Wednesday, January 7, 2015

Janeta a Hero

Mentari mulai redup, dan menghilang di ufuk barat. Menambah indahnya negeri hijau, yang penuh kedamaian dan keindahan negeri ini. Negeri ini merupakan negeri ideal, karena selain indah negeri ini juga bebas dari polusi. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku, dan menghentikan lamunanku. Sebenarnya sedari tadi aku menunggunya, dan benar saja yang datang adalah ayahku. “ayah akhirnya kau pulang”, ucapku sambil berlari memeluk ayah. Sudah 2 bulan ayah tidak pulang, karena bertugas di ibukota. “ayah-ayah mana oleh-olehku”, rengek adikku yang berumur 4 tahun. “iya ini untukmu, dan ini untuk Janeta”, pinta ayah sambil membagikan oleh-olehnya. “ayah apa besok ayah akan pergi kembali”, tanya ibu kepada ayah “tentu tapi setelah itu ayah akan bertugas kembali di kota ini”,

Aku membuka oleh-olehku dan ternyata isinya adalah sebuah skateboard yang sangat aku inginkan dari dulu. Dan adikku mendapatkan sebuah tas sekolah, “ye… terima kasih ayah”, ucapku kegirangan. “yah kenapa aku medapatkan tas”, pintanya merengek-rengek. “Sebentar lagi kan kamu masuk sekolah jadi sebaiknya oleh-olehnya adalah tas”.
Setelah itu, aku menuju lantai 2 rumahku dan menuju kamarku. Kamarku menjadi satu dengan adikku, karena dia masih belum berani tidur sendirian.

Keesokan harinya, “Janeta bangun sayang kan hari ini kamu ada kemping”, pinta ibu sembari membangunkanku. Aku berjalan menuju kamar mandi, dan setelah itu sarapan bersama ayah, ibu dan juga Sam adikku. “kakak mau kemana”, tanya Sam kepadaku “kakak akan pergi, tidak lama kok hanya 3 hari”. Setelah itu aku pergi ke sekolah dan segera menuju tempat kemping.

“Janet, aku gak sabar nih”, gerutunya berulang kali, “iya-iya”, sesampainya disana, kami segera mendirikan tenda. Sampai malam tiba, dan… petualangan dimulai, ketika aku hendak mencari ranting untuk api unggun bersama Ririn teman dekatku. Tiba-tiba hujan turun, kamipun mencari tempat berteduh. “aduh hujan, gimana ini Janet”, tanya Ririn resah, “sudahlah… lihat itu ada gua mari kita berteduh”, pintaku sambil berlari menuju gua itu. Kami masuk gua itu, tak disangka didalam gua itu terdapat pintu yang bertuliskan. Pintu Negeri Bunga. Kami memutuskan untuk masuk kedalamnya, dan melihat bunga-bunga yang tersebar luas di semua tempat. ” \Janeta, kita ada dimana”, tanya Ririn ketakutan.
“selamat datang di negeri Bunga”,
“si… si..apa kau, dan dimana kami”, tanyaku kepada pria misterius itu,
“aku pangeran Peter dan kalian ada di negeri Bunga”,
“negeri bunga, tapi kami berasal dari negeri hijau”, kataku
“iya, aku tau kau dan temanmu adalah orang pilihan untuk mengeluarkan kami dari kesengsaraan”, gumam Peter panjang lebar.

Diapun mengajak kami kesebuah Castel besar dan megah tempat tinggalnya. “wah ini sangat megah”, kata Ririn, “Flori bawakan mereka makanan”, perintah Peter kepada pelayannya. Setelah itu dia menjelaskan bahwa kerajaannya dalam bahaya. Itu semua terjadi karena Penyihir jahat Hanna, dia menghancurkan kota dan mengurung keluarganya. Hanna melakukannya karena, ia ingin balas dendam dengan Raja yang telah merusak hidupnya. “jadi itu yang terjadi, apa yang bisa kami bantu”, pinta Janeta. “kalian melakukannya bersama Alfred panglima perang kami, dialah yang akan menuntun kalian”. Keesokan harinya kami segera memulai perjalanan panjang kami.
“kita akan kemana panglima”, tanyaku
“panggil aku Alfred”,
“baik Alfred”, kataku
“kita akan menuju Hutan Terlarang dan mendapatkan bunga ajaib”,
“bolehkan aku bertanya”, tanya Ririn
“tentu”, jawabnya
“kenapa kalian memilih kami”, tanyanya lagi
“karena menurut legenda hanya bangsa negeri hijaulah yang bisa menolong kesengsaraan kami”,

Setelah itu kami berhenti di sebuah kota bernama Blackcity. Kota ini penuh dengan penjahat dan perampok, kami berhenti sejenak dan menyewa penginapan. “Janeta, aku rindu ayah dan ibu”,
“aku juga Ririn. Tapi negeri ini bergantung di tangan kita”, jawabku penuh percaya diri
Disisi lain di Istana Flower yang dipimpin oleh Penyihir Hanna, sudah tau siapa yang akan menjadi penghalangnya. “yang benar saja, anak berusia 14 tahun menjadi pahlawan”, katanya sambil tertawa melihat bola Kristal ajaibnya. “benar baginda, apa yang harus kita lakukan”, tanya seorang laki-laki bertubuh kecil dan pendek. Hanna pun merencanakan sesuatu.

Keesokan harinya di kota Blackcity, Janeta, Ririn dan Alfred sedang menyiapkan perlengkapan untuk perjalanannya nanti.
“Janeta, setelah ini kita kemana”, tanya Ririn kepadaku
“kitakan akan pergi ke hutan terlarang”, jawabku
“aku jadi takut nih”, kamipun memutuskan untuk pergi lebih awal. Agar kami datang tepat waktu, jalan bekelok-kelok kami lewati. Tanpa terkecuali jalanan yang berbahaya, tiba-tiba kami dihadang pasukan berkuda tepat di tengah hutan terlarang. “kalian tidak boleh kemari”, kata seseorang yang membawa pedang besar. “kalian adalah utusan penyihir Hanna bukan”, tanya Alfred marah. Terjadi pertarungan sengit antara Alfred dan 7 pasukan berkuda. “aku takut Janeta”, aku bingung dan ketakutan. Aku melihat sebuah cahaya dari sepucuk bunga. Apakah itu bunga ajaib? pintaku dalam hati, aku mengambilnya dan seketika berubah menjadi sebuah pedang ajaib. Tanpa pikir pajang aku membantu Alfred mengalahkan musuh. Hingga pasukan itu tinggal satu orang, dan dia lari dan menghilang. “kau hebat Janeta”, katanya dengan nafas terengah-engah. “apakah ini bunga ajaib”, tanyaku.
“benar itu bunga ajaib, kau adalah prajurit sejati”,
Kamipun melanjutkan perjalanan ke Istana Flower untuk mengalahkan Hanna sang penyihir jahat.

“maaf baginda tapi pasukan kami kalah”, pintanya
“bodoh, cepat penggal dia”, diapun melihatku dari kristal ajaib, dan melakukan sesuatu. “kau tadi sangat hebat Janeta”, kata Ririn memujiku. “lebih baik kita dirikan tenda disini karna hari mulai malam”, kamipun mendirikan tenda di pinggir danau. Badan yang sangat lelah dan pegal membuat kami cepat tertidur. Keesokan harinya, sebelum berangkat kami membuat rencana untuk mengalahkan Hanna. “sebentar lagi kita akan sampai, tetaplah waspada”, pinta Alfred
“apakah kita akan berhasil Janeta”, kata Ririn. Tapi aku tidak menjawab, dan terlihat sebuah bangunan besar nan megah berhias berlian-berlian yang cantik. Dan terlihat pula diatas istana itu sesosok wanita yang memakai sebuah jubah berwana hitam dan sebuah Kristal ajaib. “apakah dia Hanna sang penyihir jahat”, tanyaku, dan Alfred hanya mengangguk.
“selamat datang di istana Flower, kalian akan bersenang-senang cepat bunuh mereka”,
Aku memohon kepada Bunga ajaib agar berubah menjadi pedang dan baju perang. Ternyata berhasil aku segera memakainya dan bertempur melawan mereka.

Ketika Alfred sedang bertarung, tiba-tiba sebuah bola merah menuju aku, dan…” tidak…”, Ririn mendorongku hingga jatuh dan bola itu mengenainya. “Ririn bangun, bangun Ririn”, kataku sambil menangis. “dia akan selamat jika kau bisa membunuh Hanna dan memakai mahkota dewa”, tanpa pikir panjang aku berlari menuju Hanna, dan bertarung denganya. Dia mengeluarkan sebuah tongkat dan menjadikannya sebuah Panah. “kau akan mati… ha…ha…ha…”, dia menggunakanya untuk mengincarku, tapi bukan aku yang terkena, tapi Afred. “jangan-jangan lagi, cukup aku akan membunuhmu”, aku berlari, mengincar hanna. Aku melihat sebuah Kristal tepat di tengah dadanya. Aku berpikir mungkin itulah kelemahannya, aku bergerak sangat lincah walaupun dia mengenai lenganku. Dan kuayunkan pedangku ke arahnya, dia menjadi seekor burung hantu dan hancur menjadi serpihan debu. Aku bergegas menuju Aula dan mencari dimana letak Mahkota dewa. “dimana, mahkota dewa”, aku melihat seseorang berteriak padaku “ada di dalam kota merah itu, cepat kau tidak punya banyak waktu”, teriak gadis yang seumuran denganku.

Aku membuka kota itu, dan melihat sebuah mahkota yang sangat berkilau, aku memakainya di atas kepalaku. Dan tiba-tiba sinar putih berputar di dekatku dan mengubah bajuku. Aku mengenakan sebuah gaun indah dan mahkota di atas kepala. “Janeta kau berhasil”, teriak Alfred. “Alfred”, aku memeluknya dengan bercucuran air mata. “Janeta”, pinta Ririn. “Ririn kau selamat”,
“selamat atas kemenanganmu”.

Setelah itu pesta besar terjadi di Istana, tapi kami harus pergi. Alfred mengantar kami ke pintu dimana kami datang. Kamipun memasukinya, dan kami kembali ke goa yang kami datangi. Dan kami segera kembali ke perkemahan. Setelah 3 hari kami pulang, ke rumah dan kami memutuskan untuk merahasiakan hal itu semua.

Pembuat: Dini Aprilia Purnamasari

Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 2)

Ketika aku terbangun di pagi hari, aku tidak melihat keberadaan Adit di sampingku. Sepertinya Adit sudah terbangun sedari tadi, aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari Adit untuk mengajaknya segera pergi dari desa ini.
“Adit Sedang membantu Ibu di pasar, Nak” kata Bapak sambil mengasah cangkulnya.
Aduh… Gawat, bagaimana ini tanyaku dalam hati. Yaa Tuhan aku bingung harus berbuat apa saat itu, hati dan pikiran ini di gelayuti perasaan yang tidak enak.

Aku berjalan mondar-mandir di depan halaman rumah. Sudah seharian aku menunggu Adit, akhirnya sebelum senja Adit kembali bersama dengan Ibu. Ada perasaan lega di hati ini melihat keadaan Adit baik-baik saja. Lalu segera aku menarik Adit ke dalam kamar.
“Loe kemana aja sih Dit, tadi pagi kan seharusnya kita sudah cabut dari tempat ini” bisikku pada Adit.
“Gue tadi diajakin jualan nasi sama Ibu di pasar, besok aja deh kita pergi dari sini atau lusa? Gue masih betah tinggal di sini Dave” kata Adit sambil memandangku.
“Loe dah gila yaa, kita tuh harus cepet-cepet keluar dari desa ini? Pasti anak-anak yang lain pada cemas mencari kita berdua, kita harus secepatnya menyusul mereka” jelasku.
“Kalau gitu besok kita enggak usah naik ke puncak, kita langsung turun saja dan buat laporan kalau kita selamat serta baik-baik saja” kata Adit.
Hmm… benar juga apa yang di katakan oleh Adit kataku dalam hati. Sepertinya Adit senang sekali berada di desa ini, apakah aku harus memberitahu dia tentang kejadian yang aku lihat semalam.

“Dave… Nanti malam loe mau ikut gue enggak, gue mau jalan-jalan sama Ibu” Tanya Adit yang membuyarkan lamunanku.
“Loe mau kemana…Dit?” Tanyaku kaget.
“Mau ke alun-alun desa, kata Ibu nanti malam akan ada kriayaan di sana. Tari jaipongan” jawab Adit.
Adit tertawa sambil memperagakan tari jaipongan di depanku, sementara itu aku masih berfikir bagaimana cara untuk secepatnya pergi dari desa ini.
“Jiaahhhh… loe kok malah bengong sih? halloooo… Mau ikutan nggak Dave” Tanya Adit lagi padaku.
“I..iyah…” jawabku sambil menganggukan kepala.

Malam harinya Ibu dan Bapak mengajak kami berdua pergi ke alun-alun yang berada di tengah-tengah desa. Aku lihat di sana sudah sangat ramai, para penari mulai bersiap-siap untuk memperagakan tariaannya yang sudah di nanti-nanti oleh para penonton. Aku memperhatikan keadaan di sekelilingku, aku merasakan keanehan di alun-alun itu. Ada dimana kah aku sekarang tanyaku lagi dalam hati, aku sepertinya terlempar ke jaman ratus tahun yang lalu. Orang-orang di desa itu berpakaian sangat kuno sekali, manusia-manusia yang masih sangat lugu dan sama sekali belum tersentuh oleh kehidupan dunia luar yang modern. Aku melirikan mata ini ke arah Adit, Adit tertawa-tawa menikmati keramaian di malam itu.

Tiba-tiba seorang penari jaipongan melemparkan selendangnya yang berwarna merah kearahku. Orang-orang yang berada di sekitarku pun pada bersorak dan bertepuk tangan. Penari itu mengajak ku menari bersama, dengan terpaksa aku pun memenuhi permintaannya. Aku berdiri di depan penari itu yang sedang melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti irama musik. Aku menatap tajam wajah penari itu, tatapan matanya sayu dan mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Ia begitu sangat cantik walaupun tidak di poles dengan sentuhan makeup. Sepertinya penari itu ingin mengutarakan sesuatu padaku. Aku terbawa suasana yang sangat nyaman di dekatnya. Tiba-tiba penari itu mencabut salah satu tusuk kondenya lalu ia memberikannya padaku. Aku menerima tusuk konde yang berbentuk bunga itu lalu aku masukan ke dalam saku jins ku. Aku menikmati keberadaan ku bersamanya di malam itu.

Sebelum tengah malam aku pulang berdua dengan Adit, sepertinya Ibu dan Bapak sudah pulang kerumah terlebih dahulu. Di tengah-tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan sekelompok anak laki-laki yang berikat kepala, mereka memandang aku dan Adit dari atas sampai ke bawah dengan penuh kecurigaan. Perasaanku pun semakin tidak enak ketika salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk aku dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku menundukan kepalaku lalu menarik tangan Adit untuk berjalan lebih cepat. Malam itu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata ini hingga pagi tiba.

Matahari pun akhirnya keluar dari peraduannya, setelah sarapan aku melangkahkan kaki ini keluar rumah. Aku berdiri di halaman depan dan masih bertanya-tanya sebenarnya dimana sekarang aku berada selama ini. Aku memandang beberapa orang wanita yang berjalan di depanku, mereka membawa bakul yang berisi pakaian basah lalu mereka tersenyum-senyum padaku. Hmmm… sepertinya mereka habis selesai menyuci pakaian di pinggir sungai. Tiba-tiba penglihatanku tertuju pada sosok wanita yang aku kenal. Dia adalah penari yang tadi malam mengajakku menari bersama.
“Hai…” Sapaku sambil melambaikan tangan ini kearahnya.
Wanita itu lalu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia memisahkan diri dari rombongannya dan menghampiriku.
“Cepat kamu pergi dari desa ini, jangan sampai kamu terlambat dan menyesal” katanya padaku.
“Memangnya kenapa, adakah yang salah dengan aku?” Tanyaku dengan sedikit panik.
“Pokoknya kamu harus pergi dari sini sebelum senja tiba? Janganlah kamu hiraukan orang-orang yang berada di sekitar kamu” jelas wanita itu sambil pergi begitu saja meninggalkan ku.
“Tungguuu…” teriakku.
Wanita itu tidak menghiraukan ku, sambil berjalan cepat ia menyusul teman-temannya.

Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan desa ini. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, kataku dalam hati sambil berlari ke kamar untuk membangunkan Adit yang masih tertidur.
“Kita harus pergi dari sini Dit? Cepat bangun” teriakku panik sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Adit terbangun, lalu aku menceritakan kejadian yang aku alami di sini padanya. Adit pun terkejut tidak percaya. Aku dan Adit pun cepat-cepat berkemas-kemas di kamar.
“Hmmm… sepertinya ada yang datang ke rumah ini Dave” bisik Adit sambil menatapku.
Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kuda yang sedang berjalan. Aku berjalan pelan keluar kamar untuk mengintip siapakah yang berada di depan rumah Ibu dan Bapak. Yaa… Tuhan aku melihat beberapa prajurit yang aku lihat di malam itu. Apakah mereka akan menangkapku dan Adit seperti orang-orang yang tangannya terikat itu pikir ku.

Aku langsung cepat-cepat kembali ke kamar lalu mengajak Adit untuk buru-buru keluar dari rumah ini melalui pintu belakang. Tanpa pamit dengan Ibu dan Bapak yang sedang pergi, Aku dan Adit berjalan cepat meninggalkan rumah itu tidak tentu arah, pikiranku hanya tertuju untuk cepat-cepat bisa keluar dari desa ini. Adit mulai di dera ketakutan, ia terus saja menggenggam tanganku dengan erat.

Di tengah perjalanan tiba-tiba beberapa orang prajurit mencegat kami berdua. Aku dan Adit pun berusaha untuk melarikan diri dan berlari ke arah semak-semak. Prajurit itu mengejar kami dengan kudanya, suara pekikan kuda yang terdengar sangat dekat membuat kami tambah ketakutan. Aku tidak mau mempunyai nasib yang sama dengan orang-orang yang menjadi tawanan mereka. Aku berlari kencang menerobos semak-semak belukar, aku tidak peduli dengan tangan dan tubuh ini yang tergores oleh batang-batang pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang berduri. Aku menahan rasa sakit sambil terus berlari bersama dengan Adit.
“Gue sudah nggak kuat lagi Dave” teriak Adit dengan napasnya yang terengah-engah.
“Kita harus lolos dari mereka Dit, tahan sebentar lagi” teriakku sambil menggenggam tangan Adit, kami pun terus berlari.

Aku dan Adit sudah sangat kelelahan. Aku merasa tidak kuat lagi untuk berlari. Kami berdua terus di kejar oleh mereka.
“Gue nyerah Dave, sumpah gue enggak kuat lagi” kata Adit sambil meneteskan airmatanya.
Aku memeluk Adit dengan erat.
“Kita harus keluar dari sini bersama-sama Dit, gue yakin pasti kita akan selamat dan bisa keluar dari hutan ini” bisik ku menyemangatinya.
Adit menatapku tajam, lalu ia mengangguk-anggukan kepalanya.

Aku dan Adit berlari lagi menerobos hutan yang gelap. Kami berdua berlari berjam-jam lamanya tanpa berhenti sampai kami tidak mendengar lagi suara pekikan kuda dan para prajurit itu.
“Sepertinya kita sudah keluar dari desa itu Dave” kata Adit sambil tersenyum lesu.
“Iyah… Sekarang kita harus berusaha untuk mencari jalan agar bisa turun ke bawah” jawabku dengan perasaan lega.

Kami berdua terus dan terus berjalan, tubuh ini sudah sangat lelah, kami lapar dan kehausan. Di tengah perjalanan pun turun hujan yang sangat deras, sepertinya akan terjadi lagi badai, petir-petir menggelegar. Aku dan Adit berlindung di bawah pepohonan yang sangat besar. Aku bersandar di akar pohon, Aku melihat tubuh Adit menggigil kedinginan.
“Gue… gue sudah tidak tahan lagi Dave, gue lelah dan ngantuk banget” bisik Adit terbata-bata.
“Dit… Jangan tidur dit, loe jangan tidur? Buka mata loe? Loe harus tetap terjaga” teriakku sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Yaa… Tuhan, aku juga merasakan kelelahan dan rasa kantuk ini juga mendera ku, aku berusaha untuk sadar dan tidak tertidur sambil berharap ada pertolongan segera datang. Aku memeluk tubuh Adit dengan erat untuk menghangatkan diri dari rasa dingin ini. Aku berserah diri ini padamu Tuhan, aku pasrah kataku dalam hati ini sambil berzikir sepanjang hari hingga aku tak tersadarkan diri. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara langkah orang-orang berjalan di kesunyian hutan.

Mata ini sangat sulit untuk terbuka. Orang-orang itu mengangkat tubuhku dan merebahkan diri ini di atas tandu. Aku bersyukur karena telah ada orang yang menyelamatkanku dan Adit. Aku pun akhirnya tertidur tidak sadarkan diri selama perjalanan pulang.

Mereka membawa aku dan Adit ke rumah sakit terdekat, lenganku di infus dan dua perawat tengah membersihkan luka-luka yang berada di sekujur tubuh ini. Mataku masih terus terpejam tetapi telingaku masih bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di dekatku.
“Kasihan yaa mereka, katanya sudah seminggu lho mereka hilang di hutan” kata salah satu perawat.
“Iyah… hutan itu memang terkenal angker, kenapa dua anak ini bisa tersesat kedalam hutan sana?” kata salah seorang lagi.
“Kasihan teman anak ini, dia sekarang koma karena kelelahan dan kelaparan. Bagaimana perasaan orang tuanya jika melihat anak-anak mereka sekarang seperti ini”.
Yaa… Tuhan, Adit…Adit… teriakku dalam hati ketika mendengar percakapan perawat-perawat itu. Aku ingin melihat Adit…, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan mencari Adit ketika perawat-perawat itu pergi meninggalkanku. Aku masuk ke dalam kamar Adit, aku melihat beberapa orang Dokter sedang berusaha memberikan pertolongan pada Adit yang sudah tidak sadarkan diri. Aku menangis… tersedu-sedu melihat pemandangan itu.
“Adit… loe harus kuat Dit, loe harus kuat… kita sudah berhasil meninggalkan desa itu, kita sudah selamat Dit” teriakku histeris sambil menangis.

Dua orang senior ku pun datang dan menenangkan diri ini, yang masih tidak rela jika sampai Adit meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang, aku pun terjatuh lagi karena tidak berdaya.
Akhirnya Adit meninggal dunia akibat keletihan, kelaparan dan dehidrasi.

Setelah pulih aku mengunjungi makam Adit, airmataku menetes kembali ketika aku melihat namanya di batu nisan. Aku sangat menyayangkan kepergian sahabatku, tetapi mungkin Tuhan lebih sayang kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku dan aku berharap ia bahagia di alam sana.

Hari ini aku mulai kembali untuk kuliah, setelah ke luar kelas aku melangkahkan kaki ini menuju markas pencinta alam yang berada di belakang kampus untuk mengambil ranselku yang telah di temukan di gunung itu. Bang Lingga tersenyum melihat kedatanganku lalu ia menepuk-nepuk pundakku dan berusaha untuk menghiburku.
“Loe jangan trauma ya dengan kejadian yang loe alami kemarin, kita semua juga menyayangi kejadian itu” kata Bang Lingga.
“Iyah Bang”, jawabku sambil menganggukan kepala.
“Alam itu tidak bisa di tebak Dave, kadang ia sangat bersahabat dan terkadang ia juga sangat kejam bagi para pendaki, kita semua sangat kehilangan Adit. Bagi kita Adit adalah pahlawan, sama seperti Evie” jelas Bang Lingga.
“Evie…?” tanyaku bingung.
“Iyah… senior kita, dia juga telah gugur di gunung yang sama duabelas tahun yang lalu” jelas Bang Lingga lagi.
Aku memandang tajam Bang Lingga.

Bang lingga lalu membuka sebuah amplop besar berwarna coklat dan memberikan aku selembar foto bergambar anak perempuan yang sedang tersenyum manis. Aku terkejut melihat wajah yang berada di foto itu. Hmmm… Itu… itu bukannya penari jaipong yang berada di desa itu kataku dalam hati. Tubuhku mendadak menjadi lemas ketika melihat fotonya. Aku tidak bisa berfikir dan berbicara lagi, ternyata penari yang secara tidak langsung telah menyelamatkan ku adalah seniorku sendiri.
“Akhirnya kita mendapatkan Foto Evie, rencananya foto ini akan gue pajang bersama foto Adit di markas untuk mengenang loyalitas dan cinta mereka kepada alam” jelas Bang Lingga.
Aku tersenyum dan masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Setelah mengambil ransel, aku pun pulang ke rumah dengan banyak sekali pertanyaan yang belum bisa di pecahkan di pikiran ini. Aku merebahkan tubuhku di ranjang ketika aku berada di kamar. Apakah benar penari itu adalah Evie tanyaku dalam hati, apakah desa itu benar-benar ada dan bukan imajinasi atau khayalanku semata? Tiba-tiba Mbok Inah mengetuk pintu dan masuk kekamarku.
“Mas Dave, kemarin Mbok Inah menemukan ini di kantong Jins punya Mas?” kata Mbok Inah sambil memberikan aku sebuah tusuk konde berbentuk bunga.
“Terima kasih Mbok” jawabku sambil tersenyum menerima barang itu.
“Wahh… Mas Dave sekarang sudah mempunyai pacar yaa”, goda Mbok Inah sambil meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.

Aku memandang tusuk konde itu… akhirnya terjawab sudah dan aku meyakinkannya jika desa misterius itu benar-benar ada keberadaannya di pegunungan sana. Hanya saja kita sudah berlainan dimensi dengan mereka, walau bagaimana pun aku sangat berterima kasih kepada Ibu dan Bapak yang telah menolongku dan Adit untuk bermalam di rumah mereka serta Evie, seniorku. (Tamat)

Pembuat: Ayu Soesman

Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part 1)

Aku berdiri di depan sebuah ruangan dekat taman yang berada di belakang kampusku. Aku merasa bersemangat sekali pada hari itu, sakin semangatnya aku datang kepagian. Ruangan itu masih terkunci rapat, para senior dan teman-temanku belum ada yang datang. Hmmm… Mungkin mereka masih berada di dalam perjalanan menuju kesini. Aku meletakan ranselku yang tadinya bergelayut di pundak ini. Aku duduk di samping ransel yang lumayan besar, aku mengecek kembali semua alat-alat perlengkapan dan bahan makanan yang akan aku bawa nanti. Senang rasanya, setelah sekian lama menunggu akhirnya kedua orang tua ku mengijinkan aku masuk ke dalam kegiatan pencinta alam setelah aku tamat dari SMU. Saat-saat inilah yang aku nanti-nantikan seumur hidupku, aku dan teman-teman pencinta alam akan mendaki gunung yang tertinggi yang berada di daerah Jawa Barat.

Tidak lama kemudian teman-temanku satu persatu berdatangan ke dalam ruangan tempat aku menunggu alias markas anak-anak pencinta alam. Setelah semua lengkap kami pun mengadakan rapat sebentar, lalu berdoa bersama sebelum berangkat. Rombongan kami terdiri dari limabelas orang mahasiswa, lima diantaranya adalah para senior yang sudah berpengalaman naik turun gunung. Kami berangkat dengan menumpang kereta api menuju stasiun terakhir.

Hawa dingin dan sejuknya udara sudah terasa ketika aku turun dari kereta api. Lalu aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung tersebut. Salah satu seniorku yang bernama lingga melapor dan meminta surat izin untuk naik ke puncak gunung kepada penunggu pos yang berada tidak jauh dari trek perjalanan menuju ke atas. Tidak sampai limabelas menit kemudian kami semua sudah di perbolehkan oleh penjaga pos itu untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Cuaca sangat cerah, aku berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri melihat pemandangan yang sangat indah di sekitar gunung. Aku teringat pesan Mama agar tidak berbicara sembarangan, bertingkah laku sopan dan tidak merusak apa saja yang berada di sana. Aku berjalan dengan hati gembira dan penuh semangat mengikuti langkah teman-temanku yang berada di depan hingga menuju pos pertama.

Setelah kami berjalan berkilo-kilo lamanya, sebelum senja aku dan teman-teman memutuskan untuk membangun tenda yang tidak jauh dari mata air dan bermalam di sana. Suasana di malam itu sangat menyenangkan, kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Beberapa temanku di tugaskan memasak untuk makan malam, walaupun kami hanya memakan mie instant dan sedikit nasi yang harus dibagi sama rata, tetapi semua itu sudah mengenyangkan perut ini dan akhirnya aku pun tertidur di dalam tenda untuk mengumpulkan tenaga buat melanjutkan perjalanan esok hari.

Keesokan harinya aku terbangun, aku merasa puas bisa menghirup udara pegunungan yang masih perawan karena belum tersentuh oleh yang bernama polusi, setelah sarapan kami semua bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak gunung. Setelah beberapa jam kami berjalan mengikuti jalan setapak, tiba-tiba keadaan di sekitar daerah tempat kami berada turun kabut yang sangat tebal, jarak penglihatanku dan teman-teman pun sangat pendek karena terhalang oleh putihnya kabut yang seperti kapas. Kami membentuk tiga kelompok dan berpencar untuk mencari tempat perlindungan dari badai yang sepertinya akan segera turun. Setelah badai reda kami pun sepakat untuk bertemu dengan teman-teman yang lainnya di pos selanjutnya.

Aku berjalan dengan temanku yang bernama Adit paling belakang. Keadaan alam sudah kembali bersahabat seperti semula. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku melangkahkan kaki ini menuju pos selanjutnya untuk bertemu dengan teman-temanku yang lainnya.
“Tunggu dulu Dave, gue mau betulin tali sepatu gue dulu nih?” Adit berkata kepadaku.
“Cepat Dit, nanti kita tertinggal jauh dari Bang Lingga”, Ucok dan Pepi ujarku sambil memperhatikan Adit yang sedang mengikat tali sepatunya.
Dan benar saja tidak ada lima menit aku menunggu Adit, kami berdua kehilangan keberadaan senior dan dua orang temanku. Aku menatap Adit yang tampak panik karena kami berdua sama-sama pendaki pemula yang belum mempunyai pengalaman tentang pendakian.
“Sorry.. Dave, gara-gara gue kita ketinggalan Bang Lingga dan yang lain” kata Adit sambil termenung.
“Nggak apa-apa Dit, mudah-mudahan kita bisa menyusul mereka” jawabku sambil membesarkan hati Adit. “Yuk… kita jalan lagi” ajak ku sambil merangkul Adit.

Aku dan Adit melangkahkan kaki menyelusuri jalan setapak sesuai dengan trek yang berada di peta. Sepertinya sudah lama aku berjalan berdua dengan Adit, tetapi aku tidak menemukan Bang Lingga, Ucok dan Pepi. Sepertinya aku dan Adit berjalan hanya berputar-putar di daerah sekitar tempat kami berada yang terlihat sama dengan rimbunnya pepohonan. Aku menatap tajam wajah Adit dengan napas yang terengah-engah karena lelah berjalan.
“Bagaimana nih Dave, sepertinya kita telah tersesat” kata Adit sambil meneguk air minumannya.
“Kita istirahat dulu sebentar disini Dit” ujarku.
“Kita enggak bisa istirahat Dave, nanti kita bisa ketinggalan lebih jauh lagi dari Bang Lingga, sebentar lagi juga sudah mulai gelap?” jawab Adit.
Aku menganggukan kepala, lalu kami berdua berjalan kembali mengikuti jalan setapak. Tiba-tiba aku melihat sebuah keramaian yang letaknya di seberang tempat Aku dan Adit berjalan. Aku meruncingkan penglihatanku…? tempat keramaian itu sepertinya sebuah pasar yang berada di dalam perkampungan.
“Lihat Dit, ada pasar disana bisikku sambil menunjukan jari kananku”.
“Masa sih… kata Adit sambil menatap ke arah yang aku tunjuk”.
“Lebih baik kita bertanya saja dengan orang-orang yang berada disana, siapa tau saja mereka bisa memberitahu kita arah yang benar kataku sambil menatap Adit”.
Adit menganggukan kepalanya. Lalu kami berdua berjalan menuju pusat keramaian itu.

Aku dan Adit melangkahkan kaki ini di tengah-tengah pasar. Aku melihat pemandangan di sekitar pasar itu. Aku merasakan sebuah jaman yang sangat berbeda dengan kehidupanku yang sekarang. Sepertinya aku terlempar ke jaman ratusan tahun yang lalu. Orang-orang di pasar itu masih mengenakan kain dan kebaya untuk anak perempuan, celana hitam hitam sebetis dan berikat pinggang besar serta baju hitam untuk laki-laki hmm… seperti baju si pitung yang suka aku lihat di cerita Tv.

Ada segerombolan anak gadis sedang melihat kami berdua lalu mereka tersenyum sambil berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah mereka bergosip kerena pakaian aku dan Adit yang terlihat aneh seperti Alien bagi mereka. Para pedagang berjualan menggelar dagangannya di atas tanah, mereka masih menggunakan barter dengan cara menukar barang yang satu dengan yang lain sebagai alat transaksinya.
Aku menarik napas panjang sambil melirikan mataku kearah Adit yang masih terlihat bingung melihat keramaian pasar itu, sama sepertiku.
“Hmm… Kita berada dimana nih Dit, sekarang?” tanyaku bingung.
“Gue juga enggak tau Dave, kenapa mereka lain dengan keadaan kita saat ini” bisik Adit.
“Hmm… mungkinkah desa ini seperti desa Badui? Hmmm… mereka masih mempertahankan kebudayaannya dan menolak kebudayaan modern” jelasku.
“Mungkin saja…” bisik Adit kembali.

Aku dan Adit berjalan pelan-pelan sampai ke ujung pasar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu menawarkan kami makanan.
“Kalian mau makan…? Sepertinya kalian kelaparan karena habis berjalan jauh katanya sambil menyodorkan aku dan Adit makanan yang terbungkus rapi oleh daun jati”.
Aku dan Adit saling bertatapan.
“Ayo… silakan di ambil kata ibu-ibu itu sambil menyodorkan makanannya kembali”.
Adit menganggukan kepalanya lalu ia mengambil sebungkus makanan itu dari tangan ibu-ibu yang sedang tersenyum memandang kami berdua.

Dengan ragu aku pun mengambil makanan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ibu yang baik hati itu. Aku lalu membuka perlahan-lahan daun jati yang membungkus makanan itu. Wah… Sepertinya ini sangat enak kataku dalam hati ketika aku mengetahui yang berada di dalam bungkusan itu adalah nasi uduk, tempe orek dan ikan asin. Hmmm… tidak salah, makanan itu memang sangat lezat sekali. Sepertinya selama hidupku aku belum pernah merasakan nasi uduk yang seenak itu. Aku tersenyum melihat Adit yang tampak lahap memakan makannya. Sepertinya Adit sangat kelaparan kataku dalam hati.
“Kalian berdua hendak kemana” Tanya Ibu itu sambil menuangkan air ke dalam gelas kami yang masih terbuat dari batang bambu yang sudah tua.
“Kami sedang tersesat Bu, kami berdua adalah pendaki yang terpisah dari rombongan, saya lagi mencari pos pendakian yang terdekat dari sini”, jelasku sambil tersenyum.
“Itu sangat jauh sekali Nak, jauh… sekali? kata Ibu yang memakai kebaya kembang-kembang berwarna ungu itu”.
“Mau kah Ibu memberitahu kami arah jalannya menuju kesana” Tanya Adit.
Ibu itu menganggukan kepalanya.
“Sebaiknya kalian bermalam saja dulu di rumah saya, karena sebentar lagi matahari akan segera tenggelam. Sangat berbahaya jika kalian berjalan di malam hari” jelas Ibu itu sambil tersenyum.
“Ibu tidak keberatan kalau kami berdua menginap di rumah Ibu”, tanyaku.
“Tidak… bermalamlah di rumah saya. Kalian juga boleh tinggal di rumah saya selama kalian mau” kata Ibu itu lagi.
Aku dan Adit tersenyum sambil menganggukan kepala.

Akhirnya aku bisa tidur di rumah penduduk di sekitar sini tampak harus membangun tenda dan menahan tajamnya angin malam yang menusuk tubuh ini kataku dalam hati. Setelah Ibu itu selesai berjualan, ia mengajak Aku dan Adit berjalan menuju selatan. Di pertengahan jalan Ibu itu menghentikan langkahnya ketika kami bertiga sedang berjalan di antara pematang sawah. Ibu yang belum kami ketahui namanya itu tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah seorang pria tua yang sedang mencangkul di sawah. Pria tua itu tidak lama kemudian menghampiri kami bertiga.
“Bapak… ada anak kota yang sedang tersesat? saya menyuruh mereka untuk menginap di gubuk kita. Bapak tidak keberatan kan”, Tanya Ibu itu.
Pria tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Menginaplah di rumah kami, besok baru kalian bisa melanjutkan perjalan menuju puncak gunung. Nanti Bapak bisa mengantarkan kalian, kalau kalian mau” jelas Bapak itu.
Mendengar penjelasan Bapak, Untuk yang sekian kalinya aku dan Adit menganggukan kepalanya tanda setuju dengan perkataannya.

Hatiku mulai lega karena Bapak itu mau mengantarkan kami berdua menuju puncak gunung esok hari. Itu berarti aku dan Adit tidak perlu lagi repot-repot mencari jalan untuk menuju kesana. Aku dan Adit menempati sebuah kamar di dekat dapur. Rumah Ibu dan Bapak sangat sederhana, semua temboknya masih terbuat dari bilik bambu. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya pun lumayan jauh. Desa itu tampaknya sangat asri sekali. Mereka menjamu kami berdua sangat baik, selesai membersihkan diri aku duduk-duduk di bale depan rumah bersama Adit. Tidak lama kemudian Ibu datang membawakan kami sepiring singkong rebus dan teh hangat. Aroma singkong rebus itu sangat menggoda, tampak basa-basi aku pun langsung menyantapnya. Aku merasa sangat nyaman sekali berada di sana? Apalagi ketika mendengar alunan suara seruling yang Bapak mainkan, suasana damai di malam itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Kami mengobrol bersama hingga larut malam, Bapak banyak bercerita tentang filosofi kehidupan. Banyak nasehat yang aku dapat dari Bapak dan Ibu, tetapi anehnya, mengapa mereka selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan nama mereka?

Oaahhhmmm… Aku menguap, lama-lama mata ini tidak dapat menahan rasa kantuk lagi. Akhirnya aku dan Adit pun pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Aku pun mulai tertidur, baru beberapa saat mataku terpejam tiba-tiba aku terbangun kembali, sepertinya aku mendengar sesuatu yang suaranya berasal dari luar sana. Aku menatap Adit yang tertidur sangat nyenyak. Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur, lalu dengan hati-hati aku melangkahkan kaki ini menuju bilik bambu. Rasa penasaran ini semakin menjadi-jadi, aku mendengar suara pekikan kuda dan krincingan bunyi lonceng kecil, sepertinya ada sebuah rombongan orang yang sedang berjalan kaki di luar sana. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik bilik itu untuk melihat sesuatu yang sedang terjadi di luar.

Yaa…Tuhan, tiba-tiba saja nafasku langsung terengah-engah, jantung ini seperti mau copot? aku segera menutup mulutku kuat-kuat agar jeritanku tidak terdengar sampai keluar. Aku melihat empat orang prajurit berkuda berjalan pelan, di belakang prajurit itu ada segerombolan wanita yang sepertinya mereka menjadi abdi dalam kerajaan, wanita-wanita itu hanya mengenakan kemben dan memakai kain. Para wanita setengah tua itu berjalan tampak mengenakan alas kaki, salah satu dari mereka membunyikan lonceng kecil yang bunyinya membuat suasana di tengah malam itu semakin mencekam. Aku melihat ada kereta kuda tepat di belakang para abdi dalam, tampak seorang putri yang sangat cantik berada di dalam kereta itu. Ia memakai sebuah mahkota, rambutnya yang hitam legam di biarkan panjang terurai. Putri itu memegang sebuah tongkat di tangan kanannya dan menggendong seekor kucing di tangan kirinya. Di belakang kereta kuda itu terdapat orang-orang yang kedua tangannya terikat, mereka berjalan terseok-seok seperti sekumpulan tawanan yang sangat kelelahan, pakaian yang mereka kenakan itu sama dengan pakaian yang aku pakai, yaitu pakaian di jaman modern seperti sekarang ini. Tawanan itu tampaknya di jaga sangat ketat oleh beberapa orang prajurit yang berjalan paling belakang di rombongan. Si… siapakah mereka, tanyaku dalam hati.

Aku duduk lemas di atas lantai, jantung ini masih berdetak sangat cepat. Siapakah mereka? Berada di jaman apa aku ini sekarang? Tanyaku lagi. Lalu aku merebahkan tubuh ini di samping Adit yang masih tertidur sangat lelap. Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, cepat-cepat aku memejamkan mata ini. Ada perasaan lega di hatiku, karena esok hari aku akan meninggalkan desa ini, aku pun berharap agar matahari akan segera terbit, supaya aku bisa kabur dari desa ini.

Pembuat: Ayu Soesman

Petualangan Dua Saudara (Pencarian Jejak Trevor)

Setelah Agung dan Deden tak sengaja bertemu dengan hal baru pada hidupnya. Kedua saudara tersebut kini melakukan tugas nya masing-masing sebagai pekerja muda yang mapan. Namun, mereka berdua masih tetap penasaran akan hubungan Trevor si tikus penginapan dan Yopi orang misterius yang bertemu di kapal.

“Yah, Bu.. aku pulang..!” sahut Deden.
“Tumben cepet banget?” tanya Burhan, sang ayah.
“Iya nih, cuaca nya tiba-tiba berubah drastis gak kaya biasanya. Jadi, semua penerbangan di batalkan, cuma ada sedikit tugas aja tadi” Jelas Deden.
“Ohh, gitu.. eh, eh langsung mau kemana kamu?” Tanya Siti, sang Ibu.
“Ruang kerja Kak Agung…!” Teriak Agung dari kejauhan, karena langsung berlari menuju ruang kerja sang kakak.
“Kak, boleh masuk nggak?” Ucap Deden sambil mengetok pintu ruang kerja sang kakak.
“Iyaaa, masuk aja..!” Jawab Agung.
“Waaah, lagi banyak order nih, nah yang satu ini kok mirip banget dengan kita berdua? Tapi ngapa bikinnya cuma kepalanya aja? apa belum selesai?” Tanya Deden.
“Ah, karya jelek itumah bukan aku yang buat, tapi gak tau siapa. Orang tau-tau udah dapet kiriman kaya gitu tapi gak nyantumin nama gak ada surat posnya lagi! Tau-tau udah ada di kamarku, mungkin dari fans ku kali..? hehehe”
“Aneehhh, mengirim barang kok gak nyantumin nama?! Memangnya di situ gak ada alamat pengirimnya juga kak?” Tanya Deden.
“Ya gak tau..! aku belum cek! Udahlah gak usah ganggu!” bentak Agung.

Seketika itu Deden langsung mengecek bingkisan dari pengirim misterius itu, dia cek dengan jeli setiap sudut-sudut bingkisan. Ternyata benar saja, ada sebuah surat pendek seperti memo bertuliskan “JANGAN IKUTI JEJAK SAYA, JIKA TIDAK AKAN DIBAYAR DUA KEPALA!”

“Kak! Lihat..!” Kata Deden sambil menunjukan surat itu.
“Cuihh, sialan! Ayo kita ke NTT! Kita akan berlayar kesana!” Bentak Agung.
“Kenapa gak pake pesawat aja kak?”
“Sepertinya mereka ada di tempat sepi! Disana adalah daerah kepulauan, banyak pulau kecil tak berpenghuni disana, kurasa mereka ada di salah satu pulau” Jelas sang kakak.
“Tapi, firasat ku gak bilang begitu Kak!”
“Udah! Ikut aja! Bilang ke Pak Yadi suruh siapin kapal!”
“Iya, setelah aku mempersiapkan barang-barangku” kata Deden.
Setelah itu Deden langsung ke ruangan Pak Yadi, nahkoda Pribadi mereka.
“Pak, kita ke NTT sekarang!”
“Haaa! Itu kan gak jauh, ngapain juga kesana?” Kejut Pak Yadi.
“Udah, berangkat aja. Yang penting kan udah punya surat izin berlayar”
“Ya sudahlah, nanti aku panggil para awak kapalku”

Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya akhirnya berangkat menuju daerah kepulauan NTT.
“Huh, sial! Liat aja mereka! Pasti tak abisin!” Kesal Agung sambil menatap sinis lautan.
“Udah si, Kak! Jaga emosi mu! Berfikir itu lebih baik. Gak tau matahari lagi panas-panasnya ya? Mending simpan aja staminamu”
“Tapi…? ya… iya udah lah, bener juga kata-kata mu”

Matahari telah menutupkan wajahnya, hawa dingin udara laut mulai terasa. Tetapi ini tak berpengaruh pada sang kakak, ia tetap saja panas dan tak sabar sampai di tujuan.

“Pak! Pak Yadi?! Bisa cepet nggak sih?!” Tanya Agung kepada sang nahkoda.
“Ini juga sudah paling cepat, beruntung cuaca nya mendukung. Aku juga heran kenapa angin nya tenang, sangat tenang malah. Aku udah 16 tahun jadi pelaut baru kali ini aku nemu cuaca seperti ini, tenang! Kita pasti cepat sampai” Jelas Pak Yadi.
“Sekitar berapa jam lagi pak?”
“Pagi-pagi sekitar jam tujuh’an kapal ini sudah menepi. Sudah! Tidur dulu sana… kalian juga boleh tidur awak-awak ku!”

Waktu terus berjalan, seperti tak ada rintangan di laut, ombak pun hampir tak terasa. Namun pada saat fajar Deden yang bangun lebih awal, ia mendengar seseorang berteriak meminta tolong, kemudian ia berlari menuju ruang kendali kapal untuk menemui Pak Yadi.
“Pak! Medengar sesuatu tidak? Seperti ada yang minta tolong! Coba diam, sttt?” kata Deden.
Ketika mereka diam mereka benar-benar mendengar orang berteriak minta tolong. Pak Yadi pun memberhentikan kapalnya, dan mereka mulai mencari sumber suara.
“Coba, Deden kitari bagian kanan kapal, kalau bapak kiri kapal, ini pegang senter ini”

Di saat Deden mengarahkan lampu senternya ke arah laut ia melihat seseorang yang kelihatannya akan tenggelam, kemudian tak pikir lama ia langsung menyelamatkan orang itu. BYURR!!
“Ada suara orang kejebur, pasti Deden udah nemu suaranya” Pikir Pak Yadi.
Ketika Pak Yadi menuju ke bagian kiri kapal, ia menemukan Deden sedang berusaha menaiki kapal sambil membawa orang yang di selamatkan itu. Tak pakai kompromi, Pak Yadi langsung membantu Deden. Syukurnya orang itu tak pingsan apalagi mati.
“Dek, kamu ngapain berenang subuh-subuh gini?, udah tau air laut masih dingin gini?” Tanya Deden.
“Ughhh, grrrr, haaa, hhaaa, hasychimmm!!”
“Tolong ambilkan handuk Pak” Pinta Deden kepada Pak Yadi.
“Ini Den!”
“uhhh, ada-ada aja kamu inilah, Dek. Udah bisa ngomong belom? Kenapa kamu tadi berenang?” Tanya Deden.
“hhufft, aku ingin pulang Kak” jelas anak kecil yang Deden selamatkan.
“Memangnya dari mana mau kemana? Kaya mana ceritanya? Namamu sapa?” tanya Pak Yadi.
“Luis Pak. Kemarin sore aku nyebrang ke pulau pake perahu, tapi pas aku kesana mau ngambil air tawar, baliknya perahunya sudah gak ada, kebawa ombak paling, terus aku bosan di pulau itu, aku ingin pulang, makanya aku nekat berenang” Jelas Luis.
“Oh, kalo gitu kamu kakak anterin ke rumahmu, tapi sebelumnya kakak mau nanya? Kamu tau orang yang namanya Trevor gak?” tanya Deden.
“Taulah Kak! Dia itu sering datang di pulau pabuan, dia itu pengusaha besar Kak! Dia sering membawa sayur-sayuran ke daerah kami, tapi dia gak pernah bawa air segar untuk kami.”
“Hmmm, bisa gak kamu tunjukin tempatnya Trevor?” Tanya Deden.
“Jelas bisa, kebeneran papaku jadi kepala penjaga keamanan disana, jadi aku sudah sering kesana” Jelas Luis.
“Baiklah! Ayo Pak! Berangkat!”

Di tempat lain, Trevor dan bersama atasannya sedang menjalankan misi jahatnya.

“Hahahaha, aku suka dengan alat ini, bentar lagi kita akan coba Vor!”
“Iya bos, bentar lagi daerah ini tunduk sama kita! Hehe”

Sementara itu kapal Pak Yadi sudah menepi di Pulau Pabuan, Matahari sudah mulai menunjukan cahaya nya. Namun tanpa disangka-sangka penjaga mercu suar melihat kapal Mereka, segeralah penjaga mercu suar menghubungi kepala keamanan.

“Settteeseetttzz, Halo disini Manu, minta jawaban. Ada kapal tampaknya kapal itu bukan dari sini” Ucap Penjaga mercu suar dengan alat komunikasinya.
“Settteeseetttzz, iya disini Pablo, siap melapor ke ketua!”
Di saat yang tepat, di saat Agung, Deden dan kawan-kawan turun dari kapal, di saat itulah para penjaga keamanan menyambutnya dengan senapan.

“Eh, sialan! Minggir kalian! Aku ingin ketemu bos kalian! maksudnya apa ngirim bingkisan itu!? Seperti dirinya sudah bag…” Bentak Agung.
“Diam, Kak! Ini bukan daerah kita” Cegah Deden sambil menutup mulut kakaknya.
“Diam! Selangkah saja berarti perang” ucap salah satu penjaga keamanan.

Tiba-tiba Luis berteriak.

“Sudah! Saya Luis! Putra Eli! Saya cuma ingin bertemu dan berbicara pada papa saya”

Semua orang hanya terdiam, mungkin ayah Luis adalah orang yang disegani di tempat itu.

“Anaakkku!!! Hhuuhhh Mama dan Papa sudah mencari-cari kamu tak ketemu, dari mana saja kamu!” Teriak salah seorang penjaga keamanan yang tak salah lagi adalah ayah Luis.
“Papa? ceritanya panjang banget! Mereka ini orang baik, sudah menyelamatkan saya, papa mau keilangan anak satu-satunya?” Bisik Luis kepada ayahnya.
“Baiklah, anak buah balik ke posisi kalian!” teriak ayah Luis.
“Ya, ketua!” Jawab serentak para penjaga keamanan.
“Terimakasih, kita saudara! Apa mau kalian?” Tanya ayah Luis.
“Kami mencari Trevor, jika situ gak mau buka mulut. Saya akan pergi” Kata Deden
“Ja.. ja.. tapi.. jangan jangan pergi, aku hanya tau sedikit tentang keberadaanya. Dia pergi dua hari yang lalu dengan atasannya. Saya dengar mereka mau menaklukan suatu Bandara Penerbangan”
“Bandara? Ya sudah makasih infonya, kami akan pergi, ayo Pak Yadi kita pulang!” kata Deden.
“Hei! Gila kamu! Sudah jauh-jauh kesini, hasilnya hanya seperti ini!” bentak Agung.
“Sudah kubilang dari awal firasat ku Trevor tidak disini! Lagipula aku tau Bandara mana yang mereka incar”
“Apa?! Jangan bilang, kau tahu tentang Yopi juga?!” teriak sang kakak.
“Tidak, jika itu aku belum tau”

Setelah itu, setelah perjalanan yang sangat panjang. Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya pulang menuju rumah. Bagi Agung dan Deden ini belum selesai, mereka belum puas dan masih ingin mencari Trevor. masih banyak yang belum terkuak, namun satu persatu pasti akan muncul dengan sendirinya. Agung dan Deden tak berhenti mereka akan terus mencari jejak Trevor.

Pembuat: Muhammad Septian Rachmandika

Petualangan Dua saudara (Petualangan Pertama Dimulai)

Pada suatu tempat hiduplah sebuah keluarga sederhana, yaitu keluarga Burhan Nawawi. Di keluarga tesebut hiduplah sepasang suami istri yang bahagia, Burhan dan Siti mereka adalah oang tua dari Agung dan Deden. Mereka hidup sangat bahagia, rumah yang besar, uang berlimpah dan semuanya terpenuhi, tetapi hal tesebut tak membuat keduanya lalai, bahkan mereka telah mapan sebagai pekerja muda. Dua bersaudara ini bagaikan saudara yang paling bahagia di seluruh dunia. Tetapi pada suatu waktu mereka mendapatkan kejenuhan, dengan begitu mereka berdua sepakat untuk cuti dan membuat jadwal liburan, namun tanpa di sangka-sangka liburan tersebut malah jadi Petualangan hebat.

“Den, kira-kira kemana ya enak nya?” Tanya Agung.
“Bali aja, Kak!” Jawab Deden.
“Aih, bosen, Den!”

Seketika itu Agung melihat sebuah sampul majalah dengan bergambar alam bebas.
“Nah, ada ide aku, Den!”
“Kemana, Kak?” Tanya sang Adik.
“Udah ikut aja!”
Tak lama kemudian mereka berkemas-kemas menyiapkan segalanya.
“Kok, bawa peta sih, Kak?”
“Ah, bawel sih, Den! Udah panasin mobil dulu sana!” Jawab Agung.

Setelah keduanya telah siap, sebuah Ferari pun siap untuk di gas. Kali ini Deden hanya bisa diam tak banyak bertanya seperti biasanya, karena memang jika sudah berada di mobil dia tak banyak bicara.
“Pelabuhan? Kan kita punya kapal pribadi, Kak?”
“Nahkoda kita sedang kakak kasih cuti, Den!”
“Ohh, gitu ya?”
Mereka berdua pun membeli tiket, dan menaiki kapal.
“Kok gak ambil kelas VIP aja sih, Kak?”
“Oh, iya ya? udah deh gak papa” Jawab Agung dengan santai.

Mereka berdua lekas keluar dari mobil dan bergabung dengan penumpang lainnya.

“Kok, sepi bener sih Kak penumpangnya? Kita sebenernya mau kemana sih? Satu, dua, tiga, empat. Cuma empat penumpang, Kak?”
“Kata siapa? Orang enam geh, sama kita berdua!”
“Tujuh! Ini baru duduk di samping kita!” Jelas Deden.
Tiba-tiba orang yang baru saja duduk, menyapa Agung.
“Hai, saya Yopi! Sepi sekali ya kapal ini?”
“Oh, ya ya ya. Memang! Sepi sekali! Saya Agung, Seniman!”
“Mau, jalan-jalan ya?” Tanya Yopi, orang baru itu.
“Iya, kok tau?”
“Dari bawaan nya aja udah keliatan”
“Pasti anda ini…” Tebak Agung.

Belum sempat menebak, Yopi sudah tak ada di tempatnya lagi.

“Kak! Aku mau cari angin segar dulu, matahari bentar lagi tenggelam!”
“Ya udah sana! Aku mau besantai dulu”

Baru saja Deden menghirup udara laut, Deden terheran dengan sebuah kapal pengangkut barang membawa barang-barang besi dan sejumlah barang-barang yang belum terlihat sebelumnya.

“Kamu jangan sekali-kali merusak keinginan mereka!” lagi-lagi Yopi, penumpang misterius itu seperti ada dimana-mana.
“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang mereka?” Tanya Deden.
“Alat penghancur segalanya!”
“Apa?! Seriusan ini!? kemana tujuan Mereka?”
“Pulau Pancing, disana ada sebuah Goa tak terlihat di dekat Danau!” jelas Yopi.
“Yang benar saja?! Kau tahu segalanya?!”
“Sudahlah bukan urusan mu juga! Dua kata! Jauhi mereka!” bentak Yopi.

Dengan terheran-heran Deden lekas meninggalkan Yopi.
Matahari sudah terbenam, angin malam mulai berdatangan, suara ombak ikut menyelingi tidur nyenyak para penumpang kapal.

“Hoi Bangun! Masih ada perjalanan!” Bentak Agung kepada Deden.
Deden pun langsung bangun.
“Ini, pegang peta ini, kau jadi navigator ku, kita akan ke vila kita yang kemarin aku beli!”

Deden menjadi terkejut setelah melihat peta itu, peta itu bersketsakan Pulau Pancing.

“Ngapa? Ada yang salah?”
“Enggak kok, Kak!” Jawab Deden.

Tak menunggu lama Ferari mereka langsung menunjukan kelasnya, Berpacu menuju vila milik Agung. Namun di sela-sela perjalanan mobil Ferari yang agung kendarai hampir kehabisan bensin. Terpaksa mereka memutar arah untuk menemukan Pom bensin di pulau terpencil ini.

“Akhirnya ketemu juga ni kedai bensin walau bukan pom” Ucap Agung.
“Ughhh, aku kebelit BAB lagi lah. Aku cari WC dulu ya, Kak?!”
“Ya sudah sana!” Jawab Agung.
“Pak, masih berapa persedian bensin disini?” tanya Agung kepada pemilik kedai bensin.
“kurang lebih 55 liter, Pak!”
“Ambil semuanya, tuangkan ke mobil saya, kasihan dia kehausan!”

Di tempat lain Deden masih sibuk mencari WC, ia sempat bertanya kepada pemilik kedai bensin tetapi di rumah si pemilik kedai bensin tidak ada WC. Kemudian ia berputar-putar melilingi daerah setempat dan akhirnya ia menemukan WC di tempat penginapan.

“Ahhhh, lega!”
“5000!”
“Mahal bangeet!!! Busyyet! Nih uangnya!”
“Disini jarang Mas yang punya WC!” bentak sang pemilik penginapan.

Tetapi Deden merenung sejenak, sepertinya ada yang salah dengan si pemilik penginapan ini.

“Ah, sudahlah tak ada yang aneh” pikir Deden dalam hati.

Ketika ia keluar dari tempat itu ia baru sadar penginapan itu berhadapan dengan Danau. Dan benar saja ketika ia berbalik pandangan dan melihat penginapan itu. Ia benar-benar melihat kejutan. Nama penginapan itu adalah PENGINAPAN GOA dan itu tak jauh dari danau, bahkan berhadapan. Itu berarti tempat yang dikatakan oleh Yopi waktu di kapal. GOA TAK TERLIHAT DEKAT DANAU.

“Yup! Pasti ini tempatnya”

Langsung saja Deden memasuki tempat itu dan langsung mencari Sang pemilik penginapan untuk menanyakan beberapa pertanyaan.

“Eh, eh, eh, Pak! Pak! betulkan ini tempat penginapan?” tanya Deden.
“Iya memangnya kenapa?”
“kenal sama Yopi gak, Pak?”
“Bentar ya aku akan sedikit memberi kejutan!” jawab Sang pemilik penginapan.

Tiba-tiba dua orang bersenjata lengkap menyergap Deden dan menyekap dan mengikat mulut Deden untungnya saja Deden masih sempat berteriak memanggil nama Agung, kakaknya.

“Aduh kenapa lagi sih…? selalu aja nyari masalah Deden ini.!” Kesal Agung.

Agung pun lekas ke tempat Deden berteriak, baru saja sampai di halaman tempat penginapan, ia di halang oleh seseorang yang sangat besar dan kekar.

“Huh…? Jagoan ya?” kata orang yang besar dan kekar itu sambil menunjukan otot-ototnya.
“Sini, akan ku tunjukan yang namanya jagoan!” balas Agung.
Perkelahian sengit tak dapat dihindarkan, beberapa tinjuan Bagong lancarkan. Dan, Bum! Sekali tendangan menghantam ogan vital si kekar.
“Cuihh, sudah kuhancurkan jagoanmu! Tidak tahu kalau aku mantan atlet taekwondo. Untung masih ada sisa-sisanya” kata Agung.

Di lain tempat Deden sedang berusaha meloloskan diri. Ia berhasil melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya, karena penjagaan tak terlalu ketat dan alhasil ia berhasil lolos dari penyekapan.

“Bodoh, hanya menyekapku dengan tali seperti itu! Jelas aku lolos!” Ucap Deden.

Di lain waktu sang Pemilik penginapan berlari menuju suatu ruangan bawah tanah, Agung melihatnya dan mencoba mencegahnya, tetapi tidak berhasil dan pintunya terkunci namun Agung tak tinggal diam, ia mencoba mendobrak pintunya.

“Bos, mereka berdua berhasil masuk!” jelas sang pemilik penginapan.
“Bodoh, aku pasti mati sia-sia nantinya, aku tak mau! Aku akan keluar lewat jalan darurat ini, kau disini saja! Diam dan lakukan semampumu”
“Ta.. tapi”

Di waktu yang sama Agung masih mendobrak pintu bawah tanah.

“Perlu bantuan?” tiba-tiba Deden datang membantu.
Sembari mendobrak pintu mereka bercakap-cakap.
“Harusnya aku yang membantu kamu, Den! Bukan kamu yang datang membantuku!” Kata Agung.
“Kita ini kan bersaudara harusnya memang bahu membahu”

Tak lama kemudian pintu berhasil di dobrak, mereka berdua lekas menju ruangan tersebut. Sesampainya di dasar ruangan, mereka dikejutkan oleh sang pemilik penginapan. Namun, Agung berhasil menjinakannya.
“Siapa Bos kalian! Atau kupatahkan kepalamu!” Desak Agung.
“Aku tak akan buka mulut!”
“Jangan bunuh, Kak! Disini banyak petunjuk, sepertinya ini ruang komunikasi serta ruang kendali” Jelas Deden.
“Aduh, terlambat sudah ku pukul kepalanya, tapi untung Cuma pingsan”
“Trevor Andi Santana! Ini nama bos mereka, nampaknya mereka berhubungan erat dengan Yopi, yang kita temui di kapal, atau malah bermusuhan” jelas Deden.
“Lha, kamu kok bisa di tangkap mereka?” tanya Agung.
“Tadi aku menyebutkan nama Yopi, setelah itu aku langsung di sergap!” jawab Deden.
“Berati mereka musuhan dong! Pasti ada yang di sembunyikan!”
“Betul juga!” kata Deden.
“Tapi bagaimana kita mencari Trevor Andi siapa tadi?”
“Santana! Tenang aja, Kak! Untungnya aku membawa alat-alat radio ku! Aku kan bekerja di Bandara di bagian komunikasi hehe. Jadi aku bisa melacak mereka melalui sinyal radio yang sering mereka gunakan untuk Komunikasi, kita tunggu saja! Pasti ada panggilan dari radio ini! ” Jelas Deden.

Mereka berdua menyiapkan alat untuk melacak sinyal itu. Setelah itu menunggu panggilan yang datang dari radio lain. Setelah berjam-jam akhirnya ada panggilan dari radio tesebut.

“Halo, disini pusat! Meminta jawaban, halo…”
“Bagaimana, Den?!” Tanya Agung.
“Sekitar pulau Nusa Tenggara, Kak. Tepatnya NTT”
“Ya sudah, kita kan menguak ini untuk beberapa hari kemudian, aku harus mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu” jelas Agung sembari berjalan keluar ruangan.
“Oke! Aku juga, Kak! Aku hanya ada cuti tiga hari, setelah itu aku harus bekerja kembali!”
“Sip! Kita menginap sehari di vila ku, dan kemudian kembali ke rumah!” ajak Agung.
“Yeah, aku mulai menyukai kondisi ini” Pikir Deden dalam hati.

Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat itu, dan segera menuju villa sang kakak. Mereka baru saja di sentuh petualangan yang hebat. Namun, setelah ini ada petualangan-petualangan lainnya yang sudah menganga di depan mata mereka, namun mereka tak menyadarinya, tetapi mereka akan menyelesaikannya.

Pembuat: Muhammad Septian Rachmandika

Pirate King

“hei anak nakal… serahkan rotimu”, perintah Tobby
“apa… aku tidak mau Tobby”, tolak Neat
“apa kau bilang”, Tobby hendak memukulnya
“arrrgh…” teriak Neat
Seseorang datang menghentikan amukan Tobby. “tunggu”, pinta seorang laki-laki. Tobby berlari, menuju rumahnya karena laki-laki itu mempunyai julukan Sharp. Semua orang disini tau kalau dia adalah seorang bajak laut yang terkenal. “terima kasih tuan”, kata Neat. “siapa namamu”, tanya Sharp “namaku Neat… aku juga ingin sepertimu Kuat dan tajam”, kata Neat penuh bercak kagum. “hemmz… suatu saat nanti kau pasti akan menjadi sepertiku.. percayalah pada dirimu dan ikuti nalurimu”, nasihat Sharp. Neat mengerti dan mulai saat itu dia bersumpah akan menjadi seorang bajak laut yang cerdik dan baik hati.

Beberapa tahun kemudian, ketika neat berumur 18 tahun. Akhirnya ia menjadi seorang bajak laut. Walupun dia masih sendiri tapi ia yakin akan menjadi bajak laut yang hebat. Ketika ia sampai di sebuah desa bernama desa Lion king. Dia memutuskan untuk berlabuh disana untuk mencari perbekalan. “ha… apa dia seorang bajak laut”, tanya seorang anak laki-laki “kelihatannya begitu”, jawab salah satu temannya “tapi aku yakin dia bajak laut yang ceroboh dan tolol ha…” ejek anak itu membuat teman-temannya tertawa. Ia berhenti di sebuah toko pedang dan pistol. Ia melihat-lihat bermacam-macam barang antik itu. Dan ia melihat sebuah pedang yang berkilau dan terlihat sangat tajam. “waw”, kata Neat
“itu adalah pedang Lion King… konon pedang ini adalah pedang pembawa keberuntungan”, ucap Kakek itu
“hebat… berapa harganya”, tanya Neat
“untukmu gratis karena hati kecilku berkata kau akan menjadi bajak laut yang…”, kata kakek terpotong. “itu salah bajak laut hanyalah sebuah sampah”, teriak seorang laki-laki yang seumuran denganku. Ia berlari keluar dari toko tersebut, “dia cucuku dulu dia sangat ingin menjadi bajak laut, tapi ketika ia melihat ayahnya sendiri mati karena di bunuh bajak laut ia pun bertekat bahwa ia akan membunuh setiap bajak laut”, ucap kakek panjang lebar. Aku mengerti perasaannya itu. Setelah itu aku pergi dengan membawa pedang itu.

Sampainya di tepi dermaga, aku melihat cucu kakek tadi. “hah… hari ini sangat indah ya”, gumam neat.
“mau apa kau kemari pergilah dan jangan kembali”, gerutunya
“siapa namamu”, tanya Neat
“namaku handy, siapa namamu” jawabnya
“namaku Neat”

Kami berjalan mengitari, perbukitan belakang desa itu. Kami bersandar di bawah pohon sambil melihat situasi desa. Akhirnya aku memang harus pergi, Handy mengantarku sampai ke dermaga. Tiba-tiba sebuah bom jatuh di atas desa. Dan membuat desa hancur, aku melihat bendera kapal itu. “itu adalah The evil… cepat bawa para penduduk ke atas bukit”,
“cepat semuanya pergi ke atas bukit”, teriak handy
Ketika kapal berlabuh, sesosok laki-laki berjalan keluar kapal. Dan ternyata itu adalah Sword, kapten bajak laut the evil yang sangat terkenal dengan kebuasannya. “sword…”, ucap neat
“Neat Pirate King… ha…”, ejek Sword
“dasar bajak laut jahat” teriak handy
“Ha… prajurit”, dia memerintah pasukannya menyerang mereka. Neat mencabut pedangnya dari pinggangnya. “terima ini”, dia menebas semua prajurit di bantu dengan handy, ternyata dia pandai Ilmu bela diri. “kau bagus juga” puji Neat. “Kau juga”, timpal handy. Sampai tersisa hanya dia, dia adalah manusia yang mempunyai kekuatan mengubah tangannya menjadi pedang dan pistol. Dia menembak kami, “gawat aku harus… menggunakannya”, aku memakan sebuah pil. Dan ketika Sword menembak kearahku, aku hancur menjadi beribu-ribu ekor semut kecil. Dan menjadi manusia utuh lagi, “apa…” ucap Sword kaget. Dan handy juga mengeluarkan jurus andalannya, ia menjadi harimau yang lapar dan mencabik-cabik Sword.

“ha… akhirnya selesai juga” kata handy dengan nafas terengah-enggah
“kau hebat handy”, puji Neat
“kau juga”,

Seluruh warga turun ke desa, tapi kakek Handy meninggal terkena Bom tadi dan menjadikan Handy sangat sedih. Setelah pemakaman kakek Handy Neat harus pergi, dan mendapatkan cita-citanya menjadi Raja bajak laut. “tunggu…” teriak handy. “ada apa”, kata Neat
“bolehkah… aku… ikut denganmu”, ucap Handy
“apa”
“kakekku, telah meninggal dan aku ingin menjadi sepertimu”, tawar Handy
“baiklah cepat bawa bajumu”
Kamipun bersama-sama berlayar menuju ke tempat selanjutnya.

Handy dan Neat melanjutkan perjalanan mereka menuju Minning town. Karena daerah tersebut banyak dijumpai, berbagai barang-barang tambang yang mahal. Di sana, kami berjumpa dengan banyak sekali bajak laut seperti kami. Dan kami memutuskan untuk mencari kedai di daerah itu. “Handy, sebaiknya kita berhenti sejenak”, ajak Neat. “iya… aku juga lapar”.

Kami mencari makan dan menemukan Kedai yang cocok untuk kita berdua. Kami masuk kedalamnya, dan mendapatkan sebuah sup bebek yang enak dan lezat. “ini…” kata seorang wanita pelayan toko.

Kami melanjutkan perjalanan kami, untuk berkelana. Tapi tiba-tiba terdengar teriak orang meminta tolong. Kami berlari menuju letak suara itu. Ternyata wanita pelayan kedai tadi di tangkap oleh. Kapten Fart, kapten yang jahat dan kejam. Dalam sekejap dia menghilang, seseorang datang dan berteriak. “Prety, dimana kamu nak”, teriak seorang laki-laki setengah baya. “maaf… tapi tadi anak bapak di bawa kapten Fart”, jelas Handy. “apa…”, ucapnya kaget.
“aku tau dia siapa… kami akan mencarinya”, kata Neat
“baiklah… hati-hati markasnya ada di teluk Kegelapan”, pintanya

Kamipun segera menuju kapal dan berlayar ke teluk kegelapan. Kami segera menyiapakan energi, karena Teluk Kegelapan berada Di daerah timur yang letaknya lumayan jauh dan bisa di tempuh dalam 2 hari. “siapa sebenarnya Fart itu”, tanya Handy
“aku hanya menendengar nama itu di waktu aku kecil, dialah yang membunuh keluargaku”, jelas Neat.

Akhirnya kita sampai di teluk kegelapan, teluknya dipenuhi kapal-kapal penjahat dan perampok. “akhirnya kita sampai”, neat melihat kapal-kapal berbaris rapi. Mereka menepikan kapal mereka agak jauh dari mereka. Kami melakukan penyusupan, satu demi satu ruangan kami cari untuk menemukan Prety. Tapi dari sekian banyak kapal kami belum menemukan Prety. Sampai kami menuju ke ruangan rahasia kapten fart. Kami mendengar seseorang berbicara. “cepat katakan dimana kau sembunyikan batu Vigor”, gerutunya. “sampai matipun aku tidak akan memberi taumu”, geramnya. “jadi kau berani, baiklah… pedang naga hitam”, dia menariknya dari saku bajunya dan terdengar suaru gemuruh petir ketika ia menariknya. Apakah benar yang ku lihat itu, itu adalah pedang naga hitam pedang yang sangat sakti dan kejam. Menurut legenda tidak akan ada yang mengalahkannya. Kecuali satu hal, yaitu pedang naga putih. Tapi aku tidak tahu dimana letak pedang itu. Handy menjadi semakin geram dengan kejahatan Fart, dia membuka pintu itu. Dan…
“o… Handy manusia hewan”, kata Fart
“diam kau Fart…”
“Handy.. jangan gegabah, dia lebih kuat dari yang kita bayangkan”, tegas Neat
“ha… jadi kau menantangku pengecut”, tawa Fart
“Begini… kau bebaskan prety sementara aku akan bertarung dengannya untuk mengalihkan perhatiannya”

Aku mengeluarkan salah satu pedangku, pedang Elang. Aku hendak menyerangnya tapi pedangnya menghentikan langkahku. “heh… pusaran petir”, petir menyambar dari arahnya yang bengenai pedangku. Dan… “arrrgh…” petir tersebut menyambar tubuhku. “Neat”, teriak Handy. “cepat bawa Dia”, handy membawa Prety menuju kapal.
“kau tetap disini aku akan segera kembali”,

Handy penyusulku, “ah… sudah cukup permainanya aku akan membunuhmu”, dia mengayunkan pedangnya ke arahku. Dan aku menghentikannya denngan pedangku hingga menjadi debu. “Neat”, pinta Handy
Handy mengubah tubuhnya menjadi gajah. Dan membawaku ke kapal, karena aku terluka parah. “gawat… dia menderita luka yang parah”, katanya
“apa yang harus kita lakukan”,
“aku dulu seorang dokter… biar aku tangani”, perintahnya

Beberapa jam kemudian, Prety keluar dan memberi tahuku. “bagaimana keadaannya”, gumam Handy. “syukurlah dia tidak papa, tapi dia masih butuh istirahat” kata Prety. Mendengar sahabatnya tidak apa-apa, Handy sangat lega. Dan masuk ke dalam kamar neat. Beberapa hari kemudian, akhirnya Neat pulih seperti sedia kala. Neat memegang pedang kesayanganya, dan pedang satu-satunya. “Neat… apa kau baik-baik saja” tanya Prety. Prety melihat pedang yang di pegang Neat. “astaga…”, ucap Prety kaget. “ada apa… Prety”, tanya Handy.
“pedang itu… adalah pedang naga Putih pedang dan dapat mengalahkan Fart”, jelas Prety
“benarkah”
“benar… kau lah pahlawan itu, kaulah yang bisa mengalahkan Fart”, tegas prety

Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke gunung vigor. Untuk mencari batu legendaris itu, tapi setengah perjalanan kami pertemu dengan Fart dan anak buahnya. “apa kalian mau mati”, tanpa basa-basi lagi fart mengarahkan pedangnya ke arah kami. Dan aku mencabut pedangku dari pinggang. “rasakan ini, jurus badai topan”, badai pun datang menyeret semua anak buah fart. “apakah itu pedang naga putih”, tanyanya dalam hati. Handy merubah dirinya menjadi Serigala. Dan Prety menjadi manusia beton dan mengunci seluruh tubuh fart. Neat pun mengayunkan pedangnnya, “ini dia Pusaran angin topan pedang”, pusaran angin topan yang dasyat membawa Fart serta Pedang-pedang itu menghunus tubuh Fart. “arrrrgh…”, teriak fart. Akhirnya kami menang dan Prety memutuskan untuk ikut bersama kami.

** Tamat **

Pembuat: Dini Aprilia Purnamasari

45 Derajat Senyummu Merubah Arah Kompasku

Pada saat itu hari sabtu Sepulang sekolah, aku merencanakan mengajak sacna, andika untuk berkemah di gunung manglayang, jelas mereka pun mau karena kami bertiga memiliki hobi yang sama, kami bertiga memang sahabat sejati karena kami mengikuti ekstra yang sama ya itu pramuka dan kami sering mengikuti banyak perkemahan dan berbagai macam masalah

Udara semakin dingin, matahari sudah terbenam dua jam yang lalu, kami pun terus berjalan dalam kegelapan, suasanapun semakin hening takala sacna mengarahkan senternya ke bawah pohon yang rindang dan berkata
Sedang apa neng ko diem di situ mendingan ikut sama kita.. :D
Jelas hal itu membuat kami kaget dan ketakutan setengah mati dan berlari meninggalkan sacna
Heyy tunggu harr aku kan hanya bercanda..
Yang benar aja sacna di di situkan ga ada siapa-siapa..!
iya deh maaf

Malam semakin larut tidak terasa Kami pun sampai di puncak tepat jam 12 malam
Huuh akhirnya sampai juga
Iya sacna, ayo dirikan tenda
Okelah
Tenda pun berdiri kami bertiga menyalakan api unggun dan bermain gitar sampai subuh..

Dua hari berlalu aku dika dan sacna mulai kelaparan pada saat itu bahan bakar dan cadangan makanan menipis hanya tersisa satu blok paraffin dan juga dua bungkus mie instan dan satu telur, kami memasak persediaan terakhir kami ternyata sebelum semua mie matang paraffin sudah meredup dan mati terpaksa kami membagi makanan itu menjadi tiga dan di makan bersama karena kebersamaan yang sangat erat kami merasa enak-enak saja memakan mie dan telur mentah itu, karena hal itu sudah sering kami alami, hampir semua pengalaman susah senang kami rasakan bersama yang membuat persahabatan kami bertiga makin erat
Karena semua cadangan makanan sudah habis kami memutuskan untuk pulang berjalan kaki sampai sekolah di sana kami berpisah menuju rumah masing-masing

Keesokan harinya seperti biasa ibu guru mulai mengabsen setiap murid yang ada
Anak-anak hari ini ibu akan memperkenalkan murid baru dari sman 45 surabaya namanya Chika trirani
Silahkan masuk dan perkenalkan diri
Nama aku Chika trirani aku tinggal di jl randusari salam kenal…
Sambil memperkenalkan diri aku memandang wajahnya yang memang cantik dan suara yang lembut di tambah tubuhnya yang ramping putih dan rambutnya sepundak membuat aku penasaran akan wanita yang bernama Chika itu

Selesai berkenalan ia pun duduk di sebelah aku yang memang pada saat itu sedang kosong karena pada saat itu sacna sedang tidak masuk, aku pun mempehatikan wajahnya yang membat ia tersenyum, lalu aku pun bertanya
Kenapa kamu pindah ke sekolah ini?
Orang tua aku pindah dinas jadi aku harus mengikutinya juga
Ouh begitu, orang tua emang suka seenaknya saja padahal kan sulit mendapatkan teman
Iyaa orang tua suka begitu yang terkadang buat aku kesal
Sabar ya, sama orang tua aku juga menyebalkan ia suka melarang aku kemah menginap ber hari-hari
Apa..? berhari-hari
Iya, balas ku
Wow keren aku juga sangat senang berkemah
Kemarin aku, sacna dan dika pun baru pulang berkemah selama tiga hari kami pulang karena cadanggan makanan habis
Ohaha kalian pulang karena kelaparan..?
Yaa bisa di bilang begitu
Waktu dulu aku memanfaatkan apa saja yang bisa di makan di hutan..
Ohh hebat juga kamu

Obrolan semakin asik tetapi terhenti karena ibu guru yang datang ke mejaku
Haryandhi ngobrol truss ayo ke depan dan kerjakan soal nomer Satu
Iya buu
Chika pun tertawa kecil karena melihat ku di marahi itu pun membuat ia terlihat makin manis pikirku
Bel pun berbunyi semua anak berhamburan keluar kelas tetapi entah kenapa mataku tetap menatap Chika wanita itu begitu menarik di mataku karena sangat jarang ada wanita tomboy yang cantik dan suka berkemah

Keesokan harinya aku datang pagi-pagi dan langsung melihat bangkuku, di sana ada Chika yang sedang berbicara dengan sacna, benar saja mereka sedang meributkan tentang tempat duduk, Karena merasa anak baru ia pun mengalah dan duduk di belakang sendirian, lalu sacna pun bertanya
Har siapa sih itu…?
Itu anak baru dari Surabaya..
Ouh cantik juga yah lumayan tuh, tapi aga tomboy
Ohahah pastinya, iya aga tomboy hobinya juga sama kaya kita suka kemah
Jarang banget ada cewek kaya gitu, bulan depan kan ada acara kemah juga kita ajakin yuk
Okelah

Beberapa teman ku ada yang tidak menyukai Chika ia adalah toni, toni sangat kasar pada setiap wanita yang ia tidak sukai, entah mengapa ia tidak suka sama Chika mungkin karena ia tomboy atau karena Chika anak baru yang lumayan pintar, sampai suatu saat aku melihat toni sedang menarik rambut Chika, ia pun mengerang kesakitan, lalu aku melepaskan tangan toni, tanpa disadari aku terus membelai rambut Chika yang pendek itu,
Ko lembut kamu baru keramas yah..?
iya pun menengok kebelakang dan menjawab
iyaa tadi keramas pake pantene harum yah..
iya jawabku
Entah kenapa kejadian itu sulit untuk dilupakan dan selalu muncul dalam benak ku kurasa semenjak itu aku mulai menyukainya.

Hari pun berlalu ulangan trigonomerti sampai ulangan limitpun telah kami lewati bersama, aku rasa iapun cukup memberi harapan tetapi aku dan dia sudah cocok menjadi teman yang cukup akrab,
tidak kusangka andika juga menyukai Chika, aku tidak heran akan hal itu karena orang seperti Chika sangat mudah untuk di kagumi tetapi kenapa harus Chika padahal banyak cewek lain di kelas, aku ingat ketika andika berusaha menggombali Chika, tetapi bukan hal yang romantis yang terjadi, tetapi Chika hanya memberi muka dingin seperti patung kepada andika dan meninggalkanya, jelas saja hal itu membuat andika mati langkah dan malu sampai ia galau berhari-hari

Hubungan aku dan Chika pun semakin erat kamipun sering berjanjian untuk nonton bioskop dan juga makan malam tapi kurasa ia hanya menganggap aku hanyalah teman biasa, pernah aku isenng-iseng menanyakan perasaan ia kepadaku ia tersenyum dan menjawab aku suka sama kamu, jawaban itupun membuat aku senang dan aku memutuskan untuk menjadikan Chika menjadi pacarku, ku pikir ia hanya bercanda tentang hubungan kami seperti halnya candaan ia yang terkadang serius, tetapi kurasa ia benar menyukaiku yang apa adanya ini.

Waktu pun berlalu septian sang pradana pramuka mengumumkan tentang akan diadakannya kemah dan perlombaan peta kompas di gunung manglayang, aku Chika boy dengan sacna dan teman teman yang lain berangkat kemah
Saat kemah kamipun mendirikan dua tenda masing-masing untuk laki-laki dan perempuan, malampun semakin larut kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana lalu dika pun bertanya
Hey har kayanya asik kalo kita jalan-jalan ke hutan sambil cari kayu bakar
Ah kamu dik suka aneh-aneh aja, tapi ayo kita cari keburu kayu nya habis

Aku dan dika mencari kayu bakar ditemani senter dan sebilah pisau, aku dan dika pun berkeliling di sekitar tenda untuk mencari kayu bakar dan jalan-jalan membuang kepenatan, setelah cukup banyak aku dan dika kembali ke tenda dari kejauhan aku melihat sacna sedang menggoda Chika sontak membuat aku kesal
Sacna lagi apa kamu?
Santai bro aku kan hanya bercanda
Ouh begitu ya udah ini kayu bakar..

Malampun berlalu hampir tiap ada kesepatan aku selalu berdekatan dengan Chika, keesokan harinya lomba peta kompaspun di mulai tepat jam 4 sore aku di tugaskan memegang kopas dan andika memeriksa rute yang akan kami lalui, tak terasa hari mulai malam
Gelap terbentang luas menyelimuti hutan, Udara dingin setia menemani tiap langkah kami, aku Chika, sacna dan andika di tugaskan berangkat ke suatu titik di tengah hutan dengan panduan peta dan kompas, kami berempat jalan menysuri jalan setapak, dengan sigap sacna memotong dahan yang menghalangi
Cik kamu cape..?
Engga ko tapi ko disini dingin banget..
Iya sini biar aku peluk
Ah kamu suka ambil kesempatan aja

Setelah lama asik mengobrol dengan Chika tidak kusadari kompas ku telah melenceng 45 derajat dari rute, jelas hal ini membuat kami melenceng berkilo meter jauhnya dari rute di peta, kami pun tersesat jauh ke dalam hutan karena kecerobohan ku, telah beberapa kali andika dan sacna menyalahkan ku, akupun menyadari akan hal itu
Waduh gimana ini har kita tersesat jauh banget
Ya udah kita balik lagi aja
Coba kita cocokan peta nya dengan kompas
Gawat tempat ini udah di luar peta
Jadi gimanaa (Tanya Chika kebingungan)
Coba kamu telepon panitia
Boro-boro td jg sms mamah aku g bisa di bales di sini bener-bener gaada sinyal…!
Ya udah terpaksa kita buat bivak dan juga api unggun kita bermalam di sini untuk menunggu panitia mencari kita

Malam semakin larut, kami pun membuat api unggun dengan peralatan yang ada sesudah itu kami beristirahat sambil mencari ide untuk keluar dari hutan ini, lalu dika pun bertanya kepadaku
Har Bagaimana jika tim kita kalah…?
Tenang masih ada tim-tim dengan rute yang lebih dekat mungkin mereka sudah sampai ke titik itu, yang penting sekarang kita semua dapat selamat dan keluar dari hutan ini
(tiba-tiba terdengar suara serigala yang tidak terlalu jauh) auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Kamipun kaget bukan main
Harrr apa itu aku takut (tampak Chika ketakutan)
Tenang itu hanya serigala mereka takut pada api
Terasa suara itupun semakin lama semakin dekat kearah kami
Aku dika dan sacna pun merancang starategi agar kami tidak jadi makan malam serigala tersebut
Sacana: Cik kamu sebaiknya naik kepohon itu biar kami yang hadapi seriagala itu
Haryandhi: iya cik supaya kamu selamat
(cika pun naik ke pohon dibantu oleh aku dan dika)

Dengan bermodal dua bilah pisau dan keberanian kami pun merancang strategi untuk melawan serigala itu
Sacna: har bagaimana jika kita bertiga naik ke pohon serigala kan engga biasa manjat
Haryandhi: ide bagus, tetapi penciuman mereka sangat tajam bereka pasti tau keberadaan kita dan menunggu di bawah pohon sambil menggongong
Dika: har sisa kornet kamu masih ada…?
Haryandhi: masih, buat apa dik?
Dika: buat umpan pasti serigala itu lebih tertarik kepada bau kornet itu dibandingkan bau kita, kita pun harus menyamarkan bau kita dengan lumpur
Haryandhi: itu ide bagus dik kau memang jenius
(dengan cepat kamipun melulurkan lumpur ke tubuh kami)

Haryandhi: jadi gini kornet ini di simpan tepat di bawah pohon lalu kita pasang jerat dengan tambang pramuka ketika serigala itu tepat berada pada target kita tarik tambang itu secara bersama, lalu kita bunuh serigala itu
Sacna: bagaimana jika serigala itu berkelompok?
Haryandhi: matilah kita, tapi tenang aja kayanya serigala itu hanya satu terdengar dari suaranya, oke semua siap..?
Sacna, dika: siap harr

Kamipun memasang umpan dan jabakan dengan tambang pramuka tepat pada tempat yang sudah di rencanakan sebelumnya
Malampun semakin larut aku melihat jam dan sudah jam setengah dua subuh, apakah ada serigala yang masih punya selera makan jam segini pikir ku
Suara itupun semakin dekat kira-kira sudah beberapa meter dari jarak kami
akupun menunjukan jempol kepada kedua temanku tanda bahwa sudah siap, terlihat seekor serigala berwarna hitam legam dengan gigi seram, yang terlihat keluar dari rindang nya pohon, ia pun perlahan-lahan mendekati umpan kami tanpa menyadari keberadaan kami, tanpa ada rasa curiga serigala itu makan kornet bekas makan siangku
sudah terlihat serigala itu telah berada pada titik target dan sudah sedikit terlilit tali
haryandhi: tarik…!
Kamipun loncat dari pohon sambil menarik tali itu, terlihat seekor srigala hitam besar tergantung di atas pohon sambil menggogong tidak beraturan, salah satu kaki belakang serigala itu terikat tali sehingga serigala itu masih dapat berayun-ayun
Dika, sacna: horee kami berhasil
Haryandhi: dik kencangkan tali itu agar serigala itu tidak lepas, dan juga ikat leher serigala itu
Dika: okee har

Dengan sigap aku menusukan pisau ke leher serigala itu, suara lingkingan pun terdengar darah pun bercucuran membasahi sebagian lengan ku, akupun mengoyak leher serigala itu agar sepat tewas, tetapi serigala itu tetap berbunyi, sacna dan dika pun membawa tongkat pramuka untuk memukul serigala tersebut, sudah beberapa puluh pukulan mendarat pada tubuh srigala itu dan akhirnya serigala itu pun tewas.
Kami semua pun senang karena telah mengalahkan serigala itu tetapi aku tidak memberi aba-aba kepada Chika untuk turun dari pohon karena aku khawatir jika terdapat serigala atau hewan buas yang lainya, beberapa menitpun berlalu setelah kurasa aman ku panggil Chika untuk turun
Chika: harr hebat banget kamu bisa ngalain serigala kamu emang pacarku yang paling keren
Haryandhi: iya dong demi ngelindung kamu
Chika: ah so sweet
Dika: aduh saat genting gini masih sempet aja pacaran

Malam pun terasa hening dan damai takala kami telah membunuh serigala tersebut waktu pun berlalu tak terasa waktu telah menunjukan jam lima subuh, api unggunpun mati karena kayu yang telah habis, dinginpun membangunkan kami yang sedang terlelap tidur
Dika: har ga kerasa udah pagi lagi ayo kita cari pertolongan
Haryandhi: ayo, sacna jaga Chika
Sacna: oke bro
Aku dan dika berjalan ke tempat kosong untuk mencari pertolongan, kami pun membakar api untuk mengirimkan simbol pertolongan, asap pun membumbung tinggi ke langit beberapa jam kami menunggu perut ini sudah terasa lapar tetapi hanya ada daging serigala yang haram untuk di makan..

Matahari pun mulai meninggi Aku pun melihat jam yang telah menunjukan jam 10 pagi, dari kejauhan kami melihat sekumpulan orang berbaju oren datang kearah kami mengunakan mobil jeep, setelah kuperhatikan itu adalah panitia dengan tim penolong bersama teman-temanku, kamipun merasa senang karena telah datang bantuan, perlahan tapi pasti merekapu sampai ke tempat kami berada
Panitia: apakah ada yang terluka
Kami: tidak pa
Panitia: syukurlah kalian selamat kami sudah khawatir kepada kalian tetapi mengapa kalian tidak sampai pada titik yang telah kami tunjuk..?
Haryandhi: kami tesesat pa
Panitia: mengapa ada bangkai serigala? Itu adalah serigala yang sering memakan korban para pendaki gunung dan sering menggegerkan warga di sekitar hutan ini mengapa hewan buas itu mati? apa yang sebenarnya terjadi…?
Haryandhi: nanti saya ceritakan pa, sekarang kami lapar dan haus
Panitia: baiklah ayo naik ke mobil dan makan beberapa makanan, dan bawa bangkai serigala itu sebagai bukti bahwa pemangsa di hutan ini telah tewas

Dalam perjalanan kami menceritakan semua kejadian yang telah kami alami semalam kepada panitia, tim sars dan kepada teman-teman, mereka semua kagum kepada apa yang telah kami alami semalam, panitia pun bercerita bahwa hampir setiap di adakan perkemahan dan pendakian sering memakan korban jiwa disebabkan serangan serigala, pernah diadakan perburuan bersama warga setempat tetapi serigala itu sangat cerdik dan sulit di tangkap, sudah lama panitia itu mengincar sang serigala

Kamipun tiba di perkemahan dan langsung di bawa ke tenda PMI untuk beristirahat, selesai beristirahat kami pun bersiap untuk mengikuti upacara pengumuman pemenang dan pembagian piala, akupun sudah hilang harapan karena saat lomba kelopoku tersesat dan tidak sampai titik koordinat yang di tuju
Saat pengumumnpun dimulai seperti biasa ka kwarda member sambutan, saat di umumkan ternyata sangga dari ambalan bima sakti menjadi juara tiga, dan selanjutnya sangga dua dari ambalan ku menjadi juara ke dua karena telah sampai lebih awal, syukurlah ambalanku meraih juara tapi siapa yang menjadi juara satu, akupun kaget karena ternyata sanggaku yang menjadi juara satu, tapi mengapa tanyaku dalam hati

Ka kwarda pun menjelaskan bahwa sangga ku telah berjuang dan menyusun startegi menurut teknik kepemimpinan untuk melindungi sahabat, dan telah menyingkirkan ancaman terbesar bagi para pendaki dan penduduk sekitar gunung yaitu serigala hitam
Karena itulah ka kwarda menyerahkan piala juara satu kepada ku sebagai ketua sangga, kami pun merasa senang akan hal ini, selesai pengumuman kami pun merobohkan tenda dan bersiap untuk kembali pulang ke rumah, aku pun mendapat ucapan selamat dari banyak orang terutama dari Chika.

Kamipun tiba di rumah masing-masing, hari begitu cepat berlalu, saat di sekolah aku, sacna dan dika sempat di interogasi oleh wali kelas tentang hal yang pernah kami alami, kami pun menceritakan kembali secara rinci kepada wali kelas, ia pun kagum akan kekompakan kami sebagai tiga sahabat

SELESAI

Pembuat: Haryandhi

Teror Beruang

Aku Icha, ketiga temangu Ria, Lia dan Sinta, kami adalah 4 sekawan. sekarang kami tersesat di hutan belantara. Ketika study tour akhir kelas 3, harus melakukan camping di hutan yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara kami, semua sesuai rencana, namun di sinilah kisah di mulai.

*MALAM SEBELUM TEROR*
(Ceritanya lagi tidur di dalam camp bro: -p)
Aku, Ria, lya dan juga Sinta, sedang tertidur lelap. ketika sebuah suara dari dalam hutan membangun kami, seperti anak kecil menangis. “masa ia sih? hutan ini ada orang buang anak?” pikir ku. kami saling melirik ingin tahu apa yang berada di sana, setelah berunding akhirnya kami diam-diam pergi mencari sumber suara, dan mungkin kesalahan yang ku sesali sampai sekarang, kami tidak minta izin pada kaka pembina.

Bemodal senter dan satu buah petromak kecil, kalau di hutan cuma ini yang bisa kami andalkan, dan juga jaket hangat melilit di tubuh, kupluk penghangat menghiasi kepala. Lebih mirip seperti penjaga vila di puncak, aku tertawa kecil melihat style temen-temangu yang extime itu.

Kami menyusuri gelap malam, suara hewan malan jelas hanya jangkrik dan beberapa hewan lain yang masih ronda, ini sangat sepi sekali, secara di hutan luas dan gelap, udara malam menambah angker suasana. sumber suara masih terdengar, perlahan makin kecil dan membesar kembali.
Lia: “pulang ajah yuk? merinding niiih gue?”
Ria: “ah dasar penakut lo!”
Shinta: “belum juga ketemu sumber suaranya, udah takut duluan. payah nih?
Icha: “diam dulu kenapa? belum juga jalan. baru 5 langkah nih *te… te… te… tetet. uut permatasari* udah pada takut, tuh liat camp kita ajah, masih ketinggalan!.
Shinta: “KELIHATAN KALI!” *kesal
icha: “itu maksudku!” *nganguk2

Suara langkah kaki terdengar dan menghilang lagi, kami terdiam dan terpana, belum apa-apa lia mau menangis. “dasar gorila cengeng alay” jawabku kesal. suara langkah kaki menghilang, mungkin saja itu adalah dahan yang jatuh, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang suara bayi menangis tak terdengar lagi, mungkin kecapean menunggu kami, atau mungkin mamanya datang, Namanya juga cerpen. hanya terjadi dalam cerita

Ketika kami melanjutkan, lagi.. lagi.. lagi. Kami harus.. takut, terkejut, dan merinding, napasku rasanya akan terhenti, beruntunglah aku, karena lobang hidungku besar dapat menyedot udara lebih banyak, berbeda dengan Lia dan Sinta, hidung mereka mancung ke dalam, seperti hidung kingkong. ini mengakibatkan napas mereka sesak, apa lagi kami lupa membawa oksigen, Ria tertawa kecil memandanng mereka,

Di depan kami sesosok babi hutan berukuran raksasa dan 2 singa muda tewas tercabik-cabik. Daging babi hutan perutnya terburai dan tulangnya berceceran di tanah, belum lagi ke dua singa muda dengan kepala yang hancur, jangan tanyakan jenis kelaminnya, karena saya bukan dukun pemirsa.: -p
Di sertai cakaran pada tubuh mereka, daging singa itu sedikit amis dan kelihatan membiru, mungkin sudah beberapa hari mereka tewas

“Apa yang terjadi di sini?” kataku memandang sahabatku
ICha: “gimna kalau dagingnya kita bawah pulang, buat barang bukti, sekalian buat makan di rumah?, hahaha”
Lya: “mank kamu mau makan daging babi sama singa!, ini kan bulan puasa bro!”
Icha: “justru itu daging mahal bro..! *tertawa sinis penuh kemenangan,
Shinta: “tapi kira- kira apa ya?, yang menyababkan mereka tewas tercabik-cabik seperti ini?”
Ria: “mungkin di bunuh orang untuk lebaran?, daging mahal, daging babinya bisa di campur dengan daging sapi. ckckc, eh gimna kalau kita bakar ajah?, untuk makan malam kita! *ide buruk jangan di tiru*
Icha, lia, Sinta: “ggggrrrr, dasar otak bisnis! *gebukin shinta rame-rame*

Di saat kami sedang memperhatikan dan menganalisa keadaan korban BABI (jangan tersinggung lo) dan singa, kami di kejutkan sebuah Suara auman dari balik semak-semak. sebuah suara hewan malam, tepatnya sesuatu yang sangat menyeramkan, sangat keras sekali, seperti beruang *yang di nobatkan sebagai bintang paling kaya, kan ber-uang, kalau miskin bukan ber-uang tapi kere, kaya itu pilihan, miskin itu bukan nasib, tapi karena faktor malas. makanya nama mu ganti beruang, walau miskin ga akan di hina, terus kalau pacaran, cewe atau cwomu bilang “dasar buaya darat, kamu tinggal bilang seperti ini?. “aku bukanlah buaya, aku beruang kutub!”*

Ternyata benar perkiraanku, seekor beruang ganas, binatang besar dan tinggi sekitar dua meter muncul dari balik semak, matanya menyala dengan taring siap menerkam kami, aku menjatuhkan senter karena saking takutnya, aku dan ketiga temangu. lia, Ria dan juga Sinta tak bergerak. *yailah, kalau mereka berjoget gue tabok satu-satu, kalau dua-dua nanti gue yang di gebukin :-p, di situasi seperti ini lagi*.

kami saling berpandangan, menahan kaki yang mulai tak bisa di ajak kompromi untuk bergerak kabur.
Icha: “kalau aku hitung sampai tiga..”
Ria: “kita lanjutin ya!”
icha: “bukan begooo, kita kabuurlah, emang kita anak TK!” *kesal
Icha: “1… 2… 3… KABUUURR!”

Kami menyusuri jalan kembali pulang. jatuh terhempas dan berdiri lagi. Di belakang kami seekor beruang liar ganas dan kelaparan mengejar kami tanpa memberi waktu untuk kami memperkenalkan diri apa lagi menanyakan status hubungan kami di fb. *alfred koplak :-p
Pencahayaan yang kurang dan susana gelap malam. menjadi kesulitan kami, tak tau arah ke mana harus bergerak, ke mana kami melayangkan pandangan, kami benar-benar salah alamat.
*[teeeet.. teeet Ayu kingclong-alamat palsu]
Yang di benak kami saat ini terlepas dari binatang buas ini. “TEMAN-TEMAN KITA AKAAAN MATIII!” aku berteriak menembus malam, membangun para burung yang sedang bercinta dengan mimpi malam
“jangan bilang begitu…!, aku belum punya pacar dan mau menikah dulu, masa stastu jomblo terus di fb!” Lya menimpali sembari melemparku dengan balok di tangan. terlihat jelas betapa ia tak laku-laku. apa kami akan selamat dari binatang buas ini?

Malam gelap semakin larut, beruang yang kelaparan belum lelah mengejar kami, padahal ini yang Ngetik udah
Mau patah jarinya. Sampai akhirnya langkah kami terhenti. sebuah jurang sekitar dua meter dan di bawahnya sungai mengalir dengan kedalaman hampir 100 meter. kami berhenti. saling berpandangan, jantung memompa begitu cepat, tubuh kami sangat lelah. keringat menjalar jatuh.
Icha: “sekarang bagaimana?”
lya: “kta tidak mungkin lompat menyebrang, kalau sampai jatuh…?, kemungkinan besar kepala kita akan membentur batu di bawa sana, sia-sialah kita lari, dan sudah pasti cerpen ini tamat riwayatnya!
ria: “cara satu-satunya kita lompat menyebrang, berdoalah, supaya kita selamat dan jika mati nyawa kita di terima masuk surga bukan neraka?”
shinta: “dasar… bodoh!, tidak ada waktu lagi untuk berdoa, justru beruang itu yang akan berdoa duluan sebelum menikmati daging kita!”
Icha: “ok,! tidak ada pilihan lain’ selain kita harus terjun ke dasar sungai dan lebih baik berdoalah supaya tidak ada piranha di sana, yang tidak berani, silahkan di sini biar di santap beruang untuk berbuka pausa!” Aku berteriak sembari menerjunkan tubuhku ke jurang, aku menutup mata, berharap pada keajaiban ilahi. aku jatuh ke dasar sungai, hampir saja kepala ku membentur sebuah batu raksasa di depanku, sedikit lagi kepalaku membentur batu di depanku. aku merenang ke permukaan. di susul Sinta, kami berdua saling berpandangan, karena Lia dan Ria belum muncul. beberapa saat muncul Ria dengan benjol sebesar buah pepaya karena terbentur batu kerikil di dasar sungai.
Sinta: “kasihan banget, pasti banyak dosanya nih?” *tawa ngakak
Icha: “tapi di mana lia?, kok ga muncul-muncul?!”

Kami mencari sekeliling. tapi tidak ada, “Aaaaah Tolooong aku Broo!” sebuah suara menggema dari atas jurang. kami mencari datangnya sumber suara.
Aku, Ria dan Sinta tertawa Puas, jungkir balik, sambil makan linggis bagaimna tidak di atas sana, teman kami Lia, sedang tersangkut pada sebuah dahan. *pantas saja tidak jatuh-jatuh*
Dan di atasnya lagi, kira-kira 4 meter dari Lia. beruang melihat dengan mondar-mandir, jelas ia mencari cara untuk turun, mencoba meraih badan Lia yang tersangkut. sampai akhirnya ia pergi dan berlalu pergi. “ku harap ia tak kembali?” kata Lia marah-marah.
karena dahan pohon tak kuat menahan beban Lia akhirnya dahan itu patah, menjatuhkan seonggok manusia turun ke bumi dengan indahnya. bunyinya sangat dasyat, seperti ikan paus terdampar.

Kami menghampiri, menarik serta menolong Lia,
Lia: “ah,.. sialan banget tuh beruang!, masa aku mau loncat, dia tarik baju aku?, untung bisa lolos, hadeeeh… pait, paiit, kalau ketemu lagi, aku laporin orang tuanya, dasar tidak punya hati!” Lia kesal sekali kelihatannya.
Icha. Shinta, Ria: “gubraaak!”
shinta: “lagi lama banget si!, mau terjun ajah, pake minta maaf ma ortu segala, mana mereka dengar!”
Lia: “ya udah sih.. sepele ga pake R. mana ku juga lupa lagi bawa selimut lagi”
Ria, Icha, Shinta: “buat apaaan sarung?, mau di sunat!
Lia: “kedinginan akunya broo!”
Icha. Ria, Shinta: “gubraaaaak” *lya di gebukin rame-rame dengan golok wiro sableng!”

Kami duduk termenung, terdiam membisu. kedinginan dan menyeka air yang turun. hujan yang turun menambah beban kami, sebuah gua kecil tak mampu melindungi, aku menangis, sedih sekali. kenapa harus keluar diam-diam, “pasti kaka ketua dan yang lain sedang mencari kami?” aku marah pada diriku sendiri.
Petir menymbar di langit, hujan yang turun, hanya lampu dan senter jadi sahabat di gue ini. suasana hening, sepi sekali
Shinta: “kalau aku mati sekarang!, aku mohon kalian jangan sedih ya!” *menghapus air mata*
Icha: “kenapa kamu berpikir demikian?, kami tak mungkin meninggalkanmu mati di sini sendirian!, ga usah berlebihan!”
Shinta: “udahlah, ini bukan saatnya berdebat!” *kesal
Lia: “bukannya pikirin gimana kita keluar dari sini malah ribut terus, pusing gue dengarnya!”
Icha: “eh.. lo juga jangan ceramah deh, kan lho, yang ngajak kita jalan keluar!
Lia: “kok loh, malah nyalahin aku, terus aku harus bilang apa lagi?, kan kesepakatan kita bersama. mana ku tau di sini ada beruang, ga usah nyari gara-gara cha!”
Shinta: “hey.. udah… udah!. kok malah serius sih?, kalian bukannya kasih ide malah bikin suasana makin buruk!”

Shinta berlari ke pojokan dengan menangis, membuat Aku dan Lia saling terpana, aku duduk temenung. “ini bukan salah siapa-siapa?, tidak ada yang bisa menolong kita di hutan ini, selain kita sendiri yang harus mencari akal untuk keluar dari sini!?”
Aku, Lia dan Ria menghampiri Shinta, memeluk dan menghapus air matanya.
Terdiam dalam gerimis hujan yang mulai reda.

Setelah semua tenang
Lia: “sekarang kita kembali ke camp, usahakan untuk tidak terpisah satu sama lain, persediaan tenaga kita terbatas!”

Kami mencari jalan dan akhirnya kami berhasil keluar dari sungai, tantangan kami sekarang melewati hutan belantara ini dan mencapai camp. langit yang menghitam kini menjadi terang oleh sinar bulan. sinar bulan memberi kami sedikit harapan, rimbunnya hutan di tambah arah yang tak jelas menghambat perjalanan kami, persedia yang kurang dan peralatan yang kami bawa, membuat kami mulai hilang akal, kami mulai kelaparan, dan tak tau bagaimna mendapatkan makan, untuk memuaskam cacing-cacing di perut kami yang mulai menciut, berdemo minta makan. arah tujuan yang tak jelas, mengharuskan kami istrahat dan jalan lagi. terpaksa kami bermalam di hutan, dengan tubuh kedinginan, dan kelaparan sangat. beralaskan rumput liar dan dedaunan seadanya.
Shinta: “padahal di rumah aku tak pernah tidur di lantai, kasurku empuk, kedua orang tua yang sayang sama aku, sekarang aku tak tahu harus gimana, tidur di atas rumput, aku merasa tak berguna, aku ingin membalas cinta mereka!” Sinta menangis mengenang masa indahnya di rumah. sekarang hanya kami dan kesunyian, meratapi kesalahan yang harusnya tak perlu.
Icha: “Sinta sayang?, kamu jangan sedih, malah kami ikut sedih?”
Lia: “kamu sih enak shinta, coba aku!, tak pernah melihat papaku sejak kecil, berkali-kali aku menanyakan pada mamaku, tapi ia selalu marah dan menangis, hingga aku tak pernah menanyakannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini.
Ria: “udah.. udah..!. jangan bikin suasana tambah sedih, kita semua sedang tersesat, aku tahu kalian merindukan, rumah, sahabat, makanan, pelukan orang tua. tapi ini bukan saatnya!. sekarang kalian tidur!”

Aku mendekati Lia dan Shinta yang sedang menangis, Aku berusaha menghapus air mata di pipi mereka, memeluk dengan hangat, aku bisa merasakan kesedihan mereka saat-saat ini, “jangan nangis lagi Shinta dan Lia, kita pasti pulang, percayalah. kalian tidak boleh putus asa, hidup ini harus di jalani, apapun resiko dan alasan. bukan di tangisi, itu bukan pilihan terbaik, keluarga yang lengkap belum tentu bahagia, kalian harus menciptakan kebahagian itu sendiri, dari kecil aku dibesarkan oleh nenek, orang tuaku lebih memilih bisnis mereka, pulang malam, di saat aku terbangun mereka tidak ada, karena mereka telah pergi ke kantor, sedih sekali, setiap doa ku di malamku dinginku, cuma satu. “tuhan kenapa kamu menciptakanku hanya untuk menikmati kepalsuan dunia?, kenapa aku berbeda?, aku tak butuh uang di laci, aku bisa bertahan tanpa makan tapi… aku tak bisa makan kalau hatiku menangis, aku inginkan hanya pelukan hangat dari orang tuaku, tapi mereka terasa asing bagiku, rumah ini layaknya kota mati dengan penghuninya yang tak saling mengenal atau menyapa. “aku menangis lepas. air mataku perlahan menampakan dirinya di sudut-sudut mataku

Suatu malam kaka ku datang dalam keadaan mabuk, rasanya aku ingin mengusirnya, dari mulutnya keluar bau alkohol menyengat. ia merebahkan tubuhnya di kasur dan… dan tak pernah terbangun lagi esoknya, ia terlelap di malam-malam panjanganya, hanya malam dan bintang yang menemani kesunyian dalam tidur panjanganya padahal hanya dia kaka, teman, sahabat dalam hidupku, sejak itu aku mulai mengenal dunia malam. aku merasa tidak ada yang mengurusku, papa, mamaku sibuk dengan bisnis, uang dan uang, kapan mereka ada waktu untuk anaknya, mungkin saja aku bukan anak mereka?, hanya nenek yang mengurusku, tapi ia terlalu tua. tenaganya pun tak sanggup lagi membimbingku, mengenalkan aku tentang kebenaran kehidupan ini. Nenek ku meninggal. mungkin karena kelelahan, tak sanggup lagi dengan penyakit yang sejak lama mengusik raganya

mama dan papaku, bertengkar hebat di sebuah malam yang dingin itu, aku hanya dapat melihat dan mendengar dari kaca kamarku, aku bosan sekali, ini bukan pertama tapi berulang-ulang, mungkin setiap hari. membuatku semakin hancur, marah dengan kedamaian hidupku. sekarang siapa yang lebih kacau!” aku menangis memeluk pundak kedua sahabatku.
Shinta dan Lia terdiam memandangku, mereka menghapus air mata dan tersenyum padaku, “kita pasti selamatkan?” Lia memandangku. aku mengangguk tanda setuju,

Aku menguap tertidur, tapi sebuah gerakan dari dalam semak-semak beberapa meter dariku, mengalihkan perhatian Ku, Shinta berlari membangunkan Ria yang sedang tertidur. “cepat bangun ada bahaya!
Mahkluk apa yang ada di balik semak-semak?
Walau nyawa Ria masih belum sadar karena di alam mimpi. ia bangun juga dengn tiba-tiba membuat kami kaget. kami berempat diam terpaku, perpelukan menunggu binatang apa yang berada di balik semak belukar
Icha: “ya.. tuhan semoga itu bukan beruang!. semoga itu justin bibir aja ya?”
Icha, Ria, Ria: *gubraaak *Lia di gebukin pake hamer*

Kami terdiam dalam keheningan. berharap dan menanti, lima menit kemudian ternyata yang keluar bukan beruang tapi seekor kelinci. membuat kami kesal dan saling perpandangan. Aku mengedipkan mata.

“kejaaaar, hajaaar. jangan sampai lepaas!”
akhirnya kami bisa menikmati makan malam dengan kelinci panggang. kami bersenda gurai. menikmati dingin malam ini. bagiku ini sebuah kebersamaan hangat yang tak pernah ku rasakan selama ini. seumur hidupku. jangan biarkan berlalu kesempatan indah ini tuhan. “jika kita selamat, dan tua nanti ingatlah hari indah ini kawan, di sebuah malam dingin 4 sekawan dengan dingin angin malam.” kataku berbisik lirik

Sinar mentari menyilaukan mata. menerpa tubuh kurus nan bersekat, berselimut rumput liar. kami terbangun mengucek mata, tersenyum kecil dan tertawa satu sama lain tanpa alasan yang jelas.
Icha: “ha ha ha, Lia beleknya seember, tapi bagusan begitu, Biar romantis, Aku tertawa melihat Lia dengan belek dan iler mengering menumpuk semalam
Lia “ehmmm ada apa ya?” *belum sadar juga ternyata*
Ria: “aduuh, rasanya mau patah tulangku tidur di tanah, cuma beralaskan rumput, menyebalkan sekali…!” Keluh ria membuat kami tertawa.
Icha: “ssstt. aku merasa ada yang aneh!” *hening
ria: “ada apa?, ada beruang kah?” *berbisik*
Icha: “bukan tapi apa kalian tidak sadar, ke mana perginya mahkluk cantik bernama Shinta?”
“WAAAAH!” kami teriak bersamaan
Shinta: “Ada apaaaa?” jawab sebuah suara dari atas dahan pohon
*gubraaaak* ternyata Shinta sedang tidur di atas pohon* dasar anak gorila, Tempatnya ya? Di atas*
Shinta: “sori.. sori aku takut nanti beruangnya datang, kan aku pasti selamat, paling kalian yang di cicipi cipiki duluan!” shinta berkata dan turun, tapi karena kepleset akhirnya ia jatuh dengan kepala duluan menumbruk tanah.
“aaaaakkkkk!,”
Lia: “biar tahu raaasa!, kena karma karena tidak setia kawan!” kami tertawa.
“sialan kalian semua, malah tawa bukan tolongin…!”

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Entah kami di mana sekarang, yang ku tahu, kiri kanan ku pohon menjulang tinggi, dengan dahan besar di mana-mana, berkali-berkali kami harus memutar arah, karena tebing dan jurang menghalangi di depan. kami kelelahan, keringat menguras energi, lapar mulai menjalari tubuh, kami duduk termenung pada sebuah pohon oak yang rindang. kami terdiam, keadaan hening. di tanganku hanya bermodal senter yang hampir padam. dan sebuah petromak. terik mentari seakan membakar bumi

Shinta: “sekarang gimana, di mana ini kita!”
Lia: “kita terlalu jauh tersesat, persedian tidak ada, berdoa saja ada makanan datang lagi!”
Ria: “kalau aku selamat, ka… lau.. sela.. mat!”
Shinta: “ia, kenapa? Ria.?!”
Ria: “aku mau makan yang banyak banget!”
“Cuma mau bilang itu!” shinta trlihat kesal. sementara Ria senyum-senyum dengan gigi tonggosnya tanpa bersalah.
Shinta: “kalau aku mending di sini saja!” kami mengalihkan perhatian pada Shinta,
Icha: “mank kenapa? pasti karena kita ya?” aku berkata sembari tersenyum pada Lia dan Ria.
Shinta: “bu.. bukan itu kok!”
Icha: “terus kenapa SIH?!” *mulai kesal sendiri
shinta: “takut aja! takut sama hutang di warung yang menumpuk, gue kan diam-diam hutang di warung!”
Icha, Lia, Ria: “gubraaaaak, “dasar anak setaan!”
Lya: “parah..! ngapain mikirin hutang di saat begini, eror juga kamu tuh anak!” *mata merah bertanduk*
Icha: “tenang ajah, kalau selamat, aku usahakan untuk menolongmu Shinta!”
Lia: “emank punya uang?, aku juga ya!, jajan cuma 20ribu sebulan!”
Icha: “mau berapa?. dua juta?, tiga juta? *kesal
Lia: “di kasih tuh duit..?”
Icha: “Gaaa” mau duit. Ya kerja donk, enak aja loo!”

Tidak terasa sudah mulai siang, terik menyengat, kami melanjutkan perjalanan mencari tujuan, akhirnya kami sampai pada sebuah sungai. airnya jernih dan kelihatan sangat mengoda sekali untuk di nikmati. bukit terjal mengelilingi. sebuah gua terlihat mengucurkan kehangatan di sampingnya. tanpa ba. bi bu lagi. kami lari teriak kegirangan menikmati kesempatan langkah ini. rasanya sedikit mengurangi beban. kalau tidak bertemu sumber air ini mungkin kami akan dehidrasi mati kehausan, dengan bermodal alat ala kadarnya, kami memancing ikan, walau cuma 3 ekor tapi ini benar-benar membantu kami bertahan.

Kami memasuki sebuah gua dekat sungai untuk berteduh. membuat api dan memanggang hasil tangkapan. tiga ekor ikan menunda kematian kami, di saat kami beristrahat dan hendak beristrahat, dua buah mata melihat dari lorong gua yang gelap, suaranya aumannya menggema di kuping, dapat di pastikan ini beruang. “ya? seekor beruang bego, yang tak tau diri, teriak kok kencang-kencang, pelan juga kita tau itu beruang”
Lia: “kan biar dapat feelnya, ga lucu kan?, kalau beruangnya berbisik di kuping, cuma mau bilang. “di makan dulu ya kalian!” mana lucu…
Icha: “aaah, biarin!, pokoknya aku mau nyalahin tuh beruang!” *edan gila

Kami menjerit bersamaan, saling menatap satu sama lain,
Icha: “kenapa beruangnya alay banget, tidak bisa liat kita tenang sedikit ajaa!”
Lia: “saatu… duuua… tiiga!”
Shinta: “e, e, eempat!” *gubraaaak*
Icha: “lari begoo!” *Lia di seret

“lariii selamatkan diri masing-masing!” kataku menembus kesunyian.
Kami lari menembus semak belukar. seekor beruang, tinggi dengan body bak Ade namnung mengejar. kami begitu beruntung karena sedikit terobati rasa lapar dengaan ikan tadi, kalau tidak, mungkin beruang ini dengan mudah mengunyah kami bagai lolipop. Badan beruang yang besar membuatnya lari tidak begitu kencang.
“Mampussss kita kali ini, beruangnya benar-benar marah kediamannya kita buat memanggang tanpa izin, “Lia mengomel dengan napas satu, dua
“dia bukan orang, mana mungkin dia ngerti pinter kediamannya kita usik!” Shinta berkata kesal
Icha: “beruangnya mengejar bukan karena marah, tapi dia lapar bodoh!, sangat lapar!”
“kalaaau begiiittuu kita tidak akaan loloss kali ini!” Ria menimpali dengan lari semakin kencang, seperti kuda bi*al

Siang terik di bawahnya 4 manusia cantik sedang di buru, bukan memburu. kisah tentang hidup yang kasar dan penuh tangis menyusuri setapak demi setapak arah jalan hutan.
“akuuu taak mauu matii tuhaaan!” Aku teriak menembus hutan belantara. suara ku menggema terdengar ratusan kilo bait.. menyusuri sudut-sudut hutan”

Terik mentari memanaskan bumi dan juga tubuh kurus kami yang berbalut tulang dan kentut. Beruang ganas dan lapar masih mengejar. padahal Alfred, jari-jarinya sudah jadi jempol semua… Saya berpikir, mungkin beruang bodoh ini menyangka kami mengajaknya lomba lari. atau mungkin ia tak pernah belajar untuk mengalah pada mangsanya. ini alasan kenapa saya tidak pernah mau memelihara beruang. biasanya saya lebih tertarik memelihara cicak atau laba-laba dan juga nyamuk. itu karena mereka tidak pernah makan banyak dan protes ketika tidak saya kasih makan, dan memang ada sendiri di rumah (kok malah curhat, bilang ajah ga punya duit om T-T. )

Aku mulai lelah, Lia, Shinta dan juga Ria mulai terlihat tak mampu lagi bertahan. sudah berapa lama kami lomba lari dengan beruang ini, yang ku tahu aku tak sanggup lagi. berlari, apa lagi ini bulan puasa, cacingku mungkin sudah tewas mengenaskan, *(biar tau rasa tuh cacing )
Saat aku melihat ke belakang ternyata beruang sudah tak ada.
Icha: “Haaa… beruang sialan di kerjain kita, pergi ga bilang-bilang, ngapain dari tadi kita lari!” aku teriak kesal.
Icha: “hey…!’ ngapain masih pada lari, emang tidak lelah, beruangnya saja sudah tidak ada!” aku teriak menghentikan langkah kaki teman-temanku yang belum menyadari kalau beruang telah tiada.
kami berhenti, napas tersenggal, jantung memompa deras, kami kelelahan.
Shinta: “ha ha ha kasihan dia paling pulang ngadu mamanya!”
Ria: “bukan, tapi sama bu guru, emang kamu kira dia orang orang!” *kesal.

“yaaa.. teman-teman tamatlah riwayat kita.” aku berteriak sembari menunjuk sebuah bayangan tinggi, besar. Dengan cakar tajam, sang beruang berdiri mengaum di depan kami, memperlihatkan giginya yang tajam, setajam silet! air liurnya menetes, jelas ia lapar dengn penuh amarah. Kami bisa merasakan aumannya yang dapat merontokan bulu ketek monyet dan memutihkan kulit bayi gorila dan juga menggetarkan bulu hidung kami. dari mulutnya bau sekali, saya berani jamin beruang ini- jorse- (jorok sekali) karena tidak pernah menyikat giginya. (sampai sekarang gua juga belum pernah liat beruang sikat gigi, *pake pepsodent lagi)

Entah lewat mana jalannya, sang beruang telah berada di depan kami. ternyata dia menghilang hanya untuk mengalihkan perhatian kami. pintar sekali, berati kami telah dibodohi. (cucok deh :-p)
Kami berdiri ketakutan.. beruang mendekat.. berjalan dengan santai dan yakin sekali mangsanya tidak akan tertolong lagi kali ini… kami diam terpaku, pasrah. tenaga kami terkuras dan kami tidak punya kemampuan untuk melawan. tinggal beberapa meter lagi ia mendekat. jarak kami hanya 3 meter dari wajahnya.
“jangan takut aku lagi puasa kok” (coba seandainya beruang bilang kaya gini, )

Tiba-tiba entah kenapa, sang beruang melotot, seperti melihat sesuatu. berdiri Berbalik dan berlari ketakutan di semak belukar
Shinta: “a.. a.. ada, apaa?”
Icha: “ha ha ha, takut barang kali, padahal tadi mau aku kasih jurus kaki seribu aku,! *bergaya ala kungfu
Ria: “wiiiiiddiiiiihh, jurus apa tuh, kaki seribu!”
icha: “jurus kabuuurr ha ha ha!” *tertawa sambil mengepalkan kedua tangan di tanah
Lia, Ria, Shinta: “gggrrr dasar anak seeetaan!. *icha di gebukin rame rame sampai botak*

Tawa kami terhenti, sebuah tombak yang meluncur hampir melebarkan lobang hidung Ria, sedikit lagi Ria meregang nyawa, dari mana tombaak ini!”
Saat kami melihat ke belakang, mata ku rasanya mau copot, kaki kami bergoyang merinding, aku tak dapat mengatupkan mulutku, Shinta yang ikut-ikutan mangap dari mulutnya keluar laron. (di kira spitank) Lia. ingusnya naik turun kaya anak kecil minta balon. shinta.. lebih parah.. hidungnya mimisan kaya orang lagi dapat jatah bulanan, (tapi jalurnya salah)
Di belakang kami sekumpulan manusia dengan tato putih hitam menyerupai zebra di seluruh badan, rambut mereka keriting melebihi bulu ketek bencong, dan lebih mirip menyerupai bulu terlarang (tapi ga mirip rambut alfred, kalo rambut alfred, terbuat dari sejuta punut kelapa, puass… puasss!, kembali ke laptop)

Mata mereka yang kelihatan putihnya saja, leher mereka sengaja atau tidak tapi ada sebuah kalung bertumpuk dari besi memanjangkan leher mereka, ini lebih mirip leak bali. yang unik lagi. hidung mereka lebar sekali, sebesar lobang hidung gorila, (lebih dikit juga ga apa-apa). dan di tindik dengan tulang.. ukuran tulang itu yang menurutku unik kenapa?, karena panjang, mungkin 30 cm di bagi di kurang dan setelah di kali lagi di ceburin lagi ke wc.. ya mengerikan sekali. itu intinya.

Mereka menatap kami, beberapa di atas pohon, semuanya dengan tombak di tangan, menunggu untuk melempar ke arah kami, jumlah mereka sekitar 2 orang.. (gubraaaaak.)

Sekitar 200 jiwa. entah aba-aba dari mana. mereka teriak seperti orang ketakutan menjerit dan menangis.. membuat suasana di hutang lebih mirip bangsal pembantaian. lapar dan haus (oki jelly drink) membuat kami tak berdaya (kenyang kaya orang hamil juga ga mungkin lolos sich) dan seorang dari mereka, tinggi, besar, paling jelek, maju ke depan. ia menunjuk. berbicara dalam bahasa aneh. beberapa kali ia memukul kepala sendiri, mungkin karena kami diam terpaku menatap langit, barang kali di sana ada jawabnya. (teeeet… teeeeeet hayo ni lagu siapa?, ya, 100 ini lagunya Ebiet g. kaka). (“coba tanya pada rumput yang bergoyang -sampai biji matamu kendor… kepala mengebul karena kepanasan.. tidak akan ketemu jawabannya, mana ada rumput bicara. “maaf bang ebiet, cuma buat lelucon *sujut-sujut sembah”

Entah berapa lama ia ceramah. tapi yang pasti temen-temen di belakangnya. mulai menunjuk marah dan terpaksa ada yang duduk (mungkin sama seperti upacara sekolah, kalo kecapean diam-diam duduk di tengah kerumunan pasang tampang bloon dan tanpa merasa bersalah, terakhir pasang headset di hidung, eh kuping, sambil kepala goyang-goyan nyari sensasi, ya.. walau cuma headset yang tersambung karena hp mati.. atau memang tidak ada musiknya.. ciri-ciri anak sekolah yg alay habis kena ambeyen)

karena lama menunggu kepala suku mereka yang tidak berhenti merocos kaya mercon.. sebuah palu melayang membuatnya pingsan [kok bisa palu melayang. #nah mungkin itu yang buat kepala suku ini pingsan]
Mereka, membunyikan suara seperti terompet dan maju menyerang.
semua gelap… da.. dan… Apa aku sudah mati!.. aku merasa sakit seluruh tubuhku, dan lagi aku seperti melayang.. perlahan-lahan aku membuka mata

“yaaa aku sedang melayang”

kedua tangan dan kaki ku terikat pada sebuah kayu yang di topang dua orang, lebih tepatnya aku mirip seekor babi yang habis di buru, tidak manusiawi sekali, kalau lolos sudah pasti aku akan melapor ke komnasham.
“lepaassskaaan akuu!”
ke mana kami di bawah?
kenapa kami di buru?

Terik matahari membakar. lepas dari beruang malah kami di tangkap suku pedalaman yang ganas, ke mana kami di bawah pergi..?
“Hey lepaskan aku, bilangin.. mamaku nanti..!” sekeras aku berteriak dan meronta tak bisa mengalihkan perhatian mereka.
Di depanku Shinta sama sepertiku, mengantung kaya jemuran baju. di belakangku Lia dan Ria. kami seperti buruan yang berhasil di tangkap.
Shinta: “kira-kira kemana kita akan di bawa pergi?”
Lia: “hey…!, Tidak usah teriak-teriak sakit kupingku?. mungkin mereka manusia kanibal alias pemakan daging manusia…!”
Ria: “uwaah!. mampuslah kita?. hey… lepaskan dagingku tidak enak, aku jarang mandi..! *meronta
Icha: “iyaaa. mungkin kita akan di buat soto ayam, buat berbuka bersama, tolong… tolong… tolong aku orang paling cantik tidak enak dagingnya. makan saja Ria, Lia dan Shinta, mereka masih segar, liat aku kurus…!” suara ku berlari menggema di hutan. tapi mereka tidak menghiraukan.

kami di bawah melewati, sungai, gunung, laut *ga mungkin laut*
Ahirnya saya melihat sebuah pondok perkemahan. anak-anak dan istri mereka menyambut dengan. rambut kriting, hitam, bau dekil, badan di penuhi gambar hitam putih menyerupai zebra, dan lagi penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia haus darah. mengerikan!. Aku merinding, aku tak bisa berteriak lagi, suara dan teriak mereka menahan suara kami. Kami di lepaskan di sebuah kandang, tinggi, luas, sebesar kandang gorila.
Tenagaku habis tak tersisa, tubuh ku tak mampu di geraakan, begitu juga dengan Lia, Shinta dan Ria, kami tergeletak bagai manusia yang tak berpengharapan lagi. kami kelelahan sangat. mungkin sekitar 30 menit. Kami merangkak dan berkumpul di sudut jeruji kandang. kami saling menatap, terdiam piluh. air mata kami jelas belum mngering tubuh kami, bau, rambut urak-urakan. sunguh sangat kacau

Langkah kaki perlahan dan mendekat. seorang wanita cantik, putih bening.. cuma dia sendiri yang berbeda. di belakangnya beberapa orang dengan panah dan tombak dan juga pedang para pengawal yang siap sedia. Wanita itu berdiri di depan kami, melihat kami dengan kepala bergoyang ke kiri ke kanan pelan, lalu ia bangkit tertawa liar dan berbisik pada pangawalnya dengan gerakan yang tak kami mngerti. para pengawalnya terdiam sejenak, saling berbisik dan berlalu meninggalkan sang wanita, ia tersenyum dengan gigi ompong 3 di tengah, sementara gigi yang lain hitam dengan bau wc yang menyengat, membuat kami mual ingin muntah, terdengar cacing di perut teriak minta tolong. mulutnya bau sekali, benar-benar menjijikan, sungguh tak adil.. wanita yang dari luar kelihatan “wah” saat membuka mulut kelihatan “week.. hoooeeekk”
Icha: “widiih bau mulutnya sadis amat, bau got depan rumah aku nih.!”
Shinta: “mungkin ia makan anak jin!”
Ria: “mengharukan sekali, mungkin ia makan bangkai tikus sisa di tabrak mang toyib!”
Icha: “kok bisa mengharukan!”
Ria: “ya, terserah saya donk mau bilang apa?, masalah gitu buat loh!” *bertolak pinggang *gubrak* Ria di lempar bh bencong sama suku pedalaman*
Sang wanita memerhatikan dan berlalu. Beberapa saat kemudian hidungku mencium aroma yang sangat lezat. Rasanya nikmat sekali. sunguh menggoda iman. (opo maneh)

Benar saja, dari balik pintu datanglah hidangan mewah sekali. Kami seperti raja yang di beri makan, mereka memasukan makanan itu, langsung kami sambut dengan suka cita. tanpa protes. saya yakin cacing di perut sudah menunggu dengan iler seember. ini. daging apa..? entah, sudah tersedia dengan potongan kecil dan banyak sekali menu lainnya
Icha: “waduuuh mantap, kalau tau gini, mending dari awal aja kita di tangkap!”
Shinta: “baru kali aku makan dengan benar dan enak lagi!”
Lia: “aduh, kok habis makan, perut ku malah sakit!”
Ria: “dasar perut orang miskin!”
Icha: “makanya sedia promag, sama segelas air!”
shinta: “buat apa tuh!, buat jampe-jampein Lia biar ga sakit perut ya?”
Icha: “bukan pinter, biar cepat hamil!” *gubraaaak.
Ya, kalau lapar, perut melilit, minum ajah itu obat, ha ha ha (iklan)
Shinta: “dasar edan, tapi kira-kira ini makanan apa ya? ini menu kok kaya langka banget, jangan.. jangan!”
Icha: “jangan… jangan apaa?”
Shinta: “ini daging manusia!”
Lia: “jiah jangan bilang begitu, sudah aku makan!” *muntah-muntah darah*

Hampir dua hari kami di sogok makan aneh ini, dan anehnya menu selalu sama. ketika hampir sore menjelang malam kami di ikat dan di bawah ke lapangan, padahal masih kangen d jeruji ini *mau makan enak*

Di lapangan
semua orang mengelilingi nyala api besar.. teriak dan tertawa.. menunaikan upacara.. dengan jingkrak-jingkrak dan teriak mereka yang membuat suasana menjadi mencekam.
“apa yang yang akan mereka lakukan pada kami?”
mereka menyeret kami ke lapangan, dan di sebuah tempat duduk, sang wanita yang mungkin saja kepala suku.. memberi aba-aba pidato dengan suara serak, keras bagai lolongan serigala malam, kami ketakutan setengah mati, gelap suasana menusuk otak.
Icha: “teman-teman apa kalian belum menyadari!”
shinta: “menyadari apa?”
Icha: “berdoalah supaya datang keajaiban lagi, karena sepertinya kita akan di panggang di kobaran api kali ini!”
Lia: “pantas mereka menyogok kita dengan makan, mungkin biar kita tidak mati sebelum lebaran, eh harinya!”
Ria: “ya sudahlah apapun yang terjadi” *bernyanyi, belum sempat selesai di getok palu suku pedalaman*
Lia: “huaaa ha ha. kasihan banget sich Ria di getok, mungkin suaranya jelek, fals lagi, kassi…!” *di getok palu juga sama kepala suku,
Aku dan shinta menahan tawa, melihat Lia dan Ria kesakitan dengan jidat membiru bagai cupangan sang pacar, (hayo ngaku)… mau ngelucu malah kena amuk. kasihan..

Kepala suku, alias wanita itu selesai bicara, entah pidato dan pesan apa yang di sampaikan kami tidak mengerti, bahasa mereka aneh dan tak kami pahami. Kembali kepala suku duduk, dan upacara kembali di lakukan, mereka kembali mengelilingi kobaran api dan berjingkrak-jingkrak, entah upacara apa yang jelas ini bukan upacara 17 agustusan, alasannya tidak ada pembacaan UUD.. di tambah kenaikan bendera merah putih

Kami yang terikat tak bisa bergerak. Empat orang dengan badan besar, tinggi, hitam, dengan samurai dan golok menarik paksa kami, sekarang mereka lebih sadis, rambut kami di tarik dan di seret menyapu tanah beralas rumput yang bergoyang.. ini benar-benar menyakitkan. bahkan beberpa terlihat akan menikmati kami hidup-hidup. Tak sedikit yang berteriak di kuping dan meludah, menjambak dan hampir mengigitku. aku bisa merasakan kengerian mereka sekarang, kami di seret melewati kerumunan. dan di ikat pada tiang sekitar 12 meter yang di bawahnya kobaran api, mungkin mereka akan memanggang daging kami hidup-hidup?”

kami di ikat. mulai di tarik ke atas tiang. kami tak bisa bicara lagi, aku hanya bisa melihat samar-samar ke arah ketiga sahabatku Lia. Ria dan Shinta, Darah mengalir dari mata dan hidung mereka, entah apa yang telah mereka lakukan pada ketiga sahabatku.
“teman teman sampai ketemu di sorga nanti”, aku berkata lirih. menatap mereka penuh sayu.
Perlahan-lahan kami di tarik. semakin meninggi, teriak dan gemuruh suara menggemah semakin cepat. Mataku samar-samar hampir tak melihat karena keringat mengalir membuat mataku pedih, Seorang Anak kecil dari mereka berlari dari barisan belakang, menampakan ketakutan, sejenak semua mata tertuju pada lelaki hitam itu. penuh tanda tanya?

Sang wanita kepala suku. bangkit dan berteriak-teriak dengan bahasa aneh, seperti orang kesetanan. dan yang terjadi beberapa detik kemudian, semua orang yang berkerumun berlari. dan kami di lepaskan begitu saja menghantam tanah, ada apa sebenarnya?. Aku mendengar orang berlari kesana kemari tanpa ada yang peduli pada kami lagi, tangan dan kaki kami yang terikat. membuat kami tak berdaya. seperti cacing di tanah, bahkan langkah kaki mereka menginjak tubuhku. samar-samar aku membuka mata.. ternyata seekor beruang mengamuk liar mengobrak abrik semua yang di laluinya. suara teriak, tangis memenuhi tempat sadis ini.

Aku merangkak ke arah teman-temanku yang tergolek lemah, dengan sisa tenaga aku berteriak
“teman-teman. bangun! kalian mendengarku kan?, ini kesempatan kita untuk lari, Ayoo!”
Tak ada jawaban, hanya suara ribut orang berlari menyelamatkan diri.
Aku menendang mereka pelan dengan kaki ku, tak ada reaksi, mata mereka hanya kelihatan putihnya saja tanpa berkedip. darah mengalir dari hidung dan kuping, mungkin karena jatuh dengan benturan keras, aku menempel pipiku ke hidung mereka, tapi aku tak merasakan aliran udara dari hidung mereka.
“Mereka tewas?” aku menjerit, aku mendekatkan wajaku ke Lia. ada setitik harapan, napasnya masih tersisa walau tersendat-sendat. aku menanggis keras, dan mengoyang-goyangkan tubuh mereka.
Aku memandang sekelilingku.. suasana hening, mayat bergelimpangan, ini seperti kuburan masal,
apa yang telah terjadi?
Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri, meronta dan memaksa untuk terlepas dari tali yang mengikat, akhirnya aku dapat terlepas juga, Aku melihat tempat ini bagai kapal pecah, seperti habis terkena tsunami hebat. Beberpa gerombolan beruang masuk kembali ke dalam hutan dengan mangsa di mulut mereka.

Aku membuka ikatan tali yang mengikat di tangan Lia. Aku menepuk pipi nya pelan, “hey lia.. bangun!” kita harus lari dari sini dari tempat terkutuk ini”
Tak ada jawaban, aku menyeretnya ke tempat sepi, di balik semak belukar, Aku tak tahu harus bagaimana, aku menekan dadanya berulang-ulang, Lia tersendak, memuntahkan darah dari mulutnya dan perlahan membuka matanya.
Lia: “ada apa denganku?”, apa sekarang kita di surga?”, aku melihat cahaya putih..?”
Icha: “ah.! lebay banget? Apanya yang cahaya?, kita masih di sini, orang-orang menyeramkan tadi entah ke mana? yang penting sekarang kita lari dari sini”
Lia: “terus bagaimana dengan yang lain?”
Icha: “lupakan mereka, saatnya kita bilang wouuw* bukan-bukan*” mereka sudah meninggal.
lia: “APAAA!,. meninggal?!” Lia terbangun dengan mata melotot tiba-tiba. membuatku takut, aku kaget setengah hati.
Icha: “kita harus kabur, sekarang, terpaksa kita meninggalkan mereka di sini?”
Lya: “(plaaaaaak)!”, apa kamu bilang meninggalkan mereka?, dasar tidak punya hati kamu. “Lia menampar dan melihatku dengan marah
icha: “ya?, sudah kamu kembali ke sana dan akan di tangkap manusia kejam itu lagi”
Tanpa mendengar perkataan ku Lia berputar dan berlari ke ara tubuh Ria dan shinta, aku terpaksa mengikutinya, walau takut ketahuan, Lia memeluk tubuh kedua sahabatku Ria dan Shinta erat-erat,,
“ria… shinta, ayo bangun mari kita buat cerita ini ending dengan bahagia..!” Sekeras Lia memanggil tak ada suara, suasana hening sekali, entah aku harus bagaimna. aku menatap Lia mencoba memeluknya, “aku tak ingin petualangan kita berakhir dengan kematian!”

Suara derap kaki secara liar mendekat, saat aku dan Lia menengok jarak di belakang kami beberapa ratus meter, segerombolan manusia berlari, Aku menarik paksa tangan Ria dan Shinta menyeret mereka ke tempat sepi, Aku dan Lia menopang tubuh kedua temanku ke dalam hutan belantara. di belakang kami manusia kanibal mencari. Aku dan Lia bersembunyi di balik sebuah batu besar, melihat mereka mengejar dan menghilang di gelap malam, Aku terkulai lemas, membaringkan tubuhku di batu besar, Ada pergerakan dari Ria dan Shinta, tubuh mereka tersendat dan memuntahkan darah dari mulut, tersadar dengan memegang kepala mereka
Icha: “terima kasih tuhan, kau telah kembalikan mereka” *menghapus air matanya.
LIA: “udah lah Icha, tidak usah di sesali lagi, sekarang kita harus istrahat dulu. Lagi pula Ria dan Shinta baru sadar. Lia memeluk tubuhku erat, aku bisa merasakan kegembiraannya Kini,

Aku, Ria, Shinta dan Lia kembali menyusuri hutan, berjalan pelan, sambil menopang Ria dan Shinta yang belum pulih. kami menemukan air terjun, kami berlari pelan menyegarkan tubuh kami, memancing dan menikmati makan ikan walau kecil dan terlelap menunggu pagi menjelang.
Ketika pagi tiba, aku, Shinta, Ria dan Lia kembali menyusuri hutan, kami menemukan perkemahan kami rusak berat. tapi tidak ada mayat, mengerikan sekali kondisinya,
“apa yang telah terjadi di sini!?” ke mana kami harus pegi!?”

Kami berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak, aku masih ingat saat pertama harus melewati jalan ini. dan
yang harus kami lakukan sekarang adalah menemukan bantuan untuk pulang. kalau tidak?, kami akan mengering di sini, mungkin mati perlahan atau mati di buru hewan lapar. Di beberapa meter, Sebuah pohon besar menawarkan keindahannya, kami termenung sepi. hening sekali di sini, jarak kami terpisah beberapa meter. aku dapat merasakan kesedihan di hati Lia, beberapa kali ia menghapus air matanya yang mengering. membuat kecantikannya sedikit pudar oleh kesedihan. Aku mendekati dan merapikan rambutnya serta menghapus air matanya. *adegannya kaya le*bi*
Icha: “kenapa kamu biarkan air mata ini merusak cantikmu!”
Lia: “aku sedih sekali…!. *menangis, kembali menunduk
Icha: “sudahlah, kita telah melewati beberapa episode dengan menghibur teman-teman yang membaca ini, mereka pasti akan ingat kelucuan dan tingkah bodoh kita,
Lia: “bukan itu masalahnya Icha, yang cantiknya maksa banget”
Icha: “weeekk, biarin..? ada apa sich!
Lia: “aku lagi ngidam makan banyak.
Icha: “bilang aja laper!, sekarang kita harus melanjutkan kisah kita, kasihan ka alfred tangannya udah kriting, udah jadi jempol semua, cuma buat menulis ini, mata belo, karena bikin cerita ini (maksih-makasih :-p)”

Kami kembali melanjutkan perjalanan melelahkan. turun gunung, naik gunung, di tengah-tengahnya pulau jawa? membuat seluruh tubuh ku rasanya mau putus.
Icha: kenapa ya?, alfred ga munculin ajah tukang jual asongan.”
LIA: “lho kok gitu, kita ga lagi di pasar. kan!” *geleng-geleng
icha: “ya, maksudnya ada tukang jual gitu biar kita bisa beli. *ide buruk sekali*
Lia: “sekalian aja munculin peter parker, tinggal bawa kita pulang ke rumah. lalu End dengan bahagia, *hadeehh!* penulis, pemeran sama pembacanya sama steras.. *strees x ah.

Di saat kami sedang bercanda gurau, tanpa terasa kami sampai pada sebuah tempat, beberapa meter air terjun mungkin 30 meter ke bawah, beberapa meter di sebuah lembah di depan kami. sebuah perkemahan. beberapa orang sedang menggotong manusia yang mati, dan dikelilingi orang banyak. beberapa saat mereka berteriak dan berdansa. mirip sekali dengan upacara yang kami alami di tempat suku kanibal

Kami tertegun memandang dari balik pohon rindang ini. saling menatap tak mengerti. beberapa saat mereka pergi ke tempat masing-masing meninggalkan beberapa mayat tergeletak begitu saja di tanah..
Lia: “kejam sekali, apa yang mereka lakukan?”
Icha: “yang harus di tanyakan.. mayat-mayat itu memang telah mati atau memang sengaja di bunuh?”
Lia: “mungkin mereka mempersembahkan pada beruang yang di anggap dewa bagi mereka, mengerikan sekali.

Terdengar sebuah terompet yang menggema di seluruh hutan. dan keaadan menjadi sepi.. hening sekali, sampai Tiba-tiba dari dalam hutan beberapa gerombolan beruang berlari datang dan membawa mayat-mayat itu ke dalam hutan di mulut mereka, Aku menelan ludah, ternyata merekalah yang memberi makan beruang-beruang itu, pantas saja beruang-beruang itu selalu haus darah, kami tertegun menarik napas panjang dan mengeluarkan dari belakang *ampasnya ikut ga ya, bau… bau… bau.. ketahuan makannya paling singkong. *nasib orang suseh*

Saat kami menengok ke belakang, kami kaget, tak bergerak, seekor beruang raksasa, tinggi besar, menunggu kami dengan air liur yang berjatuhan, menatap tajam ke arah kami, air liurnya mengalir semakin deras, sudah di pastikan beruang ini tidak puasa.. dan ia siap menerkam kami dari belakang. belum lagi hilang rasa ketakutan kami. di belakang muncul lagi seekor beruang tidak kalah ganteng eh mengerikan sedang membaca koran, mungkin menungu temannya menyerang dan dia hanya ikut bukber (buka bareng)

Aku menepuk Tangan Lia karena kakinya gemetaran dan giginya berdetak tak beraturan. matanya melotot tajam.. padahal aku juga takut.. bagaimana tidak.. bagaimana kami bisa lolos dari binatang liar ini, kami di tiup saja sudah melayang. beberapa meter di belakang kami sebuah air terjun mengalir jatuh ke bawah dengan deras, mungkin kami akan langsung mati. jika terjun ke sana. karena tinggi sekali. tapi tidak ada cara lain. dan itu juga kalau kami berhasil lari lebih kencang dari beruang.
Icha: “tidaaaak ada cara lain, kita melompat’.. siapkan tenagamu larilah sekuatnya!” sebelum aku selesai berkati eh berkata Lia sudah berlari di ikuti Ria dan Shinta dengan jurus kaki seribu mereka.
berlari dengan begitu cepat, dapat tenaga dari mana mereka*
“heyy… tolloong…?” kataku menyusul tak kalah hebatnya berlari
LIa: “lariiii… yg kencang. bodoh!.. selamatkan dirimu.. !” *teriak.
cha: “waaaah.. siaaalaan, awaas kalian, kalau aku mati duluan aku akan menggentayangi kalian tiap malam, setaaan!” *melempar batu*

Kami berlari begitu cepat, menyusuri semak belukar, sedikit lagi di depan. sebuah air terjun. aku tak menghiraukan apa beruang mengejar atau tidak. aku menengok sebentar, “waaaahh, ternyata mereka mengejar. *lari ngengkang-ngengkang
“Uwaahhhh” terdengar suara Ria di depan. ia telah berlari mendahuluiku. saat aku dekat, ternyata ia jatuh, kakinya tersangkut batu hidungnya berdarah dengan benjol di jidat sebesar bola basket. Shinta langsung menarik temannya untuk berlari kembali.

Langkah kami terhenti.. aku menarik tangan Shinta karena hampir terjatuh ke jurang air terjun di depan kami. sebuah air terjun dengan kedalaman hampur 30 sampai 40 meter begitulah kalau di ukur dengan meteran kayu. *penggaris aja sekalian*

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap Lia, Shita dan Icha, menggandeng tangan mereka, mengangukan kepala dan..
“looooooo… nn. caaaaaaaatttt”
Semua seperti slow motion. aku melihat bibir mereka memble-memble (bahasa apa memble*dower) kaya biebir justin.
Rambut kami tertiup angin. seperti kuntilanak dengan rambut berdiri..
“Byuuuuuuuuurrr” kami tengelam. jatuh membelah aliran air. dalam sekali.. rasanya aku menyentuh dasar.. tumpahan air terjun dari atas begitu keras, menghanyutkan tubuh kurusku seperti kertas.. mataku perih, aku mencari celah untuk keluar.. pusaran air menarik tak tau arah. aku berusaha dengan sisa tenaga yang ada.. napasku hampir habis, aku seperti akan mati. cahaya putih seperti di atasku *lebay*
Pandanganku hilang, aku tak mampu lagi, ada tangan menarik. melayang dan berputar. Menarik ragaku ke permukaan. Aku tersendak, mengeluarkan air dan ikan dari mulutku *untung buka alfred yang keluar, udah kya jin 76*
Pipiku di tepuk dan aku dapat melihat Mereka dengan rambut terurai.. dengan senyum sinis padaku.
Lia: “udah bngun?, jangan alay deh, kalau tidak, aku akan meninggalkanmu di sini”
Icha: “ia, ia, ia, ga bisa liat orang akting dikit apa?” *kesal. *bangun tiba-tiba
Shinta: “ah… alay betul nih anak!

Langit mulai malam.. mentari mulai berhenti bersinar.. kami merebahkan diri di pinggir sungai. melelahkan sekali tubuhku, sungguh ini kisah luar biasa dalam hidupku. kami kembali menysuri aliran sungai, mencari makan, Ria menemukan sebuah tombak, dengan mata runcing sangat tajam, Aku membawanya untuk perlindungan di jalan.

Sejauh kami berjalan tak ada ujungnya. Aku, Ria dan Shinta berteduh pada sebuah tempat dengn pohon besar, untuk merebahkan diri
Lia: “gimna ya keadaan di rumah?, sungguh saya rindu sekali, saya juga rindu pada ortu, apa mereka sibuk ya?”
Shinta: “ini episode terakhir kita, sungguh aku akan merinduhkan kisah ini kembali.. percayalah bagaimana juga, kita harus bisa keluar dari tempat ini?”
Shinta memengang tangan Lia. “apa pun yang terjadi berjanjilah kau tak akan meninggalkanku?”
Lia: “memang kenapa Shinta, sudah kaya le*bi nih kita? Nanti beruangnya cemburu”
Shinta: “ha ha ha, ada-ada aja!” sampai beruang cemburu, anak seetaan, pede gilee” Kami tertawa liar

matahari telah menghilang, di gantikan bulan. di sini begitu sepi, deras tubrukan air sungai, sedikit suara binatang malam. indah sekali, terasa sangat kurang di malam dingin ini.. tak ada pencahayaan.. tak ada makanan.. hanya pertolongan. ku harap tombak ini dapat menolong kami.

Ria: “cepat sembunyi, bahaya!” *berbisik
Ria menarik tangan Icha dan kami bersembunyi di celah batu.
beberapa orang Manusia sekitar 10 sampai 15 berjalan di atas air terjun. suara mereka tak jelas, namun mampu membangunkan binatang malam, cahaya obor di tangan mereka dan tombak, mungkin mereka pemburu.
Lia: “tooo… loong… tooo…” aku cepat-cepat membungkam mulut Lia dengan sepatuku.
Icha: “dasar tolol, mau mati yua!” ngapain minta tolong, sudah pasti mereka orang jahat.. aduuh… mampus kita, tuh liat mereka behenti” *menunjuk
Cahaya obor mereka berhenti, hening. mereka kembali melanjutkan jalan mereka. aku menarik napas dalam. “untung ga ketahuan”

Kami akan keluar, namun Shinta sekarang yang menarik tanganku untuk bersembunyi.
Shinya: “awas.. cepat..!, aku melihat seekor beruang mendek… t”
sebelum la melanjutkan kata-katanya, sang beruang telah menemukan persembunyian kami, matanya seakan menyala, beruang tak memberi kami waktu berpikir, ia mengangkat dan menyingkirkan batu yang menghalangi kami bersembunyi.
“huaaaaa… tolong… ”
Aku tersandung. beruang menyerang di gelap malam, sebuah pukulan dari tangan beruang mampu menghantam menghempaskan tubuh Ria. untung hanya menggores sedikit wajahnya, aku bangkit dan berlari menarik Ria, kalau tidak, sebuah cakaran lagi akan menembus tubuhnya.
Sang beruang makin marah, sebuah cakaran merobek lenganku, “aahhaccckk” lenganku kananku hampir putus. Lia dan Shinta menyeretku ke dalam hutan. Derap kaki sang beruang menggetarkan bulu hidung kami.
Tanah terasa bergoyang. jalan yang tajam dan basah. membuat kami terpojok.. kami hampir terkejar, beberapa kali sang beruang hampir menyeret bajuku. untung Lia, Shinta dan Ria memukul keras tangannya dengan kayu. serta batu di dekat mereka.
kami kembali terpojok.. kaki Lia terkilir karena terjatuh. beruang semakin mendekat. aku merasa ia akan menyantap kami, mungkin dia belum buka puasa, aku dan Lia terpojok pada sebuah pohon, ayunan sang beruang membuat dahan patah, untung kami cepat menunduk dan menghindar.. meski dahan itu hampir menimpa Shinta. membuatnya melotot
Suara beruang melolong, ia makin marah, menyerang lagi dan menjatuhkan tubuh Lia beberapa meter. Lia terhempas jauh menghantam tanah, Ria yang hendak menolong, mendapat cakaran di pelipis kirinya.
“lia bertahanlah tolong jangan mati!” Shinta berteriak, mencoba membangunkan Lia yang terkulai tak bisa bergerak.

Aku meraih tombak,.
Aku berusaha agar binatang tidak menyerang Lia, Ria dan Shinta yang semakin terpojok. kalau tidak mungkin satu cakaran lagi. Lia akan benar-benar tewas, di ikuti Ria dan juga Shinta berikutnya. aku berusaha menakut-nakuti beruang, dengan tombak di tanganku, rasanya aku tak kuat mengangkat tombak ini, tangan kananku terus mengeluarkan darah. menjalar sampai ke tulangku, mataku kunang-kunang. samar-samar akan hilang.
Beruang menyerang, ia mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan menyerangku yang mengusik dirinya.

Aku menacapkan tombak di tanah, mengakibatkan sang beruang melolong panjang saat tubuh yang di angkat tinggi ingin menimpaku, malah tubuh sang beruang tertancap di tombak, aku tertimpa tubuh beruang, aku tak bisa bergerak, cairan darah beruang dari tombak menyembur bagai air mancur,. tak ada pergerakan.. aku berusaha menyingkirkan tubuh sang beruang yang menimpa kakiku. aku berhasil, ternyata tombak menembus leher sang beruang hingga ke belakang lehernya. sang beruang ambruk. bagai pohon jatuh. menggema di seluruh hutan.

Ria, Shinta, terkulai lemah. sementara Lia jatuh lemas di tanah, aku merangkak ke tubuh Lia.. menepuk pipinya. “lia,! kamu jagan mati!” banguuun, jangan kamu pergi”
Shinta dan Ria merangkak mendekat padaku. “kamu berhasi. ll…?” kata Ria pelan di kupingku.
Lia tersendak “di mana ini.. apa kita di perut beruang?” membuat Kami tertawa
Aku merebahkan tubuhku di samping Lia, beruntung sekali, aku tak menyangka dapat membunuh beruang itu

Cahaya senja mengusik kedua mataku lewat jendela kamar, kepalaku terasa pusing. Saat aku membuka mataku. Aku, Ria, Shinta dan Lia sudah berada di sebuah rumah sakit. kami harus di rawat beberapa bulan karena luka yang kami alami. Kak Ketua datang dan meninju kaki Lia yang patah, sampai ia mau nangis karena kakinya memang di balut karena patah, membuat kami tertawa kencang.
Lya: “aaahh, tolong, toolong, ada manusia yang lebih kejam dari beruang!, semua mata memandang ke arah kami, tertawa begitu lepas, melihat Lia teriak. karena kakinya di tinju kaka Ketua.
Setelah di ceritakan, ternyata kami di tolong tim SAR yang kami kira suku pedalaman, “coba waktu itu mereka menemukan kami, pasti kami tidak perlu di rumah sakit ini” begitulah yang kami tahu dari kaka Ketua.

TAMAT

Pembuat: Alfred Pandie