lama ia langsung menyelamatkan orang itu. BYURR!!
“Ada suara orang kejebur, pasti Deden udah nemu suaranya” Pikir Pak Yadi.
Ketika Pak Yadi menuju ke bagian kiri kapal, ia menemukan Deden sedang berusaha menaiki kapal sambil membawa orang yang di selamatkan itu. Tak pakai kompromi, Pak Yadi langsung membantu Deden. Syukurnya orang itu tak pingsan apalagi mati.
“Dek, kamu ngapain berenang subuh-subuh gini?, udah tau air laut masih dingin gini?” Tanya Deden.
“Ughhh, grrrr, haaa, hhaaa, hasychimmm!!”
“Tolong ambilkan handuk Pak” Pinta Deden kepada Pak Yadi.
“Ini Den!”
“uhhh, ada-ada aja kamu inilah, Dek. Udah bisa ngomong belom? Kenapa kamu tadi berenang?” Tanya Deden.
“hhufft, aku ingin pulang Kak” jelas anak kecil yang Deden selamatkan.
“Memangnya dari mana mau kemana? Kaya mana ceritanya? Namamu sapa?” tanya Pak Yadi.
“Luis Pak. Kemarin sore aku nyebrang ke pulau pake perahu, tapi pas aku kesana mau ngambil air tawar, baliknya perahunya sudah gak ada, kebawa ombak paling, terus aku bosan di pulau itu, aku ingin pulang, makanya aku nekat berenang” Jelas Luis.
“Oh, kalo gitu kamu kakak anterin ke rumahmu, tapi sebelumnya kakak mau nanya? Kamu tau orang yang namanya Trevor gak?” tanya Deden.
“Taulah Kak! Dia itu sering datang di pulau pabuan, dia itu pengusaha besar Kak! Dia sering membawa sayur-sayuran ke daerah kami, tapi dia gak pernah bawa air segar untuk kami.”
“Hmmm, bisa gak kamu tunjukin tempatnya Trevor?” Tanya Deden.
“Jelas bisa, kebeneran papaku jadi kepala penjaga keamanan disana, jadi aku sudah sering kesana” Jelas Luis.
“Baiklah! Ayo Pak! Berangkat!”

Di tempat lain, Trevor dan bersama atasannya sedang menjalankan misi jahatnya.

“Hahahaha, aku suka dengan alat ini, bentar lagi kita akan coba Vor!”
“Iya bos, bentar lagi daerah ini tunduk sama kita! Hehe”

Sementara itu kapal Pak Yadi sudah menepi di Pulau Pabuan, Matahari sudah mulai menunjukan cahaya nya. Namun tanpa disangka-sangka penjaga mercu suar melihat kapal Mereka, segeralah penjaga mercu suar menghubungi kepala keamanan.

“Settteeseetttzz, Halo disini Manu, minta jawaban. Ada kapal tampaknya kapal itu bukan dari sini” Ucap Penjaga mercu suar dengan alat komunikasinya.
“Settteeseetttzz, iya disini Pablo, siap melapor ke ketua!”
Di saat yang tepat, di saat Agung, Deden dan kawan-kawan turun dari kapal, di saat itulah para penjaga keamanan menyambutnya dengan senapan.

“Eh, sialan! Minggir kalian! Aku ingin ketemu bos kalian! maksudnya apa ngirim bingkisan itu!? Seperti dirinya sudah bag…” Bentak Agung.
“Diam, Kak! Ini bukan daerah kita” Cegah Deden sambil menutup mulut kakaknya.
“Diam! Selangkah saja berarti perang” ucap salah satu penjaga keamanan.

Tiba-tiba Luis berteriak.

“Sudah! Saya Luis! Putra Eli! Saya cuma ingin bertemu dan berbicara pada papa saya”

Semua orang hanya terdiam, mungkin ayah Luis adalah orang yang disegani di tempat itu.

“Anaakkku!!! Hhuuhhh Mama dan Papa sudah mencari-cari kamu tak ketemu, dari mana saja kamu!” Teriak salah seorang penjaga keamanan yang tak salah lagi adalah ayah Luis.
“Papa? ceritanya panjang banget! Mereka ini orang baik, sudah menyelamatkan saya, papa mau keilangan anak satu-satunya?” Bisik Luis kepada ayahnya.
“Baiklah, anak buah balik ke posisi kalian!” teriak ayah Luis.
“Ya, ketua!” Jawab serentak para penjaga keamanan.
“Terimakasih, kita saudara! Apa mau kalian?” Tanya ayah Luis.
“Kami mencari Trevor, jika situ gak mau buka mulut. Saya akan pergi” Kata Deden
“Ja.. ja.. tapi.. jangan jangan pergi, aku hanya tau sedikit tentang keberadaanya. Dia pergi dua hari yang lalu dengan atasannya. Saya dengar mereka mau menaklukan suatu Bandara Penerbangan”
“Bandara? Ya sudah makasih infonya, kami akan pergi, ayo Pak Yadi kita pulang!” kata Deden.
“Hei! Gila kamu! Sudah jauh-jauh kesini, hasilnya hanya seperti ini!” bentak Agung.
“Sudah kubilang dari awal firasat ku Trevor tidak disini! Lagipula aku tau Bandara mana yang mereka incar”
“Apa?! Jangan bilang, kau tahu tentang Yopi juga?!” teriak sang kakak.
“Tidak, jika itu aku belum tau”

Setelah itu, setelah perjalanan yang sangat panjang. Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya pulang menuju rumah. Bagi Agung dan Deden ini belum selesai, mereka belum puas dan masih ingin mencari Trevor. masih banyak yang belum terkuak, namun satu persatu pasti akan muncul dengan sendirinya. Agung dan Deden tak berhenti mereka akan terus mencari jejak Trevor.

Pembuat: Muhammad Septian Rachmandika

Petualangan Dua saudara (Petualangan Pertama Dimulai)

Pada suatu tempat hiduplah sebuah keluarga sederhana, yaitu keluarga Burhan Nawawi. Di keluarga tesebut hiduplah sepasang suami istri yang bahagia, Burhan dan Siti mereka adalah oang tua dari Agung dan Deden. Mereka hidup sangat bahagia, rumah yang besar, uang berlimpah dan semuanya terpenuhi, tetapi hal tesebut tak membuat keduanya lalai, bahkan mereka telah mapan sebagai pekerja muda. Dua bersaudara ini bagaikan saudara yang paling bahagia di seluruh dunia. Tetapi pada suatu waktu mereka mendapatkan kejenuhan, dengan begitu mereka berdua sepakat untuk cuti dan membuat jadwal liburan, namun tanpa di sangka-sangka liburan tersebut malah jadi Petualangan hebat.

“Den, kira-kira kemana ya enak nya?” Tanya Agung.
“Bali aja, Kak!” Jawab Deden.
“Aih, bosen, Den!”

Seketika itu Agung melihat sebuah sampul majalah dengan bergambar alam bebas.
“Nah, ada ide aku, Den!”
“Kemana, Kak?” Tanya sang Adik.
“Udah ikut aja!”
Tak lama kemudian mereka berkemas-kemas menyiapkan segalanya.
“Kok, bawa peta sih, Kak?”
“Ah, bawel sih, Den! Udah panasin mobil dulu sana!” Jawab Agung.

Setelah keduanya telah siap, sebuah Ferari pun siap untuk di gas. Kali ini Deden hanya bisa diam tak banyak bertanya seperti biasanya, karena memang jika sudah berada di mobil dia tak banyak bicara.
“Pelabuhan? Kan kita punya kapal pribadi, Kak?”
“Nahkoda kita sedang kakak kasih cuti, Den!”
“Ohh, gitu ya?”
Mereka berdua pun membeli tiket, dan menaiki kapal.
“Kok gak ambil kelas VIP aja sih, Kak?”
“Oh, iya ya? udah deh gak papa” Jawab Agung dengan santai.

Mereka berdua lekas keluar dari mobil dan bergabung dengan penumpang lainnya.

“Kok, sepi bener sih Kak penumpangnya? Kita sebenernya mau kemana sih? Satu, dua, tiga, empat. Cuma empat penumpang, Kak?”
“Kata siapa? Orang enam geh, sama kita berdua!”
“Tujuh! Ini baru duduk di samping kita!” Jelas Deden.
Tiba-tiba orang yang baru saja duduk, menyapa Agung.
“Hai, saya Yopi! Sepi sekali ya kapal ini?”
“Oh, ya ya ya. Memang! Sepi sekali! Saya Agung, Seniman!”
“Mau, jalan-jalan ya?” Tanya Yopi, orang baru itu.
“Iya, kok tau?”
“Dari bawaan nya aja udah keliatan”
“Pasti anda ini…” Tebak Agung.

Belum sempat menebak, Yopi sudah tak ada di tempatnya lagi.

“Kak! Aku mau cari angin segar dulu, matahari bentar lagi tenggelam!”
“Ya udah sana! Aku mau besantai dulu”

Baru saja Deden menghirup udara laut, Deden terheran dengan sebuah kapal pengangkut barang membawa barang-barang besi dan sejumlah barang-barang yang belum terlihat sebelumnya.

“Kamu jangan sekali-kali merusak keinginan mereka!” lagi-lagi Yopi, penumpang misterius itu seperti ada dimana-mana.
“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang mereka?” Tanya Deden.
“Alat penghancur segalanya!”
“Apa?! Seriusan ini!? kemana tujuan Mereka?”
“Pulau Pancing, disana ada sebuah Goa tak terlihat di dekat Danau!” jelas Yopi.
“Yang benar saja?! Kau tahu segalanya?!”
“Sudahlah bukan urusan mu juga! Dua kata! Jauhi mereka!” bentak Yopi.

Dengan terheran-heran Deden lekas meninggalkan Yopi.
Matahari sudah terbenam, angin malam mulai berdatangan, suara ombak ikut menyelingi tidur nyenyak para penumpang kapal.

“Hoi Bangun! Masih ada perjalanan!” Bentak Agung kepada Deden.
Deden pun langsung bangun.
“Ini, pegang peta ini, kau jadi navigator ku, kita akan ke vila kita yang kemarin aku beli!”

Deden menjadi terkejut setelah melihat peta itu, peta itu bersketsakan Pulau Pancing.

“Ngapa? Ada yang salah?”
“Enggak kok, Kak!” Jawab Deden.

Tak menunggu lama Ferari mereka langsung menunjukan kelasnya, Berpacu menuju vila milik Agung. Namun di sela-sela perjalanan mobil Ferari yang agung kendarai hampir kehabisan bensin. Terpaksa mereka memutar arah untuk menemukan Pom bensin di pulau terpencil ini.

“Akhirnya ketemu juga ni kedai bensin walau bukan pom” Ucap Agung.
“Ughhh, aku kebelit BAB lagi lah. Aku cari WC dulu ya, Kak?!”
“Ya sudah sana!” Jawab Agung.
“Pak, masih berapa persedian bensin disini?” tanya Agung kepada pemilik kedai bensin.
“kurang lebih 55 liter, Pak!”
“Ambil semuanya, tuangkan ke mobil saya, kasihan dia kehausan!”

Di tempat lain Deden masih sibuk mencari WC, ia sempat bertanya kepada pemilik kedai bensin tetapi di rumah si pemilik kedai bensin tidak ada WC. Kemudian ia berputar-putar melilingi daerah setempat dan akhirnya ia menemukan WC di tempat penginapan.

“Ahhhh, lega!”
“5000!”
“Mahal bangeet!!! Busyyet! Nih uangnya!”
“Disini jarang Mas yang punya WC!” bentak sang pemilik penginapan.

Tetapi Deden merenung sejenak, sepertinya ada yang salah dengan si pemilik penginapan ini.

“Ah, sudahlah tak ada yang aneh” pikir Deden dalam hati.

Ketika ia keluar dari tempat itu ia baru sadar penginapan itu berhadapan dengan Danau. Dan benar saja ketika ia berbalik pandangan dan melihat penginapan itu. Ia benar-benar melihat kejutan. Nama penginapan itu adalah PENGINAPAN GOA dan itu tak jauh dari danau, bahkan berhadapan. Itu berarti tempat yang dikatakan oleh Yopi waktu di kapal. GOA TAK TERLIHAT DEKAT DANAU.

“Yup! Pasti ini tempatnya”

Langsung saja Deden memasuki tempat itu dan langsung mencari Sang pemilik penginapan untuk menanyakan beberapa pertanyaan.

“Eh, eh, eh, Pak! Pak! betulkan ini tempat penginapan?” tanya Deden.
“Iya memangnya kenapa?”
“kenal sama Yopi gak, Pak?”
“Bentar ya aku akan sedikit memberi kejutan!” jawab Sang pemilik penginapan.

Tiba-tiba dua orang bersenjata lengkap menyergap Deden dan menyekap dan mengikat mulut Deden untungnya saja Deden masih sempat berteriak memanggil nama Agung, kakaknya.

“Aduh kenapa lagi sih…? selalu aja nyari masalah Deden ini.!” Kesal Agung.

Agung pun lekas ke tempat Deden berteriak, baru saja sampai di halaman tempat penginapan, ia di halang oleh seseorang yang sangat besar dan kekar.

“Huh…? Jagoan ya?” kata orang yang besar dan kekar itu sambil menunjukan otot-ototnya.
“Sini, akan ku tunjukan yang namanya jagoan!” balas Agung.
Perkelahian sengit tak dapat dihindarkan, beberapa tinjuan Bagong lancarkan. Dan, Bum! Sekali tendangan menghantam ogan vital si kekar.
“Cuihh, sudah kuhancurkan jagoanmu! Tidak tahu kalau aku mantan atlet taekwondo. Untung masih ada sisa-sisanya” kata Agung.

Di lain tempat Deden sedang berusaha meloloskan diri. Ia berhasil melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya, karena penjagaan tak terlalu ketat dan alhasil ia berhasil lolos dari penyekapan.

“Bodoh, hanya menyekapku dengan tali seperti itu! Jelas aku lolos!” Ucap Deden.

Di lain waktu sang Pemilik penginapan berlari menuju suatu ruangan bawah tanah, Agung melihatnya dan mencoba mencegahnya, tetapi tidak berhasil dan pintunya terkunci namun Agung tak tinggal diam, ia mencoba mendobrak pintunya.

“Bos, mereka berdua berhasil masuk!” jelas sang pemilik penginapan.
“Bodoh, aku pasti mati sia-sia nantinya, aku tak mau! Aku akan keluar lewat jalan darurat ini, kau disini saja! Diam dan lakukan semampumu”
“Ta.. tapi”

Di waktu yang sama Agung masih mendobrak pintu bawah tanah.

“Perlu bantuan?” tiba-tiba Deden datang membantu.
Sembari mendobrak pintu mereka bercakap-cakap.
“Harusnya aku yang membantu kamu, Den! Bukan kamu yang datang membantuku!” Kata Agung.
“Kita ini kan bersaudara harusnya memang bahu membahu”

Tak lama kemudian pintu berhasil di dobrak, mereka berdua lekas menju ruangan tersebut. Sesampainya di dasar ruangan, mereka dikejutkan oleh sang pemilik penginapan. Namun, Agung berhasil menjinakannya.
“Siapa Bos kalian! Atau kupatahkan kepalamu!” Desak Agung.
“Aku tak akan buka mulut!”
“Jangan bunuh, Kak! Disini banyak petunjuk, sepertinya ini ruang komunikasi serta ruang kendali” Jelas Deden.
“Aduh, terlambat sudah ku pukul kepalanya, tapi untung Cuma pingsan”
“Trevor Andi Santana! Ini nama bos mereka, nampaknya mereka berhubungan erat dengan Yopi, yang kita temui di kapal, atau malah bermusuhan” jelas Deden.
“Lha, kamu kok bisa di tangkap mereka?” tanya Agung.
“Tadi aku menyebutkan nama Yopi, setelah itu aku langsung di sergap!” jawab Deden.
“Berati mereka musuhan dong! Pasti ada yang di sembunyikan!”
“Betul juga!” kata Deden.
“Tapi bagaimana kita mencari Trevor Andi siapa tadi?”
“Santana! Tenang aja, Kak! Untungnya aku membawa alat-alat radio ku! Aku kan bekerja di Bandara di bagian komunikasi hehe. Jadi aku bisa melacak mereka melalui sinyal radio yang sering mereka gunakan untuk Komunikasi, kita tunggu saja! Pasti ada panggilan dari radio ini! ” Jelas Deden.

Mereka berdua menyiapkan alat untuk melacak sinyal itu. Setelah itu menunggu panggilan yang datang dari radio lain. Setelah berjam-jam akhirnya ada panggilan dari radio tesebut.

“Halo, disini pusat! Meminta jawaban, halo…”
“Bagaimana, Den?!” Tanya Agung.
“Sekitar pulau Nusa Tenggara, Kak. Tepatnya NTT”
“Ya sudah, kita kan menguak ini untuk beberapa hari kemudian, aku harus mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu” jelas Agung sembari berjalan keluar ruangan.
“Oke! Aku juga, Kak! Aku hanya ada cuti tiga hari, setelah itu aku harus bekerja kembali!”
“Sip! Kita menginap sehari di vila ku, dan kemudian kembali ke rumah!” ajak Agung.
“Yeah, aku mulai menyukai kondisi ini” Pikir Deden dalam hati.

Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat itu, dan segera menuju villa sang kakak. Mereka baru saja di sentuh petualangan yang hebat. Namun, setelah ini ada petualangan-petualangan lainnya yang sudah menganga di depan mata mereka, namun mereka tak menyadarinya, tetapi mereka akan menyelesaikannya.

Pembuat: Muhammad Septian Rachmandika

Pirate King

“hei anak nakal… serahkan rotimu”, perintah Tobby
“apa… aku tidak mau Tobby”, tolak Neat
“apa kau bilang”, Tobby hendak memukulnya
“arrrgh…” teriak Neat
Seseorang datang menghentikan amukan Tobby. “tunggu”, pinta seorang laki-laki. Tobby berlari, menuju rumahnya karena laki-laki itu mempunyai julukan Sharp. Semua orang disini tau kalau dia adalah seorang bajak laut yang terkenal. “terima kasih tuan”, kata Neat. “siapa namamu”, tanya Sharp “namaku Neat… aku juga ingin sepertimu Kuat dan tajam”, kata Neat penuh bercak kagum. “hemmz… suatu saat nanti kau pasti akan menjadi sepertiku.. percayalah pada dirimu dan ikuti nalurimu”, nasihat Sharp. Neat mengerti dan mulai saat itu dia bersumpah akan menjadi seorang bajak laut yang cerdik dan baik hati.

Beberapa tahun kemudian, ketika neat berumur 18 tahun. Akhirnya ia menjadi seorang bajak laut. Walupun dia masih sendiri tapi ia yakin akan menjadi bajak laut yang hebat. Ketika ia sampai di sebuah desa bernama desa Lion king. Dia memutuskan untuk berlabuh disana untuk mencari perbekalan. “ha… apa dia seorang bajak laut”, tanya seorang anak laki-laki “kelihatannya begitu”, jawab salah satu temannya “tapi aku yakin dia bajak laut yang ceroboh dan tolol ha…” ejek anak itu membuat teman-temannya tertawa. Ia berhenti di sebuah toko pedang dan pistol. Ia melihat-lihat bermacam-macam barang antik itu. Dan ia melihat sebuah pedang yang berkilau dan terlihat sangat tajam. “waw”, kata Neat
“itu adalah pedang Lion King… konon pedang ini adalah pedang pembawa keberuntungan”, ucap Kakek itu
“hebat… berapa harganya”, tanya Neat
“untukmu gratis karena hati kecilku berkata kau akan menjadi bajak laut yang…”, kata kakek terpotong. “itu salah bajak laut hanyalah sebuah sampah”, teriak seorang laki-laki yang seumuran denganku. Ia berlari keluar dari toko tersebut, “dia cucuku dulu dia sangat ingin menjadi bajak laut, tapi ketika ia melihat ayahnya sendiri mati karena di bunuh bajak laut ia pun bertekat bahwa ia akan membunuh setiap bajak laut”, ucap kakek panjang lebar. Aku mengerti perasaannya itu. Setelah itu aku pergi dengan membawa pedang itu.

Sampainya di tepi dermaga, aku melihat cucu kakek tadi. “hah… hari ini sangat indah ya”, gumam neat.
“mau apa kau kemari pergilah dan jangan kembali”, gerutunya
“siapa namamu”, tanya Neat
“namaku handy, siapa namamu” jawabnya
“namaku Neat”

Kami berjalan mengitari, perbukitan belakang desa itu. Kami bersandar di bawah pohon sambil melihat situasi desa. Akhirnya aku memang harus pergi, Handy mengantarku sampai ke dermaga. Tiba-tiba sebuah bom jatuh di atas desa. Dan membuat desa hancur, aku melihat bendera kapal itu. “itu adalah The evil… cepat bawa para penduduk ke atas bukit”,
“cepat semuanya pergi ke atas bukit”, teriak handy
Ketika kapal berlabuh, sesosok laki-laki berjalan keluar kapal. Dan ternyata itu adalah Sword, kapten bajak laut the evil yang sangat terkenal dengan kebuasannya. “sword…”, ucap neat
“Neat Pirate King… ha…”, ejek Sword
“dasar bajak laut jahat” teriak handy
“Ha… prajurit”, dia memerintah pasukannya menyerang mereka. Neat mencabut pedangnya dari pinggangnya. “terima ini”, dia menebas semua prajurit di bantu dengan handy, ternyata dia pandai Ilmu bela diri. “kau bagus juga” puji Neat. “Kau juga”, timpal handy. Sampai tersisa hanya dia, dia adalah manusia yang mempunyai kekuatan mengubah tangannya menjadi pedang dan pistol. Dia menembak kami, “gawat aku harus… menggunakannya”, aku memakan sebuah pil. Dan ketika Sword menembak kearahku, aku hancur menjadi beribu-ribu ekor semut kecil. Dan menjadi manusia utuh lagi, “apa…” ucap Sword kaget. Dan handy juga mengeluarkan jurus andalannya, ia menjadi harimau yang lapar dan mencabik-cabik Sword.

“ha… akhirnya selesai juga” kata handy dengan nafas terengah-enggah
“kau hebat handy”, puji Neat
“kau juga”,

Seluruh warga turun ke desa, tapi kakek Handy meninggal terkena Bom tadi dan menjadikan Handy sangat sedih. Setelah pemakaman kakek Handy Neat harus pergi, dan mendapatkan cita-citanya menjadi Raja bajak laut. “tunggu…” teriak handy. “ada apa”, kata Neat
“bolehkah… aku… ikut denganmu”, ucap Handy
“apa”
“kakekku, telah meninggal dan aku ingin menjadi sepertimu”, tawar Handy
“baiklah cepat bawa bajumu”
Kamipun bersama-sama berlayar menuju ke tempat selanjutnya.

Handy dan Neat melanjutkan perjalanan mereka menuju Minning town. Karena daerah tersebut banyak dijumpai, berbagai barang-barang tambang yang mahal. Di sana, kami berjumpa dengan banyak sekali bajak laut seperti kami. Dan kami memutuskan untuk mencari kedai di daerah itu. “Handy, sebaiknya kita berhenti sejenak”, ajak Neat. “iya… aku juga lapar”.

Kami mencari makan dan menemukan Kedai yang cocok untuk kita berdua. Kami masuk kedalamnya, dan mendapatkan sebuah sup bebek yang enak dan lezat. “ini…” kata seorang wanita pelayan toko.

Kami melanjutkan perjalanan kami, untuk berkelana. Tapi tiba-tiba terdengar teriak orang meminta tolong. Kami berlari menuju letak suara itu. Ternyata wanita pelayan kedai tadi di tangkap oleh. Kapten Fart, kapten yang jahat dan kejam. Dalam sekejap dia menghilang, seseorang datang dan berteriak. “Prety, dimana kamu nak”, teriak seorang laki-laki setengah baya. “maaf… tapi tadi anak bapak di bawa kapten Fart”, jelas Handy. “apa…”, ucapnya kaget.
“aku tau dia siapa… kami akan mencarinya”, kata Neat
“baiklah… hati-hati markasnya ada di teluk Kegelapan”, pintanya

Kamipun segera menuju kapal dan berlayar ke teluk kegelapan. Kami segera menyiapakan energi, karena Teluk Kegelapan berada Di daerah timur yang letaknya lumayan jauh dan bisa di tempuh dalam 2 hari. “siapa sebenarnya Fart itu”, tanya Handy
“aku hanya menendengar nama itu di waktu aku kecil, dialah yang membunuh keluargaku”, jelas Neat.

Akhirnya kita sampai di teluk kegelapan, teluknya dipenuhi kapal-kapal penjahat dan perampok. “akhirnya kita sampai”, neat melihat kapal-kapal berbaris rapi. Mereka menepikan kapal mereka agak jauh dari mereka. Kami melakukan penyusupan, satu demi satu ruangan kami cari untuk menemukan Prety. Tapi dari sekian banyak kapal kami belum menemukan Prety. Sampai kami menuju ke ruangan rahasia kapten fart. Kami mendengar seseorang berbicara. “cepat katakan dimana kau sembunyikan batu Vigor”, gerutunya. “sampai matipun aku tidak akan memberi taumu”, geramnya. “jadi kau berani, baiklah… pedang naga hitam”, dia menariknya dari saku bajunya dan terdengar suaru gemuruh petir ketika ia menariknya. Apakah benar yang ku lihat itu, itu adalah pedang naga hitam pedang yang sangat sakti dan kejam. Menurut legenda tidak akan ada yang mengalahkannya. Kecuali satu hal, yaitu pedang naga putih. Tapi aku tidak tahu dimana letak pedang itu. Handy menjadi semakin geram dengan kejahatan Fart, dia membuka pintu itu. Dan…
“o… Handy manusia hewan”, kata Fart
“diam kau Fart…”
“Handy.. jangan gegabah, dia lebih kuat dari yang kita bayangkan”, tegas Neat
“ha… jadi kau menantangku pengecut”, tawa Fart
“Begini… kau bebaskan prety sementara aku akan bertarung dengannya untuk mengalihkan perhatiannya”

Aku mengeluarkan salah satu pedangku, pedang Elang. Aku hendak menyerangnya tapi pedangnya menghentikan langkahku. “heh… pusaran petir”, petir menyambar dari arahnya yang bengenai pedangku. Dan… “arrrgh…” petir tersebut menyambar tubuhku. “Neat”, teriak Handy. “cepat bawa Dia”, handy membawa Prety menuju kapal.
“kau tetap disini aku akan segera kembali”,

Handy penyusulku, “ah… sudah cukup permainanya aku akan membunuhmu”, dia mengayunkan pedangnya ke arahku. Dan aku menghentikannya denngan pedangku hingga menjadi debu. “Neat”, pinta Handy
Handy mengubah tubuhnya menjadi gajah. Dan membawaku ke kapal, karena aku terluka parah. “gawat… dia menderita luka yang parah”, katanya
“apa yang harus kita lakukan”,
“aku dulu seorang dokter… biar aku tangani”, perintahnya

Beberapa jam kemudian, Prety keluar dan memberi tahuku. “bagaimana keadaannya”, gumam Handy. “syukurlah dia tidak papa, tapi dia masih butuh istirahat” kata Prety. Mendengar sahabatnya tidak apa-apa, Handy sangat lega. Dan masuk ke dalam kamar neat. Beberapa hari kemudian, akhirnya Neat pulih seperti sedia kala. Neat memegang pedang kesayanganya, dan pedang satu-satunya. “Neat… apa kau baik-baik saja” tanya Prety. Prety melihat pedang yang di pegang Neat. “astaga…”, ucap Prety kaget. “ada apa… Prety”, tanya Handy.
“pedang itu… adalah pedang naga Putih pedang dan dapat mengalahkan Fart”, jelas Prety
“benarkah”
“benar… kau lah pahlawan itu, kaulah yang bisa mengalahkan Fart”, tegas prety

Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke gunung vigor. Untuk mencari batu legendaris itu, tapi setengah perjalanan kami pertemu dengan Fart dan anak buahnya. “apa kalian mau mati”, tanpa basa-basi lagi fart mengarahkan pedangnya ke arah kami. Dan aku mencabut pedangku dari pinggang. “rasakan ini, jurus badai topan”, badai pun datang menyeret semua anak buah fart. “apakah itu pedang naga putih”, tanyanya dalam hati. Handy merubah dirinya menjadi Serigala. Dan Prety menjadi manusia beton dan mengunci seluruh tubuh fart. Neat pun mengayunkan pedangnnya, “ini dia Pusaran angin topan pedang”, pusaran angin topan yang dasyat membawa Fart serta Pedang-pedang itu menghunus tubuh Fart. “arrrrgh…”, teriak fart. Akhirnya kami menang dan Prety memutuskan untuk ikut bersama kami.

** Tamat **

Pembuat: Dini Aprilia Purnamasari

45 Derajat Senyummu Merubah Arah Kompasku

Pada saat itu hari sabtu Sepulang sekolah, aku merencanakan mengajak sacna, andika untuk berkemah di gunung manglayang, jelas mereka pun mau karena kami bertiga memiliki hobi yang sama, kami bertiga memang sahabat sejati karena kami mengikuti ekstra yang sama ya itu pramuka dan kami sering mengikuti banyak perkemahan dan berbagai macam masalah

Udara semakin dingin, matahari sudah terbenam dua jam yang lalu, kami pun terus berjalan dalam kegelapan, suasanapun semakin hening takala sacna mengarahkan senternya ke bawah pohon yang rindang dan berkata
Sedang apa neng ko diem di situ mendingan ikut sama kita.. :D
Jelas hal itu membuat kami kaget dan ketakutan setengah mati dan berlari meninggalkan sacna
Heyy tunggu harr aku kan hanya bercanda..
Yang benar aja sacna di di situkan ga ada siapa-siapa..!
iya deh maaf

Malam semakin larut tidak terasa Kami pun sampai di puncak tepat jam 12 malam
Huuh akhirnya sampai juga
Iya sacna, ayo dirikan tenda
Okelah
Tenda pun berdiri kami bertiga menyalakan api unggun dan bermain gitar sampai subuh..

Dua hari berlalu aku dika dan sacna mulai kelaparan pada saat itu bahan bakar dan cadangan makanan menipis hanya tersisa satu blok paraffin dan juga dua bungkus mie instan dan satu telur, kami memasak persediaan terakhir kami ternyata sebelum semua mie matang paraffin sudah meredup dan mati terpaksa kami membagi makanan itu menjadi tiga dan di makan bersama karena kebersamaan yang sangat erat kami merasa enak-enak saja memakan mie dan telur mentah itu, karena hal itu sudah sering kami alami, hampir semua pengalaman susah senang kami rasakan bersama yang membuat persahabatan kami bertiga makin erat
Karena semua cadangan makanan sudah habis kami memutuskan untuk pulang berjalan kaki sampai sekolah di sana kami berpisah menuju rumah masing-masing

Keesokan harinya seperti biasa ibu guru mulai mengabsen setiap murid yang ada
Anak-anak hari ini ibu akan memperkenalkan murid baru dari sman 45 surabaya namanya Chika trirani
Silahkan masuk dan perkenalkan diri
Nama aku Chika trirani aku tinggal di jl randusari salam kenal…
Sambil memperkenalkan diri aku memandang wajahnya yang memang cantik dan suara yang lembut di tambah tubuhnya yang ramping putih dan rambutnya sepundak membuat aku penasaran akan wanita yang bernama Chika itu

Selesai berkenalan ia pun duduk di sebelah aku yang memang pada saat itu sedang kosong karena pada saat itu sacna sedang tidak masuk, aku pun mempehatikan wajahnya yang membat ia tersenyum, lalu aku pun bertanya
Kenapa kamu pindah ke sekolah ini?
Orang tua aku pindah dinas jadi aku harus mengikutinya juga
Ouh begitu, orang tua emang suka seenaknya saja padahal kan sulit mendapatkan teman
Iyaa orang tua suka begitu yang terkadang buat aku kesal
Sabar ya, sama orang tua aku juga menyebalkan ia suka melarang aku kemah menginap ber hari-hari
Apa..? berhari-hari
Iya, balas ku
Wow keren aku juga sangat senang berkemah
Kemarin aku, sacna dan dika pun baru pulang berkemah selama tiga hari kami pulang karena cadanggan makanan habis
Ohaha kalian pulang karena kelaparan..?
Yaa bisa di bilang begitu
Waktu dulu aku memanfaatkan apa saja yang bisa di makan di hutan..
Ohh hebat juga kamu

Obrolan semakin asik tetapi terhenti karena ibu guru yang datang ke mejaku
Haryandhi ngobrol truss ayo ke depan dan kerjakan soal nomer Satu
Iya buu
Chika pun tertawa kecil karena melihat ku di marahi itu pun membuat ia terlihat makin manis pikirku
Bel pun berbunyi semua anak berhamburan keluar kelas tetapi entah kenapa mataku tetap menatap Chika wanita itu begitu menarik di mataku karena sangat jarang ada wanita tomboy yang cantik dan suka berkemah

Keesokan harinya aku datang pagi-pagi dan langsung melihat bangkuku, di sana ada Chika yang sedang berbicara dengan sacna, benar saja mereka sedang meributkan tentang tempat duduk, Karena merasa anak baru ia pun mengalah dan duduk di belakang sendirian, lalu sacna pun bertanya
Har siapa sih itu…?
Itu anak baru dari Surabaya..
Ouh cantik juga yah lumayan tuh, tapi aga tomboy
Ohahah pastinya, iya aga tomboy hobinya juga sama kaya kita suka kemah
Jarang banget ada cewek kaya gitu, bulan depan kan ada acara kemah juga kita ajakin yuk
Okelah

Beberapa teman ku ada yang tidak menyukai Chika ia adalah toni, toni sangat kasar pada setiap wanita yang ia tidak sukai, entah mengapa ia tidak suka sama Chika mungkin karena ia tomboy atau karena Chika anak baru yang lumayan pintar, sampai suatu saat aku melihat toni sedang menarik rambut Chika, ia pun mengerang kesakitan, lalu aku melepaskan tangan toni, tanpa disadari aku terus membelai rambut Chika yang pendek itu,
Ko lembut kamu baru keramas yah..?
iya pun menengok kebelakang dan menjawab
iyaa tadi keramas pake pantene harum yah..
iya jawabku
Entah kenapa kejadian itu sulit untuk dilupakan dan selalu muncul dalam benak ku kurasa semenjak itu aku mulai menyukainya.

Hari pun berlalu ulangan trigonomerti sampai ulangan limitpun telah kami lewati bersama, aku rasa iapun cukup memberi harapan tetapi aku dan dia sudah cocok menjadi teman yang cukup akrab,
tidak kusangka andika juga menyukai Chika, aku tidak heran akan hal itu karena orang seperti Chika sangat mudah untuk di kagumi tetapi kenapa harus Chika padahal banyak cewek lain di kelas, aku ingat ketika andika berusaha menggombali Chika, tetapi bukan hal yang romantis yang terjadi, tetapi Chika hanya memberi muka dingin seperti patung kepada andika dan meninggalkanya, jelas saja hal itu membuat andika mati langkah dan malu sampai ia galau berhari-hari

Hubungan aku dan Chika pun semakin erat kamipun sering berjanjian untuk nonton bioskop dan juga makan malam tapi kurasa ia hanya menganggap aku hanyalah teman biasa, pernah aku isenng-iseng menanyakan perasaan ia kepadaku ia tersenyum dan menjawab aku suka sama kamu, jawaban itupun membuat aku senang dan aku memutuskan untuk menjadikan Chika menjadi pacarku, ku pikir ia hanya bercanda tentang hubungan kami seperti halnya candaan ia yang terkadang serius, tetapi kurasa ia benar menyukaiku yang apa adanya ini.

Waktu pun berlalu septian sang pradana pramuka mengumumkan tentang akan diadakannya kemah dan perlombaan peta kompas di gunung manglayang, aku Chika boy dengan sacna dan teman teman yang lain berangkat kemah
Saat kemah kamipun mendirikan dua tenda masing-masing untuk laki-laki dan perempuan, malampun semakin larut kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana lalu dika pun bertanya
Hey har kayanya asik kalo kita jalan-jalan ke hutan sambil cari kayu bakar
Ah kamu dik suka aneh-aneh aja, tapi ayo kita cari keburu kayu nya habis

Aku dan dika mencari kayu bakar ditemani senter dan sebilah pisau, aku dan dika pun berkeliling di sekitar tenda untuk mencari kayu bakar dan jalan-jalan membuang kepenatan, setelah cukup banyak aku dan dika kembali ke tenda dari kejauhan aku melihat sacna sedang menggoda Chika sontak membuat aku kesal
Sacna lagi apa kamu?
Santai bro aku kan hanya bercanda
Ouh begitu ya udah ini kayu bakar..

Malampun berlalu hampir tiap ada kesepatan aku selalu berdekatan dengan Chika, keesokan harinya lomba peta kompaspun di mulai tepat jam 4 sore aku di tugaskan memegang kopas dan andika memeriksa rute yang akan kami lalui, tak terasa hari mulai malam
Gelap terbentang luas menyelimuti hutan, Udara dingin setia menemani tiap langkah kami, aku Chika, sacna dan andika di tugaskan berangkat ke suatu titik di tengah hutan dengan panduan peta dan kompas, kami berempat jalan menysuri jalan setapak, dengan sigap sacna memotong dahan yang menghalangi
Cik kamu cape..?
Engga ko tapi ko disini dingin banget..
Iya sini biar aku peluk
Ah kamu suka ambil kesempatan aja

Setelah lama asik mengobrol dengan Chika tidak kusadari kompas ku telah melenceng 45 derajat dari rute, jelas hal ini membuat kami melenceng berkilo meter jauhnya dari rute di peta, kami pun tersesat jauh ke dalam hutan karena kecerobohan ku, telah beberapa kali andika dan sacna menyalahkan ku, akupun menyadari akan hal itu
Waduh gimana ini har kita tersesat jauh banget
Ya udah kita balik lagi aja
Coba kita cocokan peta nya dengan kompas
Gawat tempat ini udah di luar peta
Jadi gimanaa (Tanya Chika kebingungan)
Coba kamu telepon panitia
Boro-boro td jg sms mamah aku g bisa di bales di sini bener-bener gaada sinyal…!
Ya udah terpaksa kita buat bivak dan juga api unggun kita bermalam di sini untuk menunggu panitia mencari kita

Malam semakin larut, kami pun membuat api unggun dengan peralatan yang ada sesudah itu kami beristirahat sambil mencari ide untuk keluar dari hutan ini, lalu dika pun bertanya kepadaku
Har Bagaimana jika tim kita kalah…?
Tenang masih ada tim-tim dengan rute yang lebih dekat mungkin mereka sudah sampai ke titik itu, yang penting sekarang kita semua dapat selamat dan keluar dari hutan ini
(tiba-tiba terdengar suara serigala yang tidak terlalu jauh) auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Kamipun kaget bukan main
Harrr apa itu aku takut (tampak Chika ketakutan)
Tenang itu hanya serigala mereka takut pada api
Terasa suara itupun semakin lama semakin dekat kearah kami
Aku dika dan sacna pun merancang starategi agar kami tidak jadi makan malam serigala tersebut
Sacana: Cik kamu sebaiknya naik kepohon itu biar kami yang hadapi seriagala itu
Haryandhi: iya cik supaya kamu selamat
(cika pun naik ke pohon dibantu oleh aku dan dika)

Dengan bermodal dua bilah pisau dan keberanian kami pun merancang strategi untuk melawan serigala itu
Sacna: har bagaimana jika kita bertiga naik ke pohon serigala kan engga biasa manjat
Haryandhi: ide bagus, tetapi penciuman mereka sangat tajam bereka pasti tau keberadaan kita dan menunggu di bawah pohon sambil menggongong
Dika: har sisa kornet kamu masih ada…?
Haryandhi: masih, buat apa dik?
Dika: buat umpan pasti serigala itu lebih tertarik kepada bau kornet itu dibandingkan bau kita, kita pun harus menyamarkan bau kita dengan lumpur
Haryandhi: itu ide bagus dik kau memang jenius
(dengan cepat kamipun melulurkan lumpur ke tubuh kami)

Haryandhi: jadi gini kornet ini di simpan tepat di bawah pohon lalu kita pasang jerat dengan tambang pramuka ketika serigala itu tepat berada pada target kita tarik tambang itu secara bersama, lalu kita bunuh serigala itu
Sacna: bagaimana jika serigala itu berkelompok?
Haryandhi: matilah kita, tapi tenang aja kayanya serigala itu hanya satu terdengar dari suaranya, oke semua siap..?
Sacna, dika: siap harr

Kamipun memasang umpan dan jabakan dengan tambang pramuka tepat pada tempat yang sudah di rencanakan sebelumnya
Malampun semakin larut aku melihat jam dan sudah jam setengah dua subuh, apakah ada serigala yang masih punya selera makan jam segini pikir ku
Suara itupun semakin dekat kira-kira sudah beberapa meter dari jarak kami
akupun menunjukan jempol kepada kedua temanku tanda bahwa sudah siap, terlihat seekor serigala berwarna hitam legam dengan gigi seram, yang terlihat keluar dari rindang nya pohon, ia pun perlahan-lahan mendekati umpan kami tanpa menyadari keberadaan kami, tanpa ada rasa curiga serigala itu makan kornet bekas makan siangku
sudah terlihat serigala itu telah berada pada titik target dan sudah sedikit terlilit tali
haryandhi: tarik…!
Kamipun loncat dari pohon sambil menarik tali itu, terlihat seekor srigala hitam besar tergantung di atas pohon sambil menggogong tidak beraturan, salah satu kaki belakang serigala itu terikat tali sehingga serigala itu masih dapat berayun-ayun
Dika, sacna: horee kami berhasil
Haryandhi: dik kencangkan tali itu agar serigala itu tidak lepas, dan juga ikat leher serigala itu
Dika: okee har

Dengan sigap aku menusukan pisau ke leher serigala itu, suara lingkingan pun terdengar darah pun bercucuran membasahi sebagian lengan ku, akupun mengoyak leher serigala itu agar sepat tewas, tetapi serigala itu tetap berbunyi, sacna dan dika pun membawa tongkat pramuka untuk memukul serigala tersebut, sudah beberapa puluh pukulan mendarat pada tubuh srigala itu dan akhirnya serigala itu pun tewas.
Kami semua pun senang karena telah mengalahkan serigala itu tetapi aku tidak memberi aba-aba kepada Chika untuk turun dari pohon karena aku khawatir jika terdapat serigala atau hewan buas yang lainya, beberapa menitpun berlalu setelah kurasa aman ku panggil Chika untuk turun
Chika: harr hebat banget kamu bisa ngalain serigala kamu emang pacarku yang paling keren
Haryandhi: iya dong demi ngelindung kamu
Chika: ah so sweet
Dika: aduh saat genting gini masih sempet aja pacaran

Malam pun terasa hening dan damai takala kami telah membunuh serigala tersebut waktu pun berlalu tak terasa waktu telah menunjukan jam lima subuh, api unggunpun mati karena kayu yang telah habis, dinginpun membangunkan kami yang sedang terlelap tidur
Dika: har ga kerasa udah pagi lagi ayo kita cari pertolongan
Haryandhi: ayo, sacna jaga Chika
Sacna: oke bro
Aku dan dika berjalan ke tempat kosong untuk mencari pertolongan, kami pun membakar api untuk mengirimkan simbol pertolongan, asap pun membumbung tinggi ke langit beberapa jam kami menunggu perut ini sudah terasa lapar tetapi hanya ada daging serigala yang haram untuk di makan..

Matahari pun mulai meninggi Aku pun melihat jam yang telah menunjukan jam 10 pagi, dari kejauhan kami melihat sekumpulan orang berbaju oren datang kearah kami mengunakan mobil jeep, setelah kuperhatikan itu adalah panitia dengan tim penolong bersama teman-temanku, kamipun merasa senang karena telah datang bantuan, perlahan tapi pasti merekapu sampai ke tempat kami berada
Panitia: apakah ada yang terluka
Kami: tidak pa
Panitia: syukurlah kalian selamat kami sudah khawatir kepada kalian tetapi mengapa kalian tidak sampai pada titik yang telah kami tunjuk..?
Haryandhi: kami tesesat pa
Panitia: mengapa ada bangkai serigala? Itu adalah serigala yang sering memakan korban para pendaki gunung dan sering menggegerkan warga di sekitar hutan ini mengapa hewan buas itu mati? apa yang sebenarnya terjadi…?
Haryandhi: nanti saya ceritakan pa, sekarang kami lapar dan haus
Panitia: baiklah ayo naik ke mobil dan makan beberapa makanan, dan bawa bangkai serigala itu sebagai bukti bahwa pemangsa di hutan ini telah tewas

Dalam perjalanan kami menceritakan semua kejadian yang telah kami alami semalam kepada panitia, tim sars dan kepada teman-teman, mereka semua kagum kepada apa yang telah kami alami semalam, panitia pun bercerita bahwa hampir setiap di adakan perkemahan dan pendakian sering memakan korban jiwa disebabkan serangan serigala, pernah diadakan perburuan bersama warga setempat tetapi serigala itu sangat cerdik dan sulit di tangkap, sudah lama panitia itu mengincar sang serigala

Kamipun tiba di perkemahan dan langsung di bawa ke tenda PMI untuk beristirahat, selesai beristirahat kami pun bersiap untuk mengikuti upacara pengumuman pemenang dan pembagian piala, akupun sudah hilang harapan karena saat lomba kelopoku tersesat dan tidak sampai titik koordinat yang di tuju
Saat pengumumnpun dimulai seperti biasa ka kwarda member sambutan, saat di umumkan ternyata sangga dari ambalan bima sakti menjadi juara tiga, dan selanjutnya sangga dua dari ambalan ku menjadi juara ke dua karena telah sampai lebih awal, syukurlah ambalanku meraih juara tapi siapa yang menjadi juara satu, akupun kaget karena ternyata sanggaku yang menjadi juara satu, tapi mengapa tanyaku dalam hati

Ka kwarda pun menjelaskan bahwa sangga ku telah berjuang dan menyusun startegi menurut teknik kepemimpinan untuk melindungi sahabat, dan telah menyingkirkan ancaman terbesar bagi para pendaki dan penduduk sekitar gunung yaitu serigala hitam
Karena itulah ka kwarda menyerahkan piala juara satu kepada ku sebagai ketua sangga, kami pun merasa senang akan hal ini, selesai pengumuman kami pun merobohkan tenda dan bersiap untuk kembali pulang ke rumah, aku pun mendapat ucapan selamat dari banyak orang terutama dari Chika.

Kamipun tiba di rumah masing-masing, hari begitu cepat berlalu, saat di sekolah aku, sacna dan dika sempat di interogasi oleh wali kelas tentang hal yang pernah kami alami, kami pun menceritakan kembali secara rinci kepada wali kelas, ia pun kagum akan kekompakan kami sebagai tiga sahabat

SELESAI

Pembuat: Haryandhi